Wednesday, 4 May 2011

Labuh (sambungan).....

Saya berumur 16 tahun. Masih bersekolah di sebuah sekolah di kawasan Segamat. Sebenarnya aku memang apa apa pasal sex. Tapi aku mempunyai sebuah pengalaman yg amat manis buat diri aku. Kisah itu berlaku semasa saya masih di dalam tingkatan 1. Pengalaman yg manis ini akan ku kenang sehingga bebila masa. Baiklah tanpa membuang masa lagi, baik aku terus bercerita tentang pengalam aku tu. Kisahnya bergini. Kebiasaannya pada setiap petang aku sering pergi ke padang sekolah utk menjalani latihan bola sepak. Apa hari menunjukkan senja aku segera mengambil keputusan utk pulang. Apabila saya tiba di rumah, kelihatan pintu rumah saya di kunci.

Aku mulai risau. sambil memikirkan di maana aku nak tidur. Dan saya ternampak sekeping nota yg bertulis "Hari ni mak takde. Mak gi party ngan abah ko. Ko tinggal la ngan akak Ita kat sebelah rumah kita tu. Mak dak kabo kat dia". Nasib saya memang baik, lantas saya pun terus pergi dan mengetuk pintu rumah Kak Ita. Tidak sampai beberapa saat Kak Ita terus membuka pintunya. Dan terus melawa saya supaya masuk. Setelah saya masuk saya terus menegur Kak Ita, "Kak Ita buat apa tu?" " Akak tengah tengok video la" "Cerita apa Kak" "Alah cerita org tengah kahwin.." jawab Kak Ita. "Man nak tengok ke?" pelawanya. Aku menganggukkan kepala dan terus Kak Ita menyuruh aku masuk ke bilik tidurnya. "Kau tengok dulu, akak nak mandi kejap. Kang kau pula mandi ye..." kata Kak Ita.


Aku pun terus membuka tv dan aku terus terkejut dengan aksi 'orang kahwin' tu. "Ohh !!! Begini rupanya hubungan sex" kata ku di dalam hati. Secara tidak sengaja aku mengalami perasaan yg ghairah. Kemaluan aku terasa tegang. Aku pun terus memasukkan tangan ku kedalam seluar dan megurut urut kemaluan ku. Tanpa tidak disedari Kak Ita sedang memerhatikan aku. Dan terus menegur aku, "Ehem...buat apa tu?", aku terkejut sambil malu. Kak Ita ketika itu telah melengkapkan pakaiannya dengan seluar trax dan berbaju t-shirt. Kak Ita terus memerhatikan aku seperti membuat sesuatu. Aku terus risau kalau kalau Kak Ita memberitahu keluarga ku. Kak Ita terus duduk di sebelahku dan berkata "Man nak cuba ke cam diorang buat tu". Aku mengeling kan kepala. "Takpe, akak tak kisah. Man tak nak takpe. Tapi Man tolong urut kan badan akak ni. Boleh ye?". Aku menurutkan sahaja perintahnya. "Man kau urut kaki akak ni dulu". Aku pun urut la. Sambil aku mengurut, Kak Ita terus mencabut baju yg di pakainya sambil berkata, "Man kat belakang ni pula" Aku pun urut dan Kak Ita membuka coli yg dipakainya. Aku lihat secara 'live' buah dada Kak Ita yg agak melayut sedikit. "Man kau urut kat sini", sambil menujuk kearah buah dadanya. Aku pun urut. "Man ramas aje" "Baik Kak". Aku pun meramas buah dadanya. Perasaan aku amat ghairah melihat buah dada Kak Ita. Aku pun terus meramas dan aku lihat buah dada Kak Ita semakin besar, sebesar buah kelapa.

"Man kau nak cuba ke? Alah macam diorang buat tu. La..akak tak kisah. Akak nak ajar Man aje." Aku pun menganggukkan kepala. Aku cuba melakukan seperti yg di buat oleh mereka yg di dalam video tadi. Aku menjilat jilat buah dadanya dam Kak Ita meraba raba badanku. Tanpa aku sedari zip seluar ku telah di bukanya dan di urut oleh Kak Ita. "Man kau baring pula". "Iye" Kak Ita terus memgang sambil mengulum batang aku. Aku terasa sungguh sedap. Bukan sahaja batabg aku yg di kulum dan jilat tetapt seluruh anggota badan ku dijilat. Sehinggakan lubang buntut ku di jilat dan Kak Ita pula terus memasukkan jarinya kedalam lubang buntut ku. Aku tersa ransangan yg amat sangat. Setelah itu, Kak Ita membuka seluarnya dalam menarik seluardalamnya dan mencampakkanya kebawah lantai. "Man kau jilat kat sini" Jari Kak Ita menunjuk ke arah pantatnya. Aku pun terus menjilatnya dan sesekali aku memasukkan lidahku kedalam lubang pantatnya. Kak Ita bergerak gerak dan meraung sedikit. "Emm..emm..emm...sedapnya..jilat lagi Man...ahhh..ahhhh!!!! Aku lihat seperti ada lendir yg keluar. Aku rasa ini la air mazi. Setelah itu Kak Ita menyuruh aku memasuk kan kemaluan aku kedalam lubang pantatnya. Kak Ita berbaring dan aku cuba cuba masuk tetapi aku takut. "Masukkan aje....tekan kuat kuat....kau tau kan?"

"Ye Kak" Aku pun memasuk dalam pantatnya dan menghentakkan kuat kuat. Kak Ita meraung. Aku biarkan aje. Aku pun terus medayung. Placap...placup...placap...plcup. Aku terasa air mazi yg keluar dari lubang pantatnya keluar tanpa henti henti. Aku terus kan dayungan. "Man kau baring pula" Aku pun baring pula sambil Kak Ita terus duduk sambil memasukkan batang ku kedalam pantatnya. Hem...emm...emmm...ahhhh..haahhh!!!!. Dengus Kak Ita sambil menghenjutkan badannya. Aku terasa kesedapan. Aku tak tahan lagi rasa kesedapannya. Dan aku tersa sesuatu yg terkeluar dari batangku. Kak Ita terus menghenjut. Tanpa disedarinya aku telah memancutkan air mani ku kedalam pantatnya. Kak Ita terberhenti dan terus mengeluarkan batang ku dari lubangnya. Air mani ku terus keluar tanpa henti. Kak Ita terus memasukan batangku kedalam mulutnya dan menghirup air mani ku. Setelah air mani aku berhenti Kak Ita terus meraba dan mencium mulut ku. Aku membalas.........dan aku kepenatan, juga Kak Ita. Aku pun terus mengenakan pakaianku dan Kak Ita keluar dari biliknya dalam keadaan berbogel. Selepas itu Kak Ita masuk dan berkata "Man kalau kau nak lagi, boleh. Man terus jumpa akak. Nanti kita buat lagi ye. Aku mengangguk. Selepas dari kejadian itu aku sering ke rumah Kak Ita utk melakukannya. Hampir setiap hari. Dan ku telah merasa juga kehebatan kawan kawan Kak Ita. Aku berbuat begitu sehinggalah aku tingkatan 2. Pada masa itu aku tak dapat melakukanya lagi kerana Kak Ita telah berpindah. Sehingga hari ini aku masih dahagakan sex

Permainan Cinta Di Kamar Mandi

Halo kenalkan, aku Panji Anugerah (nama samaran). Seorang pria berusia 37 tahun, menikah, dengan seorang wanita yang sangat cantik dan molek. Aku dikaruniai Tuhan 2 orang anak yang lucu-lucu. Rumah tanggaku bahagia dan makmur, walapun kami tidak hidup berlimpah materi.
Boleh dibilang sejak SMA aku adalah pria idaman wanita. Bukan karena fisikku yang atletis ini saja, tapi juga karena kemampuanku yang hebat (tanpa bermaksud sombong) dalam bidang olahraga (basket dan voli, serta bulu tangkis), seni (aku mahir piano dan seruling) dan juga pelajaran (aku menduduki peringkat ketiga sebagai pelajar terbaik di SMAku). Bedanya waktu di SMA dahulu, aku tidak terlalu tertarik dengan hal-hal seperti seks dan wanita, karena saat itu konsenterasiku lebih terfokus pada masalah akademisku.

Bakat playboyku mulai muncul setelah aku menjadi seorang kepala rumah tangga. Aku mulai menyadari daya tarikku sebagai seorang pria normal dan seorang pejantan tangguh. Sejak diangkat sebagai kabag bagian pemasaran inilah, pikiran-pikiran kotor mulai singgah di otakku. Apalagi aku juga hobi menonton film-film biru.

Wanita lain yang sempat hadir dihatiku adalah Maya. Dia adalah rekan kerjaku, sesama pegawai tapi dari jurusan berbeda, Accounting. Dia berasal dari Surakarta, tinggal di Bandung sudah lama. Kami sempat menjalin hubungan gelap setahun setelah aku menikah dengan Lilis, istriku. Hubungan kami tidak sampai melakukan hal-hal yang menjurus kepada aktivitas seksual. Hubungan kami hanya berlangsung selama 6 bulan, karena dia pindah ke lain kota dan dinikahkan dengan orang tuanya dengan pria pilihan mereka. Dasar nasib!!! Niatku berpoligami hancur sudah. Padahal aku sudah berniat menjadikannya istri keduaku, walau istri pertamaku suka atau tidak. Karena frustasi, untuk beberapa bulan hidupku terasa hampa. Untungnya sikapku ini tidak bertahan lama, karena di tahun yang sama aku berkenalan dengan seorang teman yang mengajariku gaya hidup sehat, bodybuilding.

Saat itu, sekitar tahun 1998, yang namanya olahraga fitness, bukanlah suatu trend seperti sekarang. Peminatnya masih sedikit. Gym-gympun masih jarang. Sejujurnya aku malas berbodybuilding seperti yang dilakukan temanku itu. Apalagi saat itu sedang panas-panasnya isu politik dan kerusuhan sosial. Belum lagi adanya krismon yang benar-benar merusak perekonomian Indonesia. Untungnya perusahaan tempatku bekerja cukup kuat bertahan badai akibat krismon, hingga aku tidak turut diPHK. Namun temanku yang sangat baik itu terus memotivasiku, hingga tak sampai 3 bulan, aku yang tadinya hanya seorang pria berpostur biasa-biasa saja-walaupun aku bertubuh atletis, menjadi seorang atlet bodybuilding baru yang cukup berprestasi di kejuaraan-kejuaraan daerah maupun nasional. Hebatnya lagi kantorku dan seluruh keluargaku ikut mendukung semua aktivitasku itu. Kata mereka "kantor kita punya Ade Rai baru, hingga kita tidak perlu satpam atau bodyguard baru" suatu anekdot yang sudah menjadi santapanku berhari-hari.

Semakin berlalunya waktu, aktivitas bodybuilderku kukurangi. Apalagi aku sudah diangkat menjadi kabag pemasaran sekarang, di mana keuntungan mulai berpihak pada perusahaan tempatku bekerja. Aku mulai bertambah sibuk sekarang. Namun untuk menjaga fisikku agar tetap bugar dan prima, aku tetap rutin basket, voli, dan bersepeda. Hanya 2 kali seminggu aku pergi ke tempat fitness. Hasilnya tubuhku tetap kelihatan atletis dan berotot, namun tidak sebagus ketika aku menjadi atlet bodybuilding dadakan.

Sewaktu aku menjadi atlet bodybuilding, banyak wanita melirikku. Beberapa di antaranya mengajakku berkencan. Tapi karena saat itu aku sedang asyik menekuni olahraga ini, tanggapan dan godaan mereka tidak kutanggapi. Salah satu yang suka menggodaku adalah Mia. Dia adalah puteri tetangga mertuaku. Baru saja lulus SMA, dan dia akan melanjutkannya ke sebuah PTn terkenal di kota Bandung. Gadis itu suka menggoda di setiap mimpiku dan bayangannya selalu menghiasi pikiranku saat aku menyetubuhi istriku. Kisahku dengan Mia akan kuceritakan lain waktu.

Seperti biasanya, aku bangun pagi. Pagi itu aku bangun pukul 04.30 pagi. Setelah cuci muka, aku mulai berganti pakaian. Aku akan melakukan olahraga pagi. Udara pagi yang sehat memang selalu memotivasiku untuk jogging keliling kompleks perumahanku. Dengan cuek aku memakai baju olahraga yang cukup ketat dan pas sekali ukurannya di tubuh machoku ini. Kemudian aku mengenakan celana boxer yang juga ikut mencetak pantatku yang seperti dipahat ini. Aku sengaja bersikap demikian demi mewujudkan impianku, menggoda Mia dengan keindahan tubuhku. Menurut kabar, dia juga suka jogging. Niatku bersenang-senang dengan Mia memang sudah lama kupendam. Namun selama ini gadis itu selalu membuatku gemas dan penasaran. Dia seperti layangan yang diterbangkan angin, didekati menjauh, dijauhi mendekat.

Tak berapa lama jogging, tubuhku pun sudah mulai keringatan. Peluh yang membasahi kaus olahragaku, membuat tubuh kokoh ini tercetak dengan jelas. Aku membayangkan Mia akan terangsang melihatku. Tetapi sialnya, pagi itu tidak ada tanda-tanda Mia sedang berjogging. Tidak kelihatan pula tetanggaku lainnya yang biasa berjogging bersama. Padahal aku sudah berjogging sekitar 30 menit. Saat itu aku baru sadar, aku bangun terlalu pagi. Padahal biasanya aku jogging jam 06.00 ke atas. Dengan perasaan kecewa aku balik ke rumah mertuaku. Dari depan rumah itu tampak sepi. Aku maklum, penghuninya masih tertidur lelap. Tadi pun saat aku bangun, tidak terdengar komentar istriku karena dia sedang terlelap tidur setelah semalaman dia menemani anakku bermain playstation. Saat aku berjalan ke arah dapur untuk minum, aku melihat ibu mertuaku yang seksi itu sedang mandi. Tampaknya dia sudah bangun ketika aku berjogging tadi.

Kamar mandi di rumah mertuaku memang bersebelah-sebelahan dengan dapurnya. Setiap kali anda ingin minum, anda harus melewati kamar mandi itu. Seperti disengaja, pintu kamar mandi itu dibiarkan sedikit terbuka, hingga aku bisa melihat bagian belakang tubuh molek mertuaku yang menggairahkan itu dengan jelas. Mertuaku walaupun usianya sudah kepala 4, tapi masih kelihatan seksi dan molek, karena dia sangat rajin merawat tubuhnya. Dia rajin senam, aerobik, body language, minum jamu, ikut diet sehat, sehingga tak heran tubuhnya tidak kalah dengan tubuh wanita muda usia 30-an.

Melihat pemandangan syur itu, kontan batangku mengeras. Batang besar, panjang, dan keras itu ingin merasakan lubang hangat yang nikmat, basah, dan lembab. Batang itu juga ingin diremas-remas, dikulum, dan memuncratkan pelurunya di lubang yang lebih sempit lagi. Sambil meremas-remas batangku yang sudah mulai tegak sempurna ini, kuperhatikan terus aktivitas mandi mertuaku itu. Akhirnya timbul niatku untuk menggaulinya. Setelah menimbang-nimbang untung atau ruginya, aku pun memutuskan nekat untuk ikut bergabung bersama ibu mertuaku, mandi bersama. Kupeluk dia dari belakang, sembari tanganku menggerayang liar di tubuh mulusnya. Meraba mulai dari leher sampai kemaluannya. Awalnya ibu mertuaku kaget, tetapi setelah tahu aku yang masuk, wajah cantiknya langsung tersenyum nakal.

"Panji, nakal kamu" katanya sambil balas memelukku. Dia berbalik, langsung mencium mulutku. Tak lama kami sudah berpagut, saling cium, raba, dan remas tubuh masing-masing. Dengan tergesa kubuka bajuku dibantu mertuaku hingga aku sudah bertelanjang bulat. Batangku pun mengacung tegang, besar, dan gagah.

Kami pun melakukan pemanasan sekitar 10 menit dengan permainan oral yang nikmat di batangku, sebelum kemaluannya kutusuk dengan batangku. Permainan birahi itu berlangsung seru. Aku menyetubuhinya dalam posisi doggy style. Aku merabai payudaranya yang kencang itu, meremas-remasnya, mempermainkan putingnya yang sudah mengeras. 30 menit berlalu, ibu mertuaku sudah sampai pada puncaknya sebanyak 2 kali. 1 kali dalam posisi doggy, 1 kali lagi dalam posisi berhadap-hadapan di dinding kamar mandi. Namun sayangnya, batangku masih saja mengeras. Aku panik karenanya. Aku khawatir jika batangku ini masih saja bangun sementara hari sudah mulai pagi. Aku khawatir kami akan dipergoki istriku. Rupanya mertuaku mengerti kepanikanku itu. Dia kembali mengoral batangku yang masih bugar dan perkasa ini, lalu dia berbisik mesra,

"Jangan khawatir panji sayang, waktunya masih lama" katanya nakal.
Aku bingung mendengar ucapannya, tapi kubiarkan aktivitasnya itu sambil terus mendesah-desah nikmat. Tiba-tiba ibu mertuaku menghentikan perbuatannya itu. Dia langsung berdiri. Melihat itu, aku pun protes,
"Lho, bu, aku khan belum keluar?" suaraku parau, penuh birahi.
"Sabar sayang, kita lanjut di kamarku saja yuk" katanya mesra.
Aku pun tambah bingung. "Tapi khan ada bapak?" suaraku masih saja parau, karena birahi.

"Tenang saja, bapakmu itu sudah pergi tak lama setelah kamu jogging tadi, dia ada tugas ke Jawa" sahut ibu mertuaku sambil mengemasi pakaian olahragaku yang tercecer di kamar mandi dan kemudian menggandengku ke arah kamarnya. Begitu sampai di kamarnya, aku disuruhnya telentang di ranjang, sementara dia mengelap sisa-sisa air, keringat, dan sabun di tubuhnya dengan handuk kering yang sudah ada di kamarnya. Lalu dia melakukan hal yang sama padaku. Setelah itu dia langsung saja mengambil posisi 69, mulai mengoral batangku kembali. Tak lama nafsuku pun bangkit kembali. Kali ini aku bertekad akan membuat mertuaku keluar sampai tiga kali. Aku memang khawatir hubunganku di pagi ini akan ketahuan istriku, tapi persetanlah...que sera-sera. Apapun yang akan terjadi terjadilah.

Aku pun balik menyerang ibu mertuaku. Mulut dan lidahku dengan ganas mempermainkan miliknya. Tanganku juga ikut aktif merabai, meremasi bibir kemaluan dan menusuki lubang anal ibu mertuaku. Kelentitnya yang sudah membengkak karena rangsangan seksual kujilati, dan keremasi dengan gemas. Kumainkan pula apa yang ada di sekitar daerah kemaluannya. Gabungan remasan jari, kobokan tangan di kemaluannya, dan serangan lidahku berhasil membuat mertuaku keluar lagi untuk yang ketiga kalinya. "Aaaaahhhh.... panji sayang ...." jerit nikmat ibu mertuaku. Cairan birahi ibu mertua keluar deras dari lubang vaginanya. Langsung saja kuhisap dan kutelan habis hingga tidak ada yang tersisa.

Akupun tersenyum, lalu aku merubah posisiku. Tanpa memberikan kesempatan ibu mertuaku untuk beristirahat, kuarahkan batangku yang masih bugar dan perkasa ini ke arah vaginanya, lalu kusetubuhi dia dalam posisi misionaris. Kurasakan batangku menembus liang vagina seorang wanita kepala 4 yang sudah beranak tiga, tapi masih terasa kekenyalan dan kekesatannya. Tampaknya program jamu khusus organ tubuh wanita yang dia minum berhasil dengan baik. Miliknya masih terasa enak dan nikmat menggesek batangku saat keluar masuk.
Sambil menyetubuhi ibu mertuaku, aku mempermainkan buah dadanya yang besar dan kenyal itu, dengan mulut dan tanganku. Kuraba-raba, kuremas-remas, kujilat, kugigit, sampai payudara itu kemerah-merahan. Puas bermain payudara tanganku mempermainkan kelentitnya, sementara mulutku bergerilya di ketiaknya yang halus tanpa bulu, sementara tangan satunya masih mempermainkan payudaranya. Tangan ibu mertuaku yang bebas, meremas-remas rambutku, dan mencakar-cakar punggungku. Posisi nikmat ini kami lakukan selama bermenit-menit, hingga 45 menit kemudian ibu mertuaku mencapai orgasmenya yang keempat. Setelah itu dia meminta istirahat. Aku sebenarnya malas mengabulkan permintaannya itu, karena aku sedang tanggung, hampir mencapai posisi puncak. Namun akhirnya aku mengalah.

"Panji kamu hebat banget deh, kamu sanggup membuat ibu keluar sampai empat kali" puji ibu mertuaku.
"Aah ibu bisa saja deh" kataku merendah.
"Padahal kamu sudah jogging 45 menit, tapi kamu masih saja perkasa" lanjut pujiannya.
"Itukan sudah jadi kebiasaanku, bu" aku berkata yang sebenarnya.
"Kamu benar-benar lelaki perkasa, Lilis beruntung mendapatkanmu" puji mertuaku lagi.

Lalu kami bercakap-cakap seperti biasanya. Sambil bercakap-cakap, tangan ibu mertuaku nakal bergerilya di sekujur tubuhku. Terakhir dia kembali mempermainkan batangku yang sudah mengerut ukurannya.

Aku bangkit, lalu beranjak dari tempat tidur. Ibu mertuaku memandangku heran, dikiranya aku akan keluar dari kamarnya dan mengakhiri permainan cinta kami. Tapi kutenangkan dia sambil berkata, "Sebentar bu, aku akan mengecek keadaan dulu". Aku memang khawatir, aku takut istri dan anakku bangun. Dengan cepat kukenakan kembali pakaian olahragaku dan keluar kamar mertuaku. Ternyata dugaanku salah. Hari memang sudah beranjak pagi, sekitar jam 6.15 menit, tapi istri dan anakku belum juga bangun. Penasaran kuhampiri kamarku dan kamar tempat anakku tidur. Ternyata baik anak maupun istriku masih tertidur lelap. Aku lega melihatnya. Sepertinya permainan playstation semalam, berhasil membuat mereka kolaps. Aku mendatangi jam weker di kamar keduanya, lalu kustel ke angka 9 pagi.

Aku menatap wajah istriku yang tertidur penuh kedamaian, sambil berkata dalam hati, "Tidurlah yang lama sayang, aku belum selesai menikmati tubuh ibumu" lalu mengecup pipinya. Setelah itu, aku kembali ke kamar mandi, mencuci tubuhku, lalu balik lagi ke kamar mertuaku. Kami terlibat kembali dalam persetubuhan nikmat lagi. Dalam persetubuhan terakhir ini, aku dan ibu mertuaku sama-sama meraih orgasme kami bersama dalam posisi doggy anal. Sesudahnya aku balik ke kamar istriku, setelah membersihkan diri di kamar mandi untuk yang terakhir kali, dan kemudian mengenakan baju tidurku kembali.

Begitulah cerita seksku dengan Ibu mertuaku di suatu pagi hari yang indah. Tidak ada Mia, ada Arini, mertuaku yang molek dan menggairahkan.


Nama aku Jainab dan berumur 18 tahun. Sudah 1 tahun aku bernikah dengan seorang lelaki yang bernama Aznil. Aku masih tidak dikurniakan dengan cahaya mata. Suamiku Aznil ialah seorang ahli perniagaan. Dia sering outstation. Aku sering di rumah keseorangan. Bapa mertuaku sering mengunjungi rumahku. Kebiasaannya dia datang semasa suamiku di rumah. Pada suatu petang Bapa mertuaku berkunjung semasa Aznil pergi outstation. Bapa saja nak tengok kaulah Nab jawab bapa mertuaku ku. Selepas makan bapa mertuaku ku berehat di hall. Sewaktu itu bapa mertuaku memakai kain sarong saja. Sambil berbual bual terselak kain bapa mertuaku aku.

Aku ternampak anu bapa mertuaku ku. Bapa mertuaku buat tak tau saja. Anu bapa mertuaku nampaknya berada di dalam keadaan yang sungguh tegang. Itulah yang membuat ku tak dapat nak control nafsu. Lebih lebih lagi aku baru saja bersih dari darah bulan dan tak sempat didatangi oleh suami ku. Sungguh mendidih darah ku pada waktu itu. Aku rasa anu bapa mertuaku tu jadi tegang sebab dia asyik perhatikan pakaian ku. Aku hanya mengenakan pakaian gown malam tanpa apa apa pun di dalam, maklumlah cuaca begitu panas. Saiz buah dadaku yang berukuran 36D sudah pasti telah mencuit hati bapa mertuaku. Patutlah semasa aku menghidangkan makanan, bapa mertuaku asyik merenungi lurah di gown ku. Dengan tidak dapat menahan nafsu, aku terus menuju ke bilik ku dan meninggalkan bapa mertuaku di hall untuk menonton berita jam lapan. Desakan nafsu ku yang meluap luap itu telah telah menyebabkan aku kelam kabut mengejar tilam untuk segera melayan denyutan kelentit ku. Setiba di dalam bilik, aku pun terus humbankan badan di katil dan aku selak gaun tidor ku hingga ke paras dada. Kesemua bahagian di bawah paras dada ku terdedah tanpa seurat benang.

Aku mengangkang seluas yang mungkin dan mulalah bermain dengan biji kelintit ku. Alangkah bahagianya kalau Aznil mempunyai konek begitu besar seperti bapa mertuaku ku. Aku terus leka dibuai hayalan yang sebegitu rupa. Rupa rupanya pintu bilik ku tadi bukan saja tidak ku kunci malahan ianya ternganga luas. Tanpa ku sedari, bapa mertuaku aku telah mengekori jejak perjalanan ku ke dalam bilik. Ketika aku sedang leka melayani denyutan nafsu, dia dengan jelasnya dapat mengintai segala tingkah laku aku. 15 minit kemudian, aku terdengar suara bapa mertuaku ku memanggil manggil nama ku. Laungan tersebut telah menyekat kemaraan nafsu ku. Pantas aku mengalihkan pandangan ke arah pintu bilek. Berderau darah ku melihatkan bapa mertuaku ku sedang berdiri di situ.

Sebatang tubuh lelaki tua yang berkulit hitam legam sedang bertelanjang bulat di situ. Tangan kanannya sedang kemas mengenggam anu nya yang sudah keras terpacak. Aku amat pasti bahawa lelaki itu ialah bapa mertuaku aku sendiri. Aku berkeadaan serba terkejut. Aku jadi kaku dan buntu dengan tangan ku masih lagi melekat pada menjari kelentit ku. Pantas dia bertindak untuk meraih kesempatan terhadap kebinggungan ku itu. Dia terus menerpa dan mencelapak kangkang ku yang sudah sedia terbuka luas. Mulutnya pula telah berjaya menyusukan puting tetek ku. Tangan ku yang tadinya melindungi kangkang ku, kini segera beralih ke arah tetek ku untuk menyekat perbuatannya itu. Sebaik saja itu berlaku, anu bapa mertuaku aku pun mudahlah menyelinapkan zina ke dalam tubuh ku.

Tangan ku cuba untuk menyekat kemaraan anunya. Namun tangan bapa mertuaku ku segera memantau pergerakkan tangan ku. Akhirnya terpaksalah aku berbaring mengangkang sebegitu saja tanpa sebarang upaya untuk mempamirkan tentangan. Melihatkan keadaan ku yang sudah pasrah, maka dia pun mulalah menghenjut ku dengan rakus. Dari gelagat keganasannya itu, jelaslah bahawa selama ini dia memang geram terhadap kangkang aku. Bebanan dendam nafsunya bagaikan sulaan yang giat menghukumi tapak zuriat ku yang subur itu. Akal ku cuba agar tidak memperindahkan kesedapan anu bapa mertuaku aku tu. Namun nafsu ku sukar untuk menafikan keinginan terhadap anu bapa mertuaku ku. Kehadirannya di dalam perut ku amat ketara ku rasakan. Malahan kesan penangan yang sebegitulah yang selama ini ku berahikan. Semakin lama semakin pasrah aku zahir dan batin. Seluruh jiwa raga ku mulai kecundang terhadap tuntutan zina yang maha sedap itu. Tanpa segan silu mulutku tak putus putus merengetkan bahasa nafsu. Pengakuan tentang kehebatan anu bapa mertuaku aku tu sentiasa meniti di bibirku. Hitungan dosa dan penyesalan telah ku humban jauh dari pertimbangan ku. bapa mertuaku aku pula sejak dari awal awal tadi begitu tekun membajak telaga bunting ku. Kesuburan ladang zuriat aku digemburi dengan sebaik mungkin.

Jelaslah bahawa suami ku sendiri gagal menandingi kemampuan bapa mertuaku aku. Mungkin sebab itulah dia gagal menghamilkan aku. Setelah cukup rata membajak, maka bapa mertuaku aku pun mulalah menyemburkan benih zuriatnya ke dalam perut aku. Terbeliak biji mataku mengharungi kesedapan setiap pancutan yang dilakukannya. Kepanasan cecair benih bapa mertuaku aku tu ku sambut dengan ledakan nafsu ku sendiri. Mengelupur seluruh tubuh ku untuk menikmati tadahan benih benih zuriat yang cukup banyak tersemai di dalam rahim ku. Selepas itu kami sama sama terdampar keletihan setelah mengharungi kepuasan bersama. Bertelanjang bulat kami tidur berpelukan hingga ke pagi. Tengahhari esoknya sekali lagi bapa mertuaku ku menyemai benih yang mampu membuncitkan perut aku. Kali ini dia menghenjut aku bagi tempoh yang lebih lama dari semalam. Malahan cecair benihnya juga adalah lebih lebat lagi. Hampir seminit aku terpaksa menadah perahan nafsunya. Ketika itulah juga talipon berdering. Aku tau ianya adalah panggilan dari suami ku.

Namun kesedapan yang sedang ku nikmati itu telah mendesak aku supaya terus memerah saki baki air benih bapa mertuaku aku tu. Setelah pasti segalanya sudah kering, maka barulah aku bertindak untuk mencapai gagang talipon. Dengan bertelanjang bulat aku berkejar ke ruang tamu. Itu pun setelah lebih seminit ianya berdering. bapa mertuaku aku juga turut mengekori dari belakang dan dengan juga tanpa seurat benang. Aku berdiri sambil berbual dengan suami ku. Ketika itu jugalah air mani bapa mertuaku aku mula meleleh membasahi peha ku. Lopak air mani yang terkumpul pada pangkal peha ku pula adalah lebih ketara. Saki baki kehangatannya juga masih lagi terasa. Baunya pula cukup kuat hinggakan aku yang sedang berdiri pun boleh menghidunya. Suami ku memberitahu bahawa dia akan terus ke Sarawak dan akan berada di sana selama sebulan setengah. bapa mertuaku aku bukan main meleret senyumannya apabila dengarkan kabar tersebut. Aku pula jadi serba salah kerana selama tempoh itu kelak aku akan bakal ditiduri oleh seorang lelaki tua yang hitam legam lagi tidak kacak. Memang pun selama tempoh tersebut bapa mertuaku aku tu telah kerjakan aku dengan secukup cukupnya.

Malahan aku terbelenggu di bawah kongkongannya. Dia benar benar marah apabila aku meminta izin untuk ke klinik bagi mendapatkan pil pencegah kehamilan. Aku tergamam kerana bapa mertuaku aku memang berhasrat untuk membiarkan aku menanggung bunting melalui penzinaan kami itu. Mulai saat itu, bapa mertuaku aku tidak lagi membenarkan aku keluar rumah. Kesangsiannya memang tepat. Jika berpeluang memang pasti aku akan ke klinik bagi tujuan yang bertentangan dengan kehendaknya. Untuk memastikan hajat aku tidak tercapai, bapa mertuaku aku telah merampas kesemua pakaian aku dan menyimpannya di dalam tempat yang terkunci rapi. Ianya termasuklah kasut, setokin dan tuala. Oleh kerana tidak lagi memiliki sebarang pakaian, maka terpaksalah aku berbogel sehari suntuk. Bila selalu tubuh muda aku terpamir, maka selalulah anu tua nya tu keras menegang. Memang tak sempat kering bulu kangkang ku, kerapnya dia menyemai benih budak ke dalam perut aku. Walaupun aku tidak rela menagggung akibatnya, namun aku mulai menagihi cetusan nikmat yang maha hebat itu. Akhirnya genap sebulan berlalu, dan bapa mertuaku aku tersenyum gembira sambil mengosok gosok perut ku. Beberapa bulan kemudian aku mulai muntah muntah. Tak lama selepas itu kesan membuncit di perut ku semakin ketara. Budak yang membesar di dalam perut ku itu adalah bukti penghasilan zina yang amat jelas. Dari masa ke masa, terutama ketika suami ku kerja oustation, pasti bapa mertuaku ku datang menemani tidur ku. Semakin buncit perut aku, semakin bernafsu dia terhadap aku.

Rupa rupanya dia memang jenis yang cenderung mendatangi wanita bunting. Memang masa tu aku kena penangan yang lebih teruk lagi dari sebelumnya. Kangkang aku pun sampai terasa sengal dan melecup dibuatnya. Namun semakin teruk semakin gila kocakan nafsu ku sendiri. Sedang dia rancak menhenjut aku, dia sempat berjanji untuk berusaha memastikan aku bunting lagi selepas bersalin nanti. Masa tengah sedap tu aku bagaikan kerbau ditarik hidung saja. Aku mengangguk angguk kepala sebagai tanda menyetujuinya. Setelah agak lama merasai penangan yang sebegitu hebat, tentulah aku gagal puas dengan aksi suami ku sendiri. Hanya kehadiran bapa mertuaku ku saja yang mampu menjanjikan kepuasan mutlak. Terutama jika ku di dalam keadaan berbadan dua.

----------~----~----~----~------~----~------~--~---

ku dan Lina selalu dating. Balik kerja memang bersama. Tiap-tiap hari aku memang balik kerumah lina dulu sebelum aku balik ke rumah. Suatu hari Lina telefon aku beritahu dia tak pergi kerja sebab MC. Dia minta aku datang kerumahnya selepas balik kerja nanti. Oleh sebab aku tak ada kerja hari itu aku pun minta cuti dari boss aku. Aku bergegas kerumahnya. Sampai dirumahnya aku terus dipersilakan masuk. Masa itu hanya dia seorang sahaja ada dirumah dan kebetulan dia baru sahaja lepas mandi. Dia hanya memakai tuala dan t-shirt sahaja. Dia tanya aku kenapa datang awal, aku hanya cakap aku risaukan dia. Dia terus datang dekat aku dan cium aku. Aku mebalas ciumannya dan secara sedar aku melucutkan tuala yang dipakainya. Baru aku tahu pada masa itu dia tidak pakai apa-apa. Lina tidak marah atas perbuatan aku. Aku terus memainkan peranan seterusnya dengan memegang payudaranya. Lina menjerit kesedapan. Aku memberhentikan aktiviti aku dan bertanya Lina samada dia pernah melakukannya sebelum ini. Lina mengatakan ini first time. Dia tanya aku balik. Aku pun kata first time.

Aku minta Lina pakai baju dan ajak dia pergi makan. Tapi dia tak mahu, sebab dirumahnya ada makanan. Dia ajak aku makan sama-sama. Aku kata ok saja. Dia ajak aku makan didalam bilik dia. Aku pun menurut sahaja. Bila aku masuk sahaja dibiliknya. Lina terus menutup dan kunci pintu. Aku tanya dia kenapa buat begitu. Lina hanya cakap saja. Aku tanya Lina kenapa MC, sakit apa. Dia ketawa dan kata sakit rindu kat abang.

Oleh kerana tak ada apa nak buat, aku duduk diatas katilnya. Lina datang dan terus cium dan pelok. Dia berbisik nak tengok batang aku. Aku cakap kalau nak tengok bukalah. Pada masa itu batang aku memang keras lagi kerana aktiviti pertama tadi. Lina terus membuka baju aku dan seterusnya seluar aku. Aku juga membuka tuala dan t-shirt yang dipakainya. Akhirnya kami sama-sama bogel. Aku terus menjilat nipple payudaranya. Lina mengeliat dan aku tengok matanya pejam ketika itu. Lina cakap gigit bang.....sedap. Sekali-sekali tangan aku memegang pantatnya. Aku dapat rasakan pantatnya telah berair. Tangan Lina merayap terus ke batang aku. Setelah lebih kurang 15 minit Lina tanya aku boleh tak dia hisap batang aku. Aku terus cakap boleh dan kami melakukan posisi 69. Semasa aku menjilat kelentiknya Lina terus menjerit kesedapan. kami berada diposisi 69 lebih kurang 5 minit sahaja. Lina kata dia tak boleh bernapas kerana batang abang besar sangat penuh mulut sayang.

Seterusnya kami meneruskan aktiviti berpelokan sambil mulut aku meneruskan aktiviti menghisap teteknya sementara tanga aku meraba pantatnya. Tiba-tiba Lina membisikkan dia dah tak tahan. Aku buat pura-pura bodoh aje dan tanya tak tahan apa. Dia senyum dan kata dia nak aku masukkan batang aku kedalam pantatnya. Aku cakap bahaya, nanti mengandung. Dia cakap abang kena cabut sebelum air mani abang keluar. Aku tanya dia macam Lina tahu semua ini, dia cakap melalui buku.

Aku sebenarnya juga tak tahan. Tetapi sengaja buat bodoh. Aku seterusnya memeloknya. Sambil itu tangan Lina memegang batang aku dan meletakkan kearah pantatnya. Aku secara perlahan-lahan menekannya. Tiba-tiba Lina menjerit. Sakit bang...tolong jangan buat lagi. Aku buat tak tahu aje dan teruskan aja. Lina terus memelok aku dengan kuat. Akhirnya aku merasakan aku telah memecahkan mahkota Lina.

Aku meneruskan aktivit keluar masuk. Lina telah berhenti menjerit kesakitan tetapi menjerit kesedapan..Kuat bang...sedap bang...laju-laju bang. Itu sahaja yang keluar dari mulutnya. Tiba-tiba Lina terdiam dan aku merasakan batang terkena cecair panas. rupa-rupanya Lina telah sampai klimaxnya. Aku meneruskan lagi .... dan akhirnya selepas 5 minit kemudian aku memancutkan cecair putih di perut Lina. Lina terbaring keletihan....Pada hari itu kami melakukan perkara yang sama lebih kurang 5 kali...Aku hanya balik kerumah aku pada keesokkan harinya selepas semua house-mate Lina keluar bekeja. Aku bermalam di dalam bilik Lina tanpa pengetahuan house-matenya.

Selepas itu tiap-tiap hari kami melakukannya dibilik Lina selepas pulang dari bekerja kecuali pada masa Lina period.
KIBAT CUAI


MALAM ITU... suasana masatu malam lebih kurang kul 9...hujan renyai2 sejuk rasenya...masa tu jugak lah aku tinggal berdua je ngan ayah tiri aku...mak aku dia outstasion...ayah tiri aku tu syok jek tengok tv sementara aku baru nak g mandi...memang kebiasaan aku mandi ala kadar je sebelum nak tido...pas aku siap mandi,biasalah berkemban aje..ayah tiri aku tengok dan tegur aku mandi ke?aku senyum je lah..aku pun siap2 kai losyen,krim muka dan touch up sikit lah...aku memang pentingkan penampilan sentiasa..aku pun pilih baju tido putih tali halus paras atas lutut...dah malam kan...aku x kai bra...aku tengok jam dah kul 10...alamak cite aku dah start...aku kelam kabut keluar nak tengok cite kegemaran aku tu...pehh aku lupe yang kat depan tu ade ayah tiri aku...aku pun duk jauh sikit sebab segan kang ternampak aku x kai bra...aku pun layan je cite tu ngan ayah tiri...ntah tibe2 ade la plak babak seks cium2...haiii...aku dah segan tak tau nak letak muke mane...waktu tu lah ayah tiri aku toleh kat aku...dia cakap 'ade plak aksi panas kan time hujan ni'...aku senyum memanjang aje tak cakap ape2...aku tengok dia dah lain macam aku pun rase agak takut juga...tapi aku think positif...ntah bile aku terlelap kat sofa,aku sedar je ayah tiri aku tu diri depan aku...aku terkejut...katenye nak kejutkan aku suh tido bilik...aku mamai cakap nak sambung tengok cite tadi...die pun tengok juga...laa akhirnye tewas aku memang terlelap lagi...ayah tiri aku kejut aku dan pimpin aku kat pintu bilik...aku jalan tapi tutup mate...aku terus je baring kat katil dan lena...ayah tiri tutupkan lampu dan pintu...aku rase lain je lah katil ni...aku open mate tengok....WHATTT???di bilik ayah tiriku?aku pun cuak gile bangun nak lari tapi x sempat sebab ayah tiri dah masuk,kunci pintu dan tutup lampu...cuma lampu hiasan je hidup...samar2 aku tengok muka dia...dia pandang semacam,aku terasa nak jerit tapi terkunci mulut ni...lalu dia pegang bahu aku suh tido je kat situ...aku ntah lah ikut je cakap dia walaupun aku x mahu...aku baring ngadap dinding..berdebar aku bila terasa dia naik katil dan baring..x lelap aku,tapi 10 minit aku tunggu dia tak usik aku,aku pun tido...baru nak lena,dia tinjau aku dan cium dahi aku...takutnyeee....dia pun slowly palingkan badan aku mengadap dia...aku buka mata dan dia peluk aku perlahan,lembut je dan hangat aku rasa...ehh ape ni aku buat tapi aku diam follow je rentak dia..dia peluk sambil cium seluruh muka aku,rimas...dan tersinggah kat bibir aku...aku kaku ,dia cium rakus kuat abis nyonyot bibir aku...aku terangsang dan balas ciuman dia...semakin berani dia mule main lidah aku...aku dapat rasa ade air keluar dari kemaluan...aku main lidah die...sambil tangan nye masuk dalam baju meraba raba tetekku...ahhhh aku mula rasa nikmat,lupa takut dosa dunia....semakin lame semakin kuat ramasan itu dan aku mengerang sedap...terangkat punggung aku bila dia gintil2 dua2 puting aku sampai tegang abis...then,satu tangannye turun mencelah pehaku...automatik aku terus kangkang dan senang lah keje dia masuk dalam spende dan main kelentit aku...slambe aku cakap sedap ayah....lagi ganas die main dan mule jolok2 lubang pepek dgn jari tengah...pehhh....aku tak tahan...dia bisik suruh aku bogel,aku buat dan dia pun buka baju dan kain pelekat...slow dia datang kat aku yg baring ni...lalu dia pegang kedua kaki diangkat letak atas bahu dia...tangan nye still nak main kelentit bagi aku basah...10 minit main,dia mule nak masukkan batang yg besar saiznye kat lubang sempit aku...aarghhh...aku mengerang sakitnye tapi die tetep henjut perlahan2 dan akhirnye tertusuk suku...aku mule sedap...dia suruh aku bangun,duduk dan dia baring...slow aku henjut batang dia dan dia pegang punggung aku suruh kuat lagi henjut sampai sume batang masuk...sakit tapi nikmat...tutup mate dia waktu aku henjut kua masuk...tangan sambil ramas tetek dan main kelentit memeng sedap luar biasa...aku penat dia suruh tonggeng dan lagi kuat goyangan kua masuk batang...aku cuma jerit nikmat dan sakit...dia cakap dia nak kua dah air mani,dia suruh aku baring balik,kangkang seluas mungkin dan dia alas punggung guna bantal...dia masuk kan batang dan henjut sekuat hati...aku sakit dia tak peduli lagi kuat dia henjut...dan bila air kua,cepat2 dia capai baju dan dia buang abis kat baju tu...setelah dia lap2 cipap aku,dia bisik 'ayah sayang akak tau'...waktu tu lah terasa nak nangis tapi ape leh wat...aku pakai baju g bilik air cucu dan sambung tido di bilik sendiri...



Aku dapat awek tomboy ni.......masa pi kenduri khawin rumah bapa angkatku,pada bulan febuari yang lalu.Awek tomboy ni masih muda remaja,usianya baru menjangkau 16 tahun...belajar di MRSM .Tubuhnya taklah sebesar mana...tinggi dengan aku hanya paras bahu saja.Kulitnya putih bersih,buah dadanya sederhana kecil,mulutnya kecil.Aku kenalnya masa sama bergotong royong di rumah bapa angkatku.... untuk mengadakan kenduri kahwin anaknya.Dia tahu dari kawanku...aku adalah seorang tukang masak di sebuah Hotel yang terkemuka juga.Dia menyatakan hasrat dari kawanku untuk belajar masak......
"macamana boleh tak kau mengajar masak....ok boleh tapi malam nanti...aku tengah buat kerja ni..,"beritahuku lagi. "jangan kau mengajar yang lain udahlah...soroloh kawanku lagi..,"
Mimah mengajak aku kerumahnya.. ...keluarganya berada di rumah kawanku sepanjang malam.Mimah memakai seluar jeans dan T-Shirt berlengan pendek.Setelah selesai mengajar Hamimah pelbagai masakan....kami melabuhkan ponggong di sofa di tengah
ruang tamu dirumahnya sambil beborak-borak. Mataku tak lekang daripada memerhati buah dadanya dari celah bajunya.Timbul nafsu jahatku untuk meniduri Hamimah gadis Tomboy.

"Mimah....... .ahhhh abang nak cium Mimah bolek tak......boleh sekadar cium saja tahu....tak boleh lebih-lebih. .,"katanya lagi.
Mimah...ayah dan mak mimah balik tak malam ni tak....ayah dan mak tidur dirumah kenduri,aku bertanya untuk mendapatkan kepastian.Mimah diam saja...menundukkan kepalanya kelantai.Tanganku memegangkan dagunya....mulutku mula mencium mulut mimah,mengulum telinganya.. ....aku dapat rasakan bulu romanya berdiri tegak menahan kegelian.... badan mimah ergetar... bila lidahku menjilat pangkal tengkuknya nafasnya mula mendesah tak keruan.
Aku lihat matanya pejam rapat....... kesempatan itu aku junamkan lidahku kedalam mulutnya...lidahku menjalar keseluruh mulut mimah.Tanganku memainkan perana....supaya aku dapat menelentangkan mimah diatas sofa nanti.Mimah menolak tubuhku dan berkata..... ......... .......
"Mimah tak mahu lebih-lebih banggg....mimah takut..,"katanya lagi.
"Abang nak ringan saja mimah..,"kataku memberi kepastian.

Bila tubuh mimah dah terbaring diatas sofa......tanpa membuang masa aku mula meneroka tubuh mimah yang muda...yang belum pernah disentuh mana-mana lelaki. Setelah puas mengigit dan mengulum telinga serta menjilat tengkuk ....sambil tangan meramas-ramas tetek mimah yang masih di baluti dengan baju...mata mimah dah kuyu....dia membiarkan aku membuka kutang baju T-Shirtnya dan melucutkan colinya.Terpampamla h keindahan buah dadanya yang hendak mekar.
Aku sembamkan mukaku kealur gunungnya... sambil lidahku menjilat putingnya dengan rakus...mimah macam nak pengsan aku tengok...... menahan perasaan kegelian dan kesedapan.Tanganku meramas-ramas kedua buah gunungnya... lidahku menjilat
pusatnya.Sebelah tanganku membuka kancing seluar jeansnya dan melurut dengan kakiku hingga kehujung kakinya.Setelah itu lidahku menjilat pahanya hingga sampai ke seluar dalamnya...mimah mengelepar dan pantas menolak kepalaku.... .

"BBbbbbaannggg. .....tttoolloonn ggllaahhh. .....mmmi immmaaahhh.. .ttaakkk. .mmm
aaauuuu..,"kata mimah lagi.

Abang tak main....abang nak jilat saja...mimah. ..tanpa berlengah lagi aku melucutkan seluar dalam mimah...aku membuka lebar paha mimah..lidahku kujulurkan kedalam alurnya yang sempit...tempat kegemaranku. MImah meraung dengan hebatnya.... .aku naik panik dibuatnya..takut orang terdengar, mampus aku nanti orang kerjakan.Ponggong mimah begerak ke kiri dan kanan menahan kegelian. Lidahku tetap bekerja keras tanpa henti....... .....
"AAAAaaaaabbbbaanngg gggg..... .mmmmmii. ...mmmmaahhh h ddaahhhhh... ..ttakkk
taahhhannn.. ..bbbaannnggg. .,"
"AAAaaabbbannnggg bbbboollleehhhhh mmmmaaiiinnn ddd....eeenngaannn
mm..mmmiimmmaahhh bbaanggg..,"suaranya kedengaran perlahan.

Mulut dan lidahku tetap bermaharaja lela....dibuatku diseluruh lubang cicap mimah. Sudah satu jam aku mengerjakan budak tomboy itu.......dah lembik sampai nak pengsan aku kerjakannya. Aaaaabbaanggg cepatlah bbanng mimah dah tak tahan ni dah...bbanggg. ...aku senyum sendirian kerana aku dapat mengubahkan seorang tomboy kepada seorang gadis yang akan hilang kegadisannya sebentar lagi.

Aku mengangkat tubuh mimah masuk ke biliknya.... ......menelentan gkannya semula keatas katil yang sedia menanti..... .adegan seterusnya,yang lebih panas dan ganas lagi.Mimah merelakan segalanya,untukku bertindak ke atas tubuhnya yang putih bersih.....bila ia rasa satu kenikmatan yang belum pernah dirasainya sebelum ini.Tubuh gebu dan putih melepak itu...mula aku kerjakan dengan begitu lahap sekali.Mulutku menjalar ke tengkuk,ke puting buah dadanya....sambil tanganku meramas-ramas cicap nya dengan penuh nafsu sekali...mata mimah terpejam kesedapan... ..kenikmatan.

Tubuhku bertemu tubuh mimah......mulutku menutup mulutnya...lidahku menjunam masuk kedalam kerongkong mimah...aku sedut lidahnya,mimah tercungap-cungap kelemasan menahan nafasnya.... yang tak tentu arah di buatku...mimah cuba melarikan mulutnya dari mulutku....aku tak memberinya peluang untuk berbuat demikian.... .mulutku sentiasa mengikuti pergerakan mulut mimah ke kiri dan kanan.Ini membuatkan mimah kelemasan dalam pelukkan ku.Sambil berbuat begitu tanganku membuka kancing seluar jeansnya.... ..dengan pengalaman yang ada padaku....begitu mudah untuk melurutkan seluar jeans dan seluar dalam mimah.Tanganku terus merayap-rayap. ..mengusap paha mimah yang putih gebu....ku lihat tubuh mimah menahan kegelian yang amat sangat.Mimah mengeliat... mengetap bibir....tangannya mencengkam cadar katil.
"CCcccccee... .....eeeppptttaa alllaahhhhh bbbanngggg.. .....rayunya lagi..."
Aku sembamkan mukaku ke cicap mimah yang tembam...... aku jilat dengan ghairahnya
tanpa menghiraukan rintihan mimah yang semakin sayu........ ......... ....... Aku bangun dari meniarap.... ..membuka kemeja t ku....mencampakkann ya ke lantai, kemudian aku berdiri disisi katil menarik talipinggang dan zip seluar seleckku.... ..me- lurutkan seluar seleckku di ikuti seluar dalamku sekali....punaiku terus saja terpancut keluar dengan bangganya... .melihat keindahan tubuh yang bakal diratahnya sebentar nanti.Setelah aku
bogel......kaki mimah aku tarik betul-betul dibirai katil ....aku duduk menghadap cicap mimah yang tembam disinari cahaya lampu jalan.Kaki mimah aku kuak seluasnya... .lututnya aku bengkokkan.. ...untuk kali kedua adegan yang akan dijalankan sebentar nanti.Dengan ghairahnya aku menyuakan lidahku mencari batu permatanya,aku jilat......mimah meraung macam kena hesteria...aku tahu mimah sudah klimaks yang entah keberapa!!!! !!!!!!!!!

Dalam keadaan telunjur.... ....aku menarik tubuh mimah supaya badannya berada dicelah kakiku...supaya mimah memegang punaiku yang bersaiz 8 inci panjang..... aku meminta dengan lembut ,supaya mimah memasukkan adikku ke dalam mulutnya.aku lihat mimah tergamam...seketika dan agak terkejut dengan permintaanku. ..aku tahu mimah geli....lagipun ia belum merasainya dan masih perawan.Benda tu bukannya kotor mimah....macam mimah jilat ais krim saja...... mimah mencuba memasukkan kepala takuk kedalam mulutnya...aku merasakan kepanasan air liur mimah....lidahnya bermain di kepala punaiku,mula- mula sedikit.... lama-kelamaan. ..semakin jauh mimah menyuakan batangku kedalam mulutnya, hampir separuh masuk ke dalam mulut mimah....... .sebab batangku besar lagi panjang....mulutnya kecil saja,tak mampu untuk memasukkan semua batangku.
Ada lebih kurang 20 minit...mimah buat macam tu ...aku rasa nak terpancut air maniku kedalam mulutnya.... ..biar mimah mengelupur nanti...bila air maniku menerjah masuk kedalam mulutnya...aku menyepitkan kepala mimah dengan kedua belah kakiku...... supaya mimah tak boleh bergerak.... ..supaya mimah tak boleh cabut mulutnya dari batangku...aku terus pancutkan air maniku ke dalam mulut mimah merasakan badan mimah menolak kuat tubuhku..... ia cuba melarikan mulutnya dari batang punaiku,mimah tersedak-sedak. ..aku menekankan batangku kedalam mulutnya.... mimah cuba mengoyangkan kepalanya... ini membuatkan aku lebih kesedapan lagi.
"Aabbannnggg. ....mmmmm. ...immah ggellillahhh bbannggg..."
Aku mengubah kedudukanku dari 69,dengan menindih tubuh mimah kembali...bila kepala punaiku yang keras aku gosok ke atas cicapnya yang tembam...mimah terus
mengeliat... .mulutnya mendesis-desis meminta sesuatu....sehingga mimah terketar-ketar di buatku.

"Mimah merayu...kepadaku
"CCccceppaattlaahhh bbanngggg... .mmmmii.. ..mmmaaahh. ..ttaakkk. ..ttaahh aannn
nniiiiiiiiiii. ....." sambil tangan mimah melurut batang punaiku.

Bila aku rasakan tepat sasaranku... ...kedua tanganku merangkul ponggong mimah, dengan kepala mimah terjuntai di birai katil...mulutku terus mengusap perut mimah. Aku terus menekan ponggong dan batang punaiku menjunam masuk ke dalam cicap mimah....... mimahtersentak dan mulutnya tergangga luas.......matanya terbeliak menahan kesakitan,sementara itu aku terus menjilat tengkuk dan buah dada mimah... supaya ia hilang kesakitan yang di alaminya sebentar tadi...kemutan cicapnya makin kuat....aku lihat mimah begitu leka dengan keseronokan yang aku cipta kepadanya... ..aku hentak kembali..... .satu jeritan yang halus kedengaran keluar dari mulut mongel itu.
"AAaaahhhh... hhhhhhh.. ....aaadddduu. ...uuhhhhhh. .B bb...bbann.. .gggggg.. .
ssssaaakkiitttt. ...nnyyyaaa. ."Mimah macam nak menolak tubuhku tapi tak berdaya,tanganku memaut erat tengkuknya.

Satu ciuman mulut ketengkuknya. .......ciuman nafsu semata-mata. .......aku rehat
sebentar,tetapi mulutku tetap bekerja..... mulutku di tutup dengan mulutnya.... .supaya mimah tak menangis lebih lama.Sambil aku tarik batangku berkali-kali. ..mulutku melekat pada puting buah dadanya ........ membuatkan mimah bergerak kekiri dan kanan,setelah aku yakin mimah dah tenang...aku terus hentak hingga ke pangkal batang punaiku....ku lihat mata mimah terpejam rapat....seolah- olah menanti seranganku yang seterusnya.. ..mimah
mengigil dan enangis..... .aaaaaaaaa. ...... aaaaaahhhhhhhhhhh. ...!!!!

Badan mimah terangkat... ......aku rendam batangku buat seketika...takut mimah menjerit terkena peluru bersaiz 8 inci dengan ukur lilit 5 1/2 inci.Setelah keadaan kembali tenang...... .aku mula membuat kayuhan..... mula-mula perlahan,lama- kelamaan semakin laju...aku tengok muka mimah berkerut menahan kepedihan dan kesedapan... .....kedua kakinya terangkat dan tangannya meramas-ramas kain cadar sambil mulutnya tak berhenti merintih-rintih. .........
"AAaaa..... dduuhhhh.... bbbaa... aanngggg... ssee.. sseeeddappnnyyaaa. ...
aaaawwwwaaawwhhhhh. ...bbbbaannngggg g,"

Air mimah tersembur keluar...... buluku dan bulu mimah basah lencun dibuatnya... peluh mencurah keluar dari badan mimah.....biarpun jam menunjukkan hampir pukul 1 pagi.aku biarkan tangan dan kaki mimah terkejang... sambil mulut tak berhenti merintih dengan kuat......aku mengayuh makin laju dan kemutan cicap mimah tak henti-henti menyepit batang punaiku...membuatka n aku semakin ghairah untuk bertarung hingga kepenghujungnya. Tubuhku dan tubuh mimah berpeluh.... . kerana hampir 3 jam aku mengerja dan melapahkan tubuh mimah.
Aku rasa mimah dah terkulai layu lagi....kulihat tubuhnya tak bermaya...aku kerjakan dan air mani mimah terus keluar tak henti-henti. .....sehingga becak kawahnya.Aku hentak batangku ke cicap mimah semula...aku menjunamkan batangku bertalu-talu dengan aksi yang begitu ganas sepanjang aku meniduri gadis-gadis ataupun janda. Badanku mengigil sama ada....aku menghayunkan ponggong ataupun badanku.... dengan satu hentakan yang kuat kedalam cicap mimah...aku memancutkan air maniku dan segala tenagaku ke liang cicap mimah.Kami sama-sama menjerit kesedapan.
AAaaaaaahhhhhhhhhhh h........ . jeritku sambil memeluk mimah dengan kuat sekali..... mimah pun begitu jua. OOOOoooooo.. . hhhhhhhhhhhhhh. . aaaaaagggggggg. ......... . aku rasakan air panas terpancut menjolok kepala punaiku kedalam cicap mimah....dan satu kemutan yang paling kuat pernah aku rasai. Aku terlentok di atas tubuh mimah...bila kami berdua tersedar jam menunjukkan pekul 6 pagi.Waktu bagi sebuah rumah kenduri sibuk dengan penyembelihan seekor lembu.Aku mengajar mimah bukan setakat bidang masakan
saja,tetapi satu bidang yang belum mimah pelajari sebelum ini..... bidang sex. Aku harap selepas ini mimah akan menjadi seorang perempuan






Malam itu aku bersetuju untuk mengikuti kawan ku, Alias yang selama ini asyik mengajak ku utk sama sama menikmati pengalaman baru, walaupun sudah banyak kali aku menolak kerana kesibukan kerja. Namun pada malam itu, entah kenapa aku bersetuju setelah mendengar cerita nya yang penuh sensasi yang pada pendapatku adalah tidak logik dan benar. Katanya kalau aku tidak pernah, ikutlah dia utk menyaksikan dengan sendiri atau merasakan dengan sendiri akan kehebatan pengalaman yang bakal di tempuhi.

Tepat jam 10 malam kami sampai di rumah gurunya, Pak Abu. Pak Abu adalah seorang guru silat dan juga sorang bomoh yang tinggal jauh ke pendalaman kerana mengamalkan ilmunya. Hanya orang orang yang tertentu sahaja dapat berjumpa dan berubat dengannya.

Malam itu ada 2 pasangan yang datang untuk berubat yang dibawa oleh salah seorang anak murid Pak Abu. Pasangan itu dalam lingkungan lewat 20an manakala yang satu lagi berusia didalam sekitar awal 40an.

Dari maklumat awal yang aku tahu dari kawan ku itu, malam ini adalah malam yang agak istimewa kerana kedua dua pasangan tersebut akan menjalani rawatan secara serentak dan mereka semua sudah pun di beritahu akan syarat syaratnya.

Pak Abu mempersilakan kedua dua wanita itu untuk tampil ketengah ruang dan berbaring di atas tikar mengkuang yang telah disediakan bersama dengan bantal dan minyak. Aku dapat tahu yang pasangan muda menghadapi masalah gangguan orang luar dimana isterinya menjadi dingin setiap kali ingin bersama manakala pasangan yang satu lagi menginginkan zuriat yang pertama.

Setelah mendapat izin dari suami yang tua, Pak Abu merapati wanita itu sambil mulutnya membaca mentera dan mengarahkan agar wanita itu berbaring sambil mendepakan tangan. Pak Abu mengambil tempat di kanan pinggang wanita itu sambil mengurut keseluruh badan wanita itu dari luar pakaian. Wanita ini agak cantik dan bertudung labuh, mempunyai perwatakan yang menarik dan susuk badan agak menawan. Dadanya agak menggunung terutama didalam keadaan menelentang walaupun bertudung labuh.

Urutan Pak Abu semakin berahi dan tudung labuh sudah pun di angkat ke leher. Setiap pergerakan dan tingkah laku Pak Abu, aku perhatikan dengan penuh khusyuk. Malam ini Pak Abu di bantu oleh 3 anak muridnya, Hamad, Salleh dan Alias, kawan aku tadi. Mereka semua sedang asyik membaca mentera sambil bergerak perlahan lahan kearah kedua dua wanita itu.

Tindakan Pak Abu semakin rancak dan berani. Tangannya mengurut kemas di kedua dua buah dada wanita itu dan sedikit demi sedikit tanganya menjalar masuk kedalam baju kurung sambil mencari buah dada dari dalam. Pernafasan wanita itu semakin ghairah manakala tangan Pak Abu semakin rancak meramas buah dada sambil tersenyum kepada semua yang ada di situ. Murid muridnya yang lain mula merapati Puan Sari yang sedang keasyikan di ulit tangan Pak Abu dan Puan Shida yang masih lagi terbaring di tikar sebelah Pak Abu.

Hamad, anak murid pak abu yang paling lama dan kanan merapatkan diri ke Puan Sari yang sedang keasyikan dan mula mengosok dan mengurut di bahagian kaki dan paha sambil perlahan lahan menyingkat kain Puan Sari keatas pinggang. Hampir semua kain itu terangkat ke paras pinggang hingga menampakkan seluar dalam Puan Sari. Semua mata tertumpu pada arah tu yang sedang ditarik ke bawah akan seluar nya. Perlahan lahan seluar dalam di lurut ke bawah dan sedikit demi sedikit permandangan yang indah menjelma jelas di hadapan mata.

Hamad tanpa membuang masa mengurut terus ke arah selangkang Puan Sari, dan meremas-remas kemaluan dengan berahinya tanpa berlapik. Jari-jemari Hamad terus bermain di kemaluan Puan Sari dan sekali menyentuh klitoris dan cuba mengacah-ngacah untuk masuk ke kemaluannya. Lama-kelamaan, Hamad mula merasakan kemaluan Puan Sari mulai basah dan mula sayup-sayup kedengaran suara Puan Sari mendesah perlahan.
Dengan birahi menggelegak, Hamad naik ke atas berhampiran kaki Puan Sari yang terlentang. Sesaat kemudian, tangannya meraih kedua kaki Puan Sari yang masih ditutupi kain baju kurungnya dan terus melepaskannya ke lantai. Mata Hamad membesar ketika melihat kaki telanjang Puan Sari berkulit putih mulus ini cukup indah putih kemerahan. Kakinya yang halus dengan otot yang kebiruan terlihat sangat indah dan merangsang nafsunya lantas membuatnya tergerak untuk mengelus-elusnya.

Tangan Hamad meraba-raba merasakan kemulusan betis Puan Sari yang kenyal dan terasa hangat dan lembut. Bibir dan lidah Hamad pun kian liar menjilati untuk menikmati kemulusan kaki Puan Sari kian ke atas. Betis putih yang mulus dan ditumbuhi bulu-bulu nan halus ini dalam basah kuyup oleh jilatan dan ciuman Hamad sambil tangan mula merayap ke pehanya yang bulat dan padat.

Hamad semakin bernafsu merasakan kemulusan paha putih yang kencang serta padat tersebut.

Baju kurung yang dipakai Puan Sari kian tersingkap hingga ke pinggang membuatkan bahagian bawah tubuh Puan Sari telanjang. Hamad melotot penuh nafsu melihat pemandangan yang menggiurkan di depannya. Bayangkan Seorang ibu alim yang bertudung labuh kini dalam keadaan setengah telanjang.

Bahagian atas Puan Sari masih lagi rapi dengan tudung labuh lebar yang membalut wajahnya.

Tangan Hamad mula mengusap kemaluan Puan Sari yang kelihatan membukit itu. Tangan Hamad terus telah menikmati kekenyalan bukit kemaluan Puan Sari

Hamad memperhatikan wajah Puan Sari yang terlentang di depannya ini. Wajah ayu berbalut tudung labuh mula bertambah kemerah-merahan. Wajah ibu alim ini mula memperlihatkan ekspresi wanita yang tengah dilanda birahi.

Tidak sabar lagi, Hamad terus membenamkan wajahnya di kemaluan Puan Sari. Lidah Hamad terjulur menjilati kelentit yang menonjol di antara bibir kemaluan Puan Sari. Saat lidahknya mulai menyapu kelentit Puan Sari tiba-tiba pinggulnya menggelinjang diiringi desahan ibu alim bertudung labuh ini.

Belahan bibir kemaluan Puan Sari dengan kelentit yang menonjol di tengahnya, terlihat semakin nampak jelas. Bulu-bulu kemaluan yang tercukur rapi di bukit kemaluan ibu alim ini juga terlihat semakin jelas. Melihat pemandangan indah di selangkang Puan Sari, membuat Hamad menjadi semakin tidak sabar.


Bibir kemaluan Puan Sari terlihat merekah kemerahan dengan kelentit menonjol kemerahan di tengahnya. Hamad menjadi sangat terangsang melihat hal ini. Dengan bernafsu, Hamad menghirup dan menjilati cairan kenikmatan Puan Sari yang menetes dari kemaluannya.Hamad merasa paha Puan Sari bergetar lembut ketika lidah Hamad mulai menjalar mendekati selangkangnya.
Puan Sari menggeliat kegelian ketika akhirnya lidah itu sampai di pinggir bibir kewanitaannya yang telah terasa menebal. Ujung lidah Hamad menelusuri lepitan-lepitan di situ, menambah basah segalanya yang memang telah basah itu. Temengah-mengah, Puan Sari mencengkeram rambut Hamad dengan satu tangan, seolah olah cuba menghalang Hamad dari meneruskan perbuatan itu.


Hamad segera menjilat di daerah yang paling sensitif milik Puan Sari . Puan Sari mengeliat hebat ketika lidah dan bibir Hamad menyusuri sekujur kemaluan ibu alim ini. Mulut wanita ini mendesah-desah dan merintih-rintih saat bibir kemaluannya di kuak lebar-lebar dan lidah Hamad terjulur menjilati bagian dalam kemaluannya. Ketika lidahnya menyapu kelentit Puan Sari yang telah mengeras itu, Puan Sari merintih hebat dan tubuhnya mengejang sehingga terangkat.

Hamad terus mengunyah-ngunyah kemaluan Puan Sari beberapa saat yang membuat ibu alim bertudung labuh ini mengerang dan merintih.


Mata Hamad kini terarah pada sepasang payudara gebu milik Puan Sari yang masih tersembunyi di balik tudung labuh dan baju kurung yang dipakai Puan Sari. Tangan Hamad meraih tudung labuh tersebut lantas menyingkap hingga ke lehernya, kemudian dengan lincah jari-jari tangan Hamad meramas payudara Puan Sari yang kelihatan gebu dan lembut sekali.

Dirasuk nafsu, Hamad terus merentap dan mengoyakkan baju kurung sutera Puan Sari dan mencampakkannya ke atas lantai. Perlahan kelihatan kulit mulus Puan Sari yang kini hanya ditutupi tudung labuh dan bra. Puan Sari tidak mampu berbuat apa-apa dan hanya menanti tindakan Hamad.

Hamad lantas menarik bra yang menghalang pandangannya pada payudara Puan Sari. Buah dada Puan Sari nampak sangat montok dan indah. Buah dada yang putih mulus dengan puting susu yang kemerahan membuat Hamad segera mengunyahnya secara bergantian.

Puting susu yang telah tegak mengeras itu dihisap dan digigit-gigit kecil membuat Puan Sari terpekik kecil menahan kenikmatan birahinya.


Hamad sudah tak tidak dapat menahan nafsuku meneruskan hisapan-hisapan di payudara tersebut tanpa menanggalkan tudung labuh Puan Sari. Puan Sari hanya mampu mengerang

Hamad mula menggeselkan batangnya pada kemaluan Puan Sari.. Perlahan-lahan Hamad menekan batang ke ruang yang terasa hangat dan sempit itu. Kemaluan Puan Sari telah pun cukup basah untuk memulakan hubungan seksual. Hamad menekan perlahan-lahan dan menarik kembali. Tindakan Hamad itu diiringi dengan keluhan daripada Puan Sari.

“Ahhh..Ahh...” rintih Puan Sari dengan nafas tersekat sekat. Sememangnya kemaluan Puan Sari terasa sempit sekali seperti anak gadis. Hamad semakin garang lantas membenamkan keseluruhan batangnya ke dalam kemaluan Puan Sari. Puan Sari tersentak dan cuba sedaya upaya untuk menyediakan dirinya dengan kemasukan batang yang berlainan saiz dari milik suaminya ini. Tudung labuhnya kian berkedut akibat ditindih Hamad.

Hamad mula mengenjut kemaluan Puan Sari dengan perlahan pada mulanya dan semakin lama semakin laju. Dengusan dan keluhan Puan Sari semakin kuat. Gesekan antara batang Hamad dengan kelembutan dinding dalam kemaluannya membuatnya tewas pada keasyikan berhubung badan. Hamad kini menindih dan memeluk Puan Sari dan memberikannya ciuman penuh bernafsu. Payudara Puan Sari yang begitu gebu ini terasa begitu nikmat ditindih dengan dadanya.

Peluh yang membasahi dua tubuh ini seolah-olah hanya melincirkan lagi pelayaran mereka. Wajah Puan Sari yang masih bertudung labuh ini kelihatan begitu terangsang sekali. Gerakan demi gerakan oleh Hamad semakin laju. Tangan Puan Sari mula meremas-remas tikar mengkuang dan mula merintih kenikmatan.

Tangannya mula memeluk Hamad dan mula mencakar belakang Hamad. Meskipun terasa sakit Hamad, terus menerus mengenjut dan menekan sedalam-dalamnya kerana menyedar yang Puan Sari akan sampai ke puncaknya. Kemaluan Puan Sari terasa semakin basah dan semakin sempit. Kehangatannya membuatkan Hamad tidak lagi mampu mengawal lantas menghamburkan pancutan air maninya di dalam kemaluan Puan Sari. Puan Sari juga mengalami orgasmanya pada waktu yang sama. Kedua-duanya berpelukan erat dengan nafas termengah-mengah.

Hamad merasa cukup nikmat namun masih lagi belum puas dan masih lagi menindih tubuh mulus itu. Puan Sari mula serba salah di atas apa yang berlaku dan cuba untuk bangun. Namun Hamad lebuh pantas menahannya dan terus menciumnya dan berpelukan. Bersetubuh dengan wanita alim seperti Puan Sari yang hanya memakai tudung labuh benar-benar merangsang nafsunya. Puan Sari cuba membantah namun Hamad berkeras untuk terus memeluk dan terus mencumbuinya.

Hamad seperti dirasuk dan tidak mengendahkan orang orang yang ada disekeliling ketika menikmati tubuh Puan Sari walaupun suaminya ada di situ.

Pak Abu tersenyum bangga yang anak murid berjaya menundukkan Puan Sari di depan suaminya sendiri dan tiada sesiapa yang menentang akan perlakuan itu.

Aku bagaikan tidak percaya akan apa yang terjadi di hadapan ku sebentar tadi. Sorang isteri yang bertudung labuh disetubuhi dengan hebatnya dihadapan semua orang dan tidak seorang pun berkata apa apa malah masing masing asyik menikmati adegan yang telah pun berlaku. Bukan itu saja malah, Pak Abu dengan selambanya mempelawa sesiapa saja yang ingin turut serta dalam adegan yang seterusnya dengan Puan Sari.

Puan Sari yang baru saja menikmati kehebatan sengama dengan Hamad, akan disetubuhi oleh Ustaz Salih, abang kepada suami Puan shida yang juga sedang hebat di “rawat” oleh Pak Abu di sebelah Puan Sari. Puan Shida sedang di henjut hebat oleh Pak Abu sambil kedua buah dadanya yang montok dan besar itu di sedut dan di uli hebat oleh Kawan ku dan Suami Puan Sari.

Suami Puan Sari, Pak Wan, seolah olah tidak menghiraukan apa yang berlaku dengan isterinya, dia begitu asyik menikmati dan mencium buah dada Puan Shida yang besar dan montok sedikit berbanding dengan isterinya. Keasyikan itu sungguh menghairan kan kerana Pak Wan sedang khayal dengan isteri org yang juga isteri sorang ustaz.

Manakala Puan Sari tidak kurang juga hebatnya, dia sudah di setubuhi oleh 2 org lelaki selepas Hamad dan masih lagi bertenaga dan sedang di henjut oleh Ustaz Omar dengan penuh bergaya. Ustaz Omar betul betul menikmati persetubuhanya dengan Puan Sari seolah olah dia sedang menhenjut isterinya Puan Shida yang cantik dan berdada lebar itu. Puan Shida memang seorang yang cantik walaupun bertudung labuh. Dia menjadi tarikan ramai sewaktu di kampong dan ramai yang cuba meminangnya namun tidak berjaya dan hanya Ustaz Omar yang berjaya menikmati tubuh yang gebu itu

Jari jemari Pak Abu tidak henti henti memainkan pepek Puan Shida hingga bunyi gentelan itu dapat didengari dengan jelas dan kuat membuatkan Puan Shida meronta ronta menahan nikmat. Akhirnya Pak Abu merasakan seperti ada benda hangat sedang mengalir keluar dari celahan lubang cipap Puan Shida dan memang betul jangkaannya kerana tidak berapa lama selepas itu Puan Shida menjerit-jerit kecil kerana dia tidak mampu untuk membendung air mazinya lagi lalu memancutkannya dengan banyak sekali ke muka Pak Abu.

Pak Abu merasa sungguh seronok sekali, kenikmatan yang dicari-cari selama ini akhirnya datang juga apabila mukanya dibasahi air mazi Puan Shida. Puan Shida tersedu-sedu menangis, dia tidak tahu sama ada di terpancut air mazi dengan banyak sekali kerana benar-benar rela atau dia memang dia tidak dapat bertahan !!! Haahahaaahaahahaa, gelak Pak Abu sambil menghisap air mazi yang keluar dari celahan kemaluan Puan Shida yang masih basah dan merah itu,

Pak Wan kemudian mengangkat Puan Shida yang masih bertudung litup dan berkain jubah itu. Terketar-ketar Puan Shida apabila dia disuruh menonggeng oleh Pak Wan. Rupa-rupanya mereka ingin menutuhnya secara serentak.Pak Abu bersiap untuk menutuh punggung Puan Shida sementara Pak Wan berbaring di bawah tonggengan Puan Shida dan memasukkan koneknya ke dalam vagina Puan Shida. Koneknya agak mudah memasuki lubang vagina Puan Shida kerana ianya sudah licin dibasahi air mazi Puan Shida yang keluar akibat perbuatan Pak Abu tadi.

Apabila masuk sahaja kedua-dua batang konek itu ke dalam lubang jubur dan vagina Puan Shida secara serentak, dia pun merasai getaran seperti terkena elektrik, sangat sakit. Pak Wan dan Pak Abu terpaksa memasukkan perlahan-lahan batang konek mereka kedalam lubang vagina dan jubur Puan Shida secara serentak kerana lubang Puan Shida masih ketat lagi. Ohhhhhh..bestnya dapat cipap kau nie….sindir Pak Abu kepada Puan Shida, pasti lepas nie kau tak nak konek lain bila dah dapat kami punya, hahahahahahaa gelak mereka lagi.

Puan Shida hanya mampu menitiskan air matanya sambil termengah-mengah menahan gejolak nafsunya yang sedang diperkosa itu. Berdecup-decup bunyi henyakan batang konek Pak Abu dan Pak Wan menusuk masuk ke dalam vagina dan lubang jubur Puan Shida. Tangan mereka berdua pula tak henti-henti meramas buah dada Puan Shida yang agak besar dan bulat itu. Kenikmatan yang mereka rasakan tiada tolok bandingnya lagi sehingga tanpa disedari air mani mereka meleleh masuk ke dalam vagina Puan Shida yang sudah tidak mampu bersuara lagi kerana terlalu sakit dan lemah diperkosa mereka berdua.

Air mazi yang keluar dari lubang cipap Puan Shida beserta air mani yang dikeluarkan Pak Abu dan Pak Wan membuatkan batang konek mereka semakin lancar dan laju menusuk masuk ke dalam vagina Puan Shida yang semakin merelakan pemerkosaan yang berlaku terhadapnya ! malah dia sudah mula mengerang dan berpeluh akibat semakin terangsang. Puan Shida sudah tidak mampu menangis lagi malah dia terpaksa mengikut rentak ganas kedua pemerkosa itu kerana sudah tidak sanggup menahan sakit dan perit pemerkosaan itu.

Dia sudah pandai membalas ciuman bibir Pak Wan dengan penuh selera sambil membiarkan sahaja Pak Wan mengulum lidahnya tanpa melawan malah tangannya juga memeluk Pak Wan agar mereka lebih selesa lagi melakukan hubungan badan itu. Mulut Pak Wan begitu bernafsu melahap bibir manis Puan Shida sambil menghisap-hisap lidahnya dengan lahap sambil batang konek Pak Abu berdecap-decup masuk ke dalam liang vagina gadis alim itu sambil tangannya meramas-ramas buah dada milik Puan Shida. Di atas lantai rumah bersepah barang peribadi milik Puan Shida iaitu seluar dalam, coli, kain dalam dan stokin kakinya yang selama ini menutup rapi tubuh badannya dari penglihatan lelaki, cuma tudung kepala dan pakaian jubah labuhnya sahaja yang masih tidak dibuka.

Akhirnya Pak Abu dan Pak Wan telah mencapai orgasme mereka dengan dahsyat sekali. Pak Abu memancutkan air maninya dengan banyak sekali ke dalam rahim Puan Shida membuatkan gadis alim itu tersedu-sedu menahan sengsara dan ghairah namun didalam hatinya masih risau akan kemungkinan dirinya akan hamil.

Pak Wan pula menjerit-jerit seperti kerasukan kerana terlalu ghairah sambil mengoncang-goncangkan kemaluannya yang seperti hendak terburai lalu memancutkan air maninya yang melekit-lekit itu ke muka dan juga buah dada Puan Shida sambil menyapu-yapu keseluruh muka Puan Shida. Vagina Puan Shida kelihatan basah kuyup dan berlendir serta berwarna kemerah-merahan akibat diratap secara dahsyat oleh dua lelaki serentak.

Aku bagaikan berada dalam fantasi yang amat hebat apatah lagi ketika aku melihat tangan Puan Sari meraba-raba badan kawan aku tadi, Alias. Tangan Puan Sari sudah berjaya membuka zip seluar yang dipakai oleh Alias. Nampaknya Alias memberi kerjasama agar tidak menghampakan Puan Sari. Alias itu melucutkan seluar panjang yang telah dibuka zipnya oleh Puan Sari. Dia dapat membaca yang Puan Sari dah stim habis. Puan Sari membuka matanya dan melihat dengan penuh selera ke arah kemaluannya. Aku juga dapat melihatnya sedikit dari arah sisi. Kemaluan Alias memang hebat. Saiz 8" panjang dan garispusatnya 2 1/2". Aku merasa iri melihat zakar Alias dua kali ganda besar dan panjang berbanding kemaluanku. Dan memang begitu keras kelihatannya.

Aku lihat Puan Sari tersenyum melihat kemaluan Alias. Batang kemaluan yang berwarna gelap seperti kemaluan negro. Kepala kemaluannya berwarna merah gelap. Puan Sari begitu berselera melihat kemaluan Alias yang besar dan panjang itu. Puan Sari memandang ke arah mata Alias dengan penuh makna dan tersenyum menggoda dan puas kerana sebentar lagi akan dapat merasai kemaluan tersebut. Puan Sari yang masih berbaring di tengah ruang tamu menarik punggung Alias. Kemaluan Alias diurut-urutnya dengan perlahan-lahan. Alias tersenyum puas melihat Puan Sari mengurut kemaluannya. Tangan lembut Puan Sari bermain-main dengan batangnya.

Aku lihat kemaluan besar dan berurat itu makin tegang. Bagiku bentuk zakar Alias amat hodoh, tapi Puan Sari melihatnya dengan penuh bernafsu. Wajah Puan Sari yang bersinar penuh ghairah membuktikannya.

Kepala licin yang lembab itu dicium penuh ghairah oleh Puan Sari. Aku dapat melihat Puan Sari menyedut dalam-dalam aroma kepala zakar Alias. Agaknya bau kepala kemaluanku tidak seghairah bau kepala zakar Alias. Lama sekali dia mencium kepala licin dan batang hitam berurat. Telur Alias yang berkedut dan berbulu keriting itupun dicium penuh rakus. Badan dan paha Puan Sari bergetar dan berombak. Terangkat-angkat badannya menikmati aroma zakar Alias. Seterusnya Puan Sari menghisap-hisap kepala kemaluan Alias dengan penuh nafsu. Kekadang lidah-lidah Puan Sari bermain-main di sekitar kepala kemaluan Alias.

"Oooouuuughh..ooouhhhhh" Alias kesedapan bila Puan Sari menghisap dan menjilat-jilat kepala butuhnya yang juga dah mula mengeluarkan air mazi. Tangan Alias memegang kepala dan rambut Puan Sari dengan kuat.

Tiba-tiba Alias pula mengambil giliran dan memulakan tugasnya. Kedua paha Puan Sari dibuka luar dan kedua lutut ditekuk. Wajahnya rapat ke tundun Puan Sari. Tundun Puan Sari yang membukit itu diciumnya. Kemudian hidungnya turun ke celah rekahan bibir faraj. Bibir-bibir nipis yang lembab itu dihidu. Kemudian lidahnya dijulurkan dan indah Puan Sari menjadi sasaran. Klitoris Puan Sari yang telah tegang dijilat dengan rakus. Kemudian di sekitar bibir kemaluan Puan Sari. Kemaluan Puan Sari mulus tanpa sehelai bulu kerana sentiasa dicukur. Dan aku lihat Puan Sari telah klimaks untuk yang kesekian kali agaknya. Badan Puan Sari kejang dan tersentak-sentak dan sekitar kemaluannya telah basah dilimpahi air pukinya.
Seperti pengemis cinta Puan Sari meminta-meminta dan memadang ke arah Alias dan juga butuhnya dengan mata yang semakin layu tetapi penuh nafsu dan ghairah. Badan Alias ditarik-tariknya. Kasihan mendengar rayuan Puan Sari, Alias pun mengangkat dan mengangkangkan kedua-dua kaki Puan Sari sehingga lutut-lutut dan bahu Puan Sari hampir bersentuhan. Puan Sari sudah pasrah dan menunggu junaman batang kemaluan Alias yang sebentar lagi akan merodok dengan ganas. Puan Sari tak henti-henti memandang belalai Alias yang sedang menuju ke arah kemaluannya yang sudah dilimpahi oleh air pukinya yang banyak. Dan .. tiba-tiba kepala Puan Sari terangkat sedikit diikuti oleh punggungnya juga terangkat.

"Auuuuuuuuuuuwwwghhh.. mmmmmm . " hanya kedengaran jeritan dan lolongan dari mulut Puan Sari apabila kepala bulat licin Alias telah masuk separuh ke dalam lubang kemaluan Puan Sari. Kontras sekali warna belalai Alias dengan warna burit Puan Sari. Batang bulat hitam berurat terbenam dalam lubang merah di celah paha Puan Sari yang putih mulus. Mata Puan Sari terbeliak pertama kali menerima batang hitam. Dan seterusnya menujah terus ke dalam bahagian rahim Puan Sari. Pussy Puan Sari mengepit kuat batang Alias. Aku dapat lihat yang Puan Sari sedang menikmati sepuas-puasnya belalai Alias yang panjang dan besar itu. Dan sekali lagi ku lihat Puan Sari sedang klimaks. Kali ini Puan Sari klimaks dengan lama sekali. Mungkin Puan Sari benar-benar puas bila keinginannya selama ini telah terpenuhi. Puan Sari kejang dan klimaks untuk kali yang kelima.

Alias meneruskan aksinya. Aku dapat melihat dengan jelas batang hitam keluar masuk dalam lurah Puan Sari yang berwarna merah muda. Kontras sekali kulit Alias yang gelap dengan kulit Puan Sari yang putih. Aku lihat seperti gagak sedang bertenggek di atas bangau. Batang hitam tersebut terlihat berlendiran dan di selaputi buih putih. Tedengar bunyi crot, crot bila Alias melajukan tikamannya. Bulu-bulu dipangkal kemaluan Alias mengusap-usap bibir kemaluan dan indah Puan Sari. Puan Sari melonjak-lonjak punggungnya dan mengayak kiri kanan kerana terasa kelazatan. Paha Puan Sari bergetar dan kakinya menendang-nendang udara. Pahanya yang mulus itu rapat ke dada Alias.

Selepas setengah jam aku lihat Alias makin melajukan hentakannya dan sekali ditekan paling kuat dan terdengar Alias mengerang kuat. Punggungnya terhantuk-hantuk ke celah paha Puan Sari dan serentak itu juga sekai lagi Puan Sari menjerit kesedapan. Pancutan mani Alias yang kuat dan banyak tersebut menerpa ke pangkal rahim Puan Sari. Mata Puan Sari terbeliak menerima semburan manis panas kepunyaan Alias.

Kedua insan dihadapanku kelihatan lemas dan aksi mereka mengendur. Kemaluan Alias masih terendam dalam kemaluan Puan Sari. Terlihat zakar Alias masih keras. Alias membiarkan saja senjatanya terendam dalam terowong nikmat Puan Sari. Puan Sari terlentang lemah dan puas di atas tempat pembaringan. Selepas beberapa minit bila tiada lagi benihnya yang keluar, Alias menarik perlahan kemaluannya dari lubang kemaluan Puan Sari. Batang yang masih berlendir itu terjuntai separuh keras. Lubang nikmat Puan Sari masih ternganga selepas Alias menarik keluar batang balaknya. Cairan putih pekat terlihat meleleh keluar dari lubang burit Puan Sari.

Puan Sari yang terbaring bogel tersenyum puas kepada Alias. Tangannya memegang dan melurut belalai Alias yang terkulai melambai-lambai di celah paha Alias. Batang licin itu dilurut-lurutnya. Dengan senyuman puas Puan Sari menjilat batang berjuntai separuh keras yang masih berlendir. Aku terpegun melihat tindakan Puan Sari.

Aku tidak mahu ketinggalan dalam adegan seterusnya memandangkan hampir kesemua yang hadir mengambil bahagian kecuali aku. Memang tak dapat di bayangkan pada masa itu, kedua dua isteri alim bertudung labuh sedang berkerjasama menikmati permainan yg amat hebat ini.

Puan shida masih lagi sibuk di henjut – henjut oleh tiga orang murid Pak Abu bergilir gilir sambil mengeluarkan berbagai bunyi yang mengasyikan. Manakala Puan Sari tengah sibuk melayan Ustaz Salih buat kali kedua. Ustaz Salih betul betul ketagih dengan buah dada Puan Sari, dengan saiznya yang besar dan putingnya yang hitam dan panjang. Lama betul dia menjilat dan menyedut puting buah dada yang kanan dan kiri bergilir gilir seolah olah tidak mahu lepas. Puan Sari di dalam kenikmatan yang amat sangat bila buah dadanya di perlakukan begitu. Suaminya pun kalau bersama pasti akan menghisap dan menyedut dengan lama. Memang itulah kunci senggama Puan Sari. Dia pasti akan menyerahkan dirinya bila di perlakukan begitu. Seandainya ada sesiapa yg tersentuh atau terlanggar dengan dadanya secara tidak sengaja, pasti dia akan terasa getaran nikmat yg pertama kerana putingnya yang besar itu memang mudah terangsang dan seandai ada org yg pandai mengambil kesempatan pasti Puan Sari akan jadi miliknya pada masa itu, Cuma Puan Sari terselamat kerana dia bertudung labuh dan tidak ada org yang perasan.

Pernah satu ketika dia bersesak didalam komuter bersama dengan kanak kanak remaja serta para pelajar, buah dadanya asyik tergesel dengan lengan dan bahu orang yang berdiri, dia terasa amat terangsang sehingga terpaksa bergegas ke tandas selepas sampai ke perhentian kerana buah dadanya sudah pun mengeras terangsang dan pantatnya ber air. Kelakuan nya itu diperhatikan oleh remaja yg mengeselkan bahunya ke dada Puan Sari sambil menceritakan perihal itu pada 2 rakannya ada bersama.

Mereka mengekori Puan Sari hingga ke tandas dan memasukinya tanpa segan silu kerana waktu itu hari dah senja dan orang semuanya sibuk hendak pulang ke rumah masing masing tanpa menghiraukan org lain. Memang tiada org di tandas kecuali Puan Sari yg baru masuk utk melegakan dirinya dari luapan nafsu. Tindakan Puan Sari merangsang diri di bilik air dengan meramas buah dadanya sendiri di perhati dengan penuh asyik oleh tiga remaja tersebut.

Terkejut Puan Sari apabila terasa yg buah dadanya sedang diulit oleh tangan orang lain yang lebih dari sepasang malah dua pasang. Dia membuka mata dan melihat ada 3 remaja sedang meramas buah dada nya dengan hebat sambil memegang dirinya agar tidak melawan. Menyedari hakikat yg Puan Sari dalam keasyikan, salah seorang remaja tersebut dengan pantas menyingkap jubah labuh Puan Sari ke paras leher sambil di bantu oleh rakan rakan dan sepantas kilat menolak bra keatas buah dada yang sedang mengeras itu. Seronok bukan kepalang memandang terpampang di depan mata sepasang gunung kembar yg besar, putih, keras dengan puting – puting nya mengacung kedepan seolah olah meminta agar mereka di belai dan di hisap. Puan Sari cuba melawan namun sia sia kerana kedua dua puting besar buah dadanya sedang dihisap kemas dan kuat oleh kedua remaja yg rakus itu. Seorang menghisap ganas di kiri dan seorang lagi di kanan manakala seorang lagi sedang memegang Puan Sari agar tidak terlepas atau jatuh terduduk dek nikmat yang di terima.
Tangan tangan mereka meraba keseluruhan badan Puan Sari bagi menambah nikmat. Puan Sari sudah memasuki alam nikmat yang melupakan dirinya seorang isteri yang bertudung labuh dan selalu menjaga perlakuan dan tingkah laku setiap kali berhadap dengan bukan muhrim. Tapi kali ini Puan Sari tewas ketangan tiga remaja yg langsung tidak dikenalinya. Belum pernah dalam hidup nya diperlakukan bergitu oleh orang lain apatah lagi serentak dengan 3 remaja. Remaja yang layak di panggil anak kerna umur mereka sekitar 15 tahun dan 17 tahun dibanding dengan diri nya yang sudah berusia 37 tahun.

Walaupun Puan Sari tidak pernah berlaku curang atau mengalami keadaan sedemikian, namun dia tidak dapat melawan kerna buah dada nya sedang dihisap hebat dan memang itu lah kelemahan dia. Puan Sari memberi kerjasama yg cukup baik dan remaja – remaja tersebut memanafaatkan peluang itu secukupnya. Hampir 20 minit buah dada puan Sari dihisap serentak oleh 2 remaja tersebut dan berbangai bunyi yg dikeluarkan.

Belum sempat 3 remaja meneruskan aksi yang seterusnya memandangkan mangsa mereka sudah layu dan asyik yang teramat sangat, tiba tiba pintu bilik air dibuka dan masuk seorang pencuci tandas perempuan yg bertugas pada hari itu. Dia terkejut melihat seorang wanita bertudung labuh tapi sudah kusut tudungnya dan disingkap ke leher dan hampir separuh bogel memandangkan baju kurungnya sudah tersingkap ke atas dan memperlihatkan buah dada yang basah dihisap sedang dikerjakan oleh tiga remaja. Dia menjerit ketakutan dan remaja tersebut juga terkejut ketakutan. mereka terpaksa meninggalkan Puan Sari yg begitu memposana kan itu demi keselatan diri mereka. Walaupun peluang ini susah untuk diperolehi namun mereka terpaksa juga angkat kaki. Wanita pencuci tandas tersebut juga takut dan lari keluar demi menyelamatkan dirinya kerena sangkanya mereka sedang mengejarnya dan akan diperlakukan sedemekian rupa juga.

Teriakan perempuan tadi didengari oleh kawan kawan lelaki dia yg berasal dari Bangladesh dan mereka pun meluru ke tandas perempuan untuk mengetahui apa yg telah berlaku. bak kata perpatah, rezeki didepan mata jangan di tolak, begitujuga lah mereka bila mendapati Puan Sari sedang keasyikan itu mengusap usap sambil membelai dirinya untuk mencapai kemuncak nikmat kerana ketika di tinggalkan tadi dia hampir sampai kemuncak tapi terkejut dek teriakan wanita pencuci tandas.

Pemuda- pemuda Bangla yg terdiri dari Rakesh, Rajit dan Kumar terus menerkam ke arah Puan Sari bagi memastikan agar dia tidak berteriak dan membuat bising, sambil terus membelai Puan Sari yang separuh bogel it. Rajit dengan pantas menbelai dan mengusap lantas menghisap buah dada Puan Sari yg sedang keras dan besar itu, kedua dua puting buah dada Puan Sari dirapatkan agar mudah untuk dihisap serentak. ianya memang mudah memandangkan buah dada Puan Sari besar bersaiz 36C ditambah pulak dengan putingnya yang besar dan panjang, sebaik saja kedua dua puting itu masuk kedalam mulut Rajit dan di sedut keras dan pantas, Puan Sari terus mencapai kemuncaknya yang pertama dan pantatnya sudah pun ber air hebat. Rakesh yang ada dikangkang tidak sempat menarik seluar dalam Puan Sari ketika itu dan seluar itu terus basah.

Pemuda- pemuda Bangla yg terdiri dari Rakesh, Rajit dan Kumar terus menerkam ke arah Puan Sari bagi memastikan agar dia tidak berteriak dan membuat bising, sambil terus membelai Puan Sai yang separuh bogel itu Rajit dengan pantas menbelai dan mengusap lantas menghisap buah dada Puan Sari yg sedang keras dan besar itu, kedua dua puting buah dada Puan Sari dirapatkan agar mudah untuk dihisap serentak. ianya memang mudah memandangkan buah dada Puan Sari besar bersaiz 36C ditambah pulak dengan putingnya yang besar dan panjang, sebaik saja kedua dua puting itu masuk kedalam mulut Rajit dan di sedut keras dan pantas, Puan Sari terus mencapai kemuncaknya yang pertama dan pantatnya sudah pun ber air hebat. Rakesh yang ada dikangkang tidak sempat menarik seluar dalam Puan Sari ketika itu dan seluar itu terus basah.

Perbuatan Ranjit menghisap kedua dua puting buah dada Puan Sari secara serentak dengan hisapan yang kuat memang tidak disangka oleh Puan Sari. Ianya kali pertama kedua dua putingnya di hisap serentak. Suaminya tidak pernah menghisap sebegitu rupa walaupun buah dadanya besar 36C dan suaminya sememangnya kaki gila tetek besar. Suaminya selalu juga membuat perkara yang berani dengan menghisap puting buah dada Puan Sari ketika baru sampai ke tangga rumah tanpa menghirau orang yang lalu lalang atau pun jiran sebelah ( rumah kampong yang rapat – rapat ). Sebaik saja sampai ke rumah dia akan mengejar Puan Sari dan akan menangkap Puan Sari sebelum sampai ke pintu rumah dan terus mengomoli dan menyingkap tudung serta baju kurung bagi mengeluarkan buah dada yg besar itu dan menghisapnya di situ utk seketika. Puan Sari pastinya akan kesedapan dan membengkok ke belakang secara spontan dan mempamirkan secara jelas buah dada yg sedang dihisap oleh suaminya. Kalau buah dada kanan dihisap maka buah dada kiri akan jelas dapat dilihat oleh sesiapa yang ada disitu dan begitulah sebaliknya. Begitulah rutin setiap minggu cuma belum sampai ke peringkat berprojek di tangga lagi. Entah apa tujuanya pun tiada siapa yg tahu. Yang pastinya ianya satu tayangan lucah percuma utk sesiapa yg ingin melihatnya walaupun kanak kanak atau remaja, malahan orang tua. Tiada siapa yang ingin menegur. bukan senang nak tengok wayang percuma ( live ). Tidak hairan ramai tetangga yg menaruh hasrat utk menikmati tubuh Puan Sari akibat dari tayangan percuma tersebut. Bayangkan seorang isteri yg bertudung labuh didedahkan buah dada nya yg besar dan keras beserta puting yang panjang dan besar oleh suaminya sendiri utk tatapan umum dalam keadaan yang mengasyikan dengan bunyi bunyian. Siapa boleh tahan. Apatah lagi kalau isteri sendiri tidak sehebat Puan Sari. Walaupun beratus kali bersama dengan suaminya, namun tidak sekali pun buah dadanya di perlakukan seperti Rajit. Memang luar biasa nikmatnya. Mata Puan Sari seolah olah terbelalak keseronokan, tiada bandingan, sudah sampai ke langit mungkin Puan Sari.

Melihatkan Puan Sari yang keasyikan, ketiga tiga Bangla memperhebatkan serangan seksual terhadap Puan Sari. Mereka mesti melakukanya cepat kerna masa tidak menyebelahi mereka, tambahan pula mereka ada di dalam tandas wanita. Bila bila masa ajer akan ada orang yg akan masuk ke dalam. Mereka bergantian bertukar posisi agar semuanya dapat mengambil bahagian dan dapat merasa kehebatan tubuh Puan Sari secara total dan bergilir gilir. Puan Sari sudah tidak dapat diselamatkan lagi, ketiga tiga Bangla bagaikan dirasuk hantu memuntah sperma mereka kedalam lubang vagina Puan Sari. Berdas das tembakan dilepaskan oleh setiap seorang yg sudah setahun lebih tidak bersama dengan perempuan. Habis basah tudung dan baju serta kain Puan Sari di amuk oleh bangla bangla gersang.

Puan sari di biarkan terbaring keletihan di dalam tandas tanpa membetulkan pakaiannya. Ranjit dan kawan kawan berlalu pergi dengan hati yg puas selepas berkenduri dengan wanita manis berjilbab. Ternyata satu pengalaman yang luar biasa dan hanya datang sekali dalam hidup.

Setelah 20 minit berlalu, Puan Sari tersedar dari keletihanya dan cepat cepat membersihkan diri memandangkan waktu sudah hampir senja. Dia harus segera pulang, nanti akan di khuatiri oleh suaminya pulak. Apa yg telah berlaku dipendam saja dulu memandangkan perkara yg pertama harus dilakukan adalah berangkat pulang sebelum suaminya. Apabila di fikirkan rasanya celaru tetapi utk memberitahu suaminya apa yg telah terjadi adalah satu kesilapan. Mana ada suami yg mahu dengar atau terima hakikat yg isterinya telah di perkosa secara bergilir gilir oleh 3 remaja dan 3 bangla. Sesuatu yg amat payah nak di terima oleh para suami. Setelah di fikirkan masak masak, Puan Sari mengambil keputusan utk tidak memberitahu suaminya.

Setibanya di rumah, suaminya masih belum pulang. Peluang ini di gunakan sepenuhnya oleh Puan Sari untuk membersihkan dirinya agar tidak dapat di ketahui oleh suaminya sambil memikirkan peristiwa yg dasyat tadi. Tidak pernah dirinya di perkosa begitu apatah lagi oleh sebilangan org yg ramai secara bergilir gilir. Malahan Puan Sari dapat merasakan kenikmatan yg tak terhingga yg belum pernah dia kecapi selama ini. Rupa rupanya seronok juga di perkosa asalkan tidak dikasari. Dia bersyukur kerna tiada kesan kesan fizikal pada tubuhnya kecuali di sekitar buah dadahnya yg menerima asakan yg hebat, namun begitu Puan Sari juga mendapat pengalaman baru dimana kedua dua puting buah dadanya di hidap secara serentak dan pengalaman dan nikmat itu tidak terhingga hebatnya. Mahunya agar dia senantiasa di perlakukan begitu. Sambil dia termenung mengenangkan peristiwa yg baru berlaku itu, secara tidak sedar dia sendiri sedang merangsang diri dengan memiling miling puting buah dadanya sendiri sambil perlahan lahan mengeluarkan suara yg mengasyikan.

Tanpa Puan Sari sedari, setiap perbuatan dan tingkah lakunya di dalam rumah sedang di intai oleh jiran tetangganya, Rosdi, yg menjadi penonton tetap sendiwara Puan Sari dan suaminya di atas tangga setiap kali suaminya melahapkan buah dadanya di luar rumah. Rosdi adalah bekas seorng askar yg bersara awal utk menceburi bidang perniagaan tapi tidak berapa berjaya. Banyak masanya dihabiskan di rumah sambil mengintai Puan Sari. Dia ada menaruh hasrat utk menikmati tubuh Puan Sari suatu hari. Setiap kali melihat buah dada Puan Sari yg besar dan keras di ramas dan di sedut, dia pasti tidak akan keruan dan jiwa meronta ronta utk turut serta dalam adegan tersebut.

Tapi hari ini peluangnya terbuka luas kerna suami Puan Sari masih belum pulang dan Rosdi dapat mengintai Puan Sari di dalam bilik air bermain dengan dirinya. Rezeki katanya. Dia harus bertindak cepat sebelum suami Puan Sari pulang. Menggunakan kepakaranya sebagai askar, dia berjaya memecah masuk kerumah Puan Sari tanpa di sedari dan perlahan pelahan menuju ke bilik air. Pada ketika itu, Puan Sari baru melangkah keluar dengan hanya memakai sehelai tuala yg membalut bahagian bawah pusat dan membiarkan dada nya terlanjang. Melihatkan Puan Sari yg separuh bogel, Rosdi tanpa berfikir panjang terus menerkam dari belakang dan tangan dengan pantas meramas buah dada Puan Sari utk menundukankan agar tidak melawan. Cepat dia dapat menguasai buah dada Puan Sari maka cepatlah Puan Sari akan jadi miliknya……

Tanpa Puan Sari sedari, setiap perbuatan dan tingkah lakunya di dalam rumah sedang di intai oleh jiran tetangganya, Rosdi, yg menjadi penonton tetap sendiwara Puan Sari dan suaminya di atas tangga setiap kali suaminya melahapkan buah dadanya di luar rumah. Rosdi adalah bekas seorang askar yg bersara awal utk menceburi bidang Perniagaan tapi tidak berapa Berjaya. Banyak masanya dihabiskan di rumah sambil mengintai Puan Sari. Dia ada menaruh hasrat utk menikmati tubuh Puan Sari suatu hari. Setiap kali melihat buah dada Puan Sari yg besar dan keras di ramas dan di sedut, dia pasti tidak akan keruan dan jiwa meronta ronta utk turut serta dalam adegan tersebut.

Tapi hari ini peluangnya terbuka luas kerna suami Puan Sari masih belum pulang dan Rosdi dapat mengintai Puan Sari di dalam bilik air bermain dengan dirinya. Rezeki katanya. Dia harus bertindak cepat sebelum suami Puan Sari pulang. Menggunakan kepakaranya sebagai askar, dia Berjaya memecah masuk kerumah Puan Sari tanpa di sedari dan perlahan pelahan menuju ke bilik air. Pada ketika itu, Puan Sari baru melangkah keluar dengan hanya memakai sehelai tuala yg membalut bahagian bawah pusat dan membiarkan dada nya terlanjang. Melihatkan Puan Sari yg separuh bogel, Rosdi tanpa berfikir panjang terus menerkam dari belakang dan tangan dengan pantas meramas buah dada Puan Sari utk menundukankan agar tidak melawan. Cepat dia dapat menguasai buah dada Puan Sari maka cepatlah Puan Sari akan jadi miliknya. Dia amat mengetahui akan hal itu hasil dari intipan dan tayangan yg di tonjolkan oleh Puan Sari dan suaminya setiap kali beradegan dia atas tangga.

Dengan lembut tapi pantas, Rosdi membelai belai buah dada Puan Sari di sebelah kanan dan kiri sambil bibirnya mencium tengok dan belakan Puan Sari yg baru selesai mandi, tanpa menyedari hakikat yg Puan Sari sudah pun diperkosa oleh beberapa org secara serentak pada hari itu juga. Buah dada Puan Sari makin mengeras dan putingnya semakin memanjang dan membesar, menandakan Puan Sari semakin asyik dan tidak dapat menyelamatkan dirinya laginya. Dia sudah mencapai peringkat dimana dirinya sudah tidak dapat dikawal secara rasional lagi dan ini amat mengembirakan Rosdi, akhirnya cita cita dan hasratnya nya akan tercapai pada hari ini juga, sudah agak lama dia menunggu peluang dan membilang hari sambil merancanakan peluang ini.

Mendengarkan Puan Sari yang mula mendesah, Rosdi pun memalingkan tubuh Puan Sari dan mula mengucup bibir Puan Sari secara lembut agar ianya dapat dinikmati bersama sambil mengharapkan agar Puan Sari member respon yg di harapkan. Bibir Puan Sari ternyata teramat lembut dan sungguh enak dan sedap dicium sambil disedut lembut. Tindakan itu dibalas oleh Puan Sari dengan baik sekali, dia mula membalas setiap ciuman yang di berikan, menghangatkan lagi suasana. Tiada lagi di fikiran nya yang dia adalah seorang isteri yang bertudung labuh, yang menjaga kehormatannya hanya untuk suaminya sahaja. Apatah lagi setelah dia di perkosa bergilir gilir org mat mat bangla di dalam tandas wanita.

Rosdi memperhebatkan rangsangan pada Puan Sari agar penyerahan menjadi seratus peratus. Ciumanya beralih kebawah tengok hingga ke dada dan terus melekap pada puting buah dada yg besar itu. Ianya memang idaman Rosdi buat sekian lama, akhirnya jatuh jua kedalam mulut nya. Dengan lembut tapi kemas puting kanan di hisap dan di sedut manakala yg kirinya di gentel gentel utk memberi kepuasan maksimum. Puan Sari sudah hanyut dalam kesedapan dan Rosdi memang mengetahuinya. Berbagai gaya sedutan dan ramasan yang digunakan dalam usaha merealisasikan segala bayangan didalam kepalanya ketika dia menonton adegan Puan Sari dengan suaminya. Lama sungguh rosdi menghisap, kalaulah buah dada Puan Sari mempunyai susu, sudah lama ianya kering namum rosdi masih lagi menghisap. Tangan nya mula membuka ikatan tuala di pinggang Sari agar mudah utknya membelai pantat yg sudah pun lenjun dek air kasih.

Tangan Rosdi mula mengusap kemaluan Puan Sari yang kelihatan membukit itu. Tangan Rosdi terus telah menikmati kekenyalan bukit kemaluan Puan Sari

Tidak sabar lagi, Rosdi terus membenamkan wajahnya di kemaluan Puan Sari. Lidah Rosdi terjulur menjilati kelentit yang menonjol di antara bibir kemaluan Puan Sari. Saat lidahnya mulai menyapu kelentit Puan Sari tiba-tiba pinggulnya menggelinjang diiringi desahan puan Sari yg alim bertudung labuh ini.

Belahan bibir kemaluan Puan Sari dengan kelentit yang menonjol di tengahnya, terlihat semakin nampak jelas. Bulu-bulu kemaluan yang tercukur rapi di bukit kemaluan ibu alim ini juga terlihat semakin jelas. Melihat pemandangan indah di selangkang Puan Sari, membuat Rosdi menjadi semakin tidak sabar.


Bibir kemaluan Puan Sari terlihat merekah kemerahan dengan kelentit menonjol kemerahan di tengahnya. Rosdi menjadi sangat terangsang melihat hal ini. Dengan bernafsu, Rosdi menghirup dan menjilati cairan kenikmatan Puan Sari yang menetes dari kemaluannya.Rosdi merasa paha Puan Sari bergetar lembut ketika lidah Rosdi mulai menjalar mendekati selangkangnya.
Puan Sari menggeliat kegelian ketika akhirnya lidah itu sampai di pinggir bibir kewanitaannya yang telah terasa menebal. Ujung lidah Rosdi menelusuri lepitan-lepitan di situ, menambah basah segalanya yang memang telah basah itu. Temengah-mengah, Puan Sari mencengkeram rambut Rosdi dengan satu tangan, seolah olah cuba menghalang Rosdi dari meneruskan perbuatan itu.


Rosdi segera menjilat di daerah yang paling sensitif milik Puan Sari . Puan Sari mengeliat hebat ketika lidah dan bibir Rosdi menyusuri sekujur kemaluan ibu alim ini. Mulut wanita ini mendesah-desah dan merintih-rintih saat bibir kemaluannya di kuak lebar-lebar dan lidah Rosdi terjulur menjilati bagian dalam kemaluannya. Ketika lidahnya menyapu kelentit Puan Sari yang telah mengeras itu, Puan Sari merintih hebat dan tubuhnya mengejang sehingga terangkat.

Rosdi terus mengunyah-ngunyah kemaluan Puan Sari beberapa saat yang membuat ibu alim bertudung labuh ini mengerang dan merintih. Rosdi mula menggeselkan batangnya pada kemaluan Puan Sari.. Perlahan-lahan Rosdi menekan batang ke ruang yang terasa hangat dan sempit itu. Kemaluan Puan Sari telah pun cukup basah untuk memulakan hubungan seksual. Rosdi menekan perlahan-lahan dan menarik kembali. Tindakan Rosdi itu diiringi dengan keluhan daripada Puan Sari.

“Ahhh..Ahh...” rintih Puan Sari dengan nafas tersekat sekat. Sememangnya kemaluan Puan Sari terasa sempit sekali seperti anak gadis. Rosdi semakin garang lantas membenamkan keseluruhan batangnya ke dalam kemaluan Puan Sari. Puan Sari tersentak dan cuba sedaya upaya untuk menyediakan dirinya dengan kemasukan batang yang berlainan saiz dari milik suaminya ini..

Rosdi mula mengenjut kemaluan Puan Sari dengan perlahan pada mulanya dan semakin lama semakin laju. Dengusan dan keluhan Puan Sari semakin kuat. Gesekan antara batang Rosdi dengan kelembutan dinding dalam kemaluannya membuatnya tewas pada keasyikan berhubung badan. Rosdi kini menindih dan memeluk Puan Sari dan memberikannya ciuman penuh bernafsu. Payudara Puan Sari yang begitu gebu ini terasa begitu nikmat ditindih dengan dadanya.

Peluh yang membasahi dua tubuh ini seolah-olah hanya melincirkan lagi pelayaran mereka. Wajah Puan Sari kelihatan begitu terangsang sekali. Gerakan demi gerakan oleh Rosdi semakin laju.

Tangannya mula memeluk Rosdi dan mula mencakar belakang Rosdi. Meskipun terasa sakit Rosdi, terus menerus mengenjut dan menekan sedalam-dalamnya kerana menyedar yang Puan Sari akan sampai ke puncaknya. Kemaluan Puan Sari terasa semakin basah dan semakin sempit. Kehangatannya membuatkan Rosdi tidak lagi mampu mengawal lantas menghamburkan pancutan air maninya di dalam kemaluan Puan Sari. Puan Sari juga mengalami orgasmanya pada waktu yang sama. Kedua-duanya berpelukan erat dengan nafas termengah-mengah.

Rosdi merasa cukup nikmat namun masih lagi belum puas dan masih lagi menindih tubuh mulus itu. Puan Sari mula serba salah di atas apa yang berlaku dan cuba untuk bangun. Namun Rosdi lebih pantas menahannya dan terus menciumnya dan berpelukan. Bersetubuh dengan wanita alim seperti Puan Sari benar-benar merangsang nafsunya. Puan Sari cuba membantah namun Rosdi berkeras untuk terus memeluk dan terus mencumbuinya.

Demikian kejadian yang disedari malah disukai oleh Puan Sari. Sampai bila? Takdir yang menentukan

----------------
ubject: Sandwich Asmara....
To:


Aku bertugas sebagai seorang penghibur di salah sebuah kelab di Kuala Lumpur. Di sebabkan selalu pulang lewat malam, kadang-kadang pagi, aku memerlukan seorang yang boleh dipercayai untuk melindungi diri aku dari bahaya perompak atau sewaktu dengannya. Dari situlah aku diperkenalkan kepada A oleh seorang kawan.
Entah macammana aku boleh terus terpikat dengan A, dan terus hidup sebagai laki bini. Hidup di kelilingi jiran tetangga cina dan india tak siapa peduli dah nikah ke belum. Malah tak siapa pernah tanya apa status kami sejak kami pindah ke situ setahun lalu.
A mempunyai susuk tubuh yang hebat. Mungkin kerana tugasnya sebagai bonzer 'pelindung', dia harus punya tubuh sedemikian. Muka dia tak lah hensem sangat, tapi mat smart. Selalu kemas bila kemana-mana.
Satu malam, sebaik saja aku buka pintu rumah, ada seorang lelaki sedang asyik menonton vcd di ruang tamu. A terus perkenalkan aku dengan kawannya B. Kata A, dia yang ajak B bermalam di situ sebab B adalah kawannya yang baru tiba dari Sabah. Aku tak kesah. Dan aku terus masuk ke bilik, mandi dan kemudian dapatkan kembali A dan B yang asyik menonton. Aku buatkan kopi untuk A dan B. Pizza segera dalam peti sejuk aku keluarkan dan masukkan dalam microwave oven utk dipanaskan. Kemudian aku ke ruang tamu hidangkan pada mereka.
Scene vcd yang ditonton semakin daring. Aku kurang pasti tajuknya, tapi sedang mempamirkan dua lelaki sedang mengerjakan seorang wanita. Aku terus mengambil tempat duduk di celah peha A yang duduk di sofa. Semakin lama, cerita semakin hangat, dan tangan A mula merayap ke dada aku, mencari puting susu yang sudah mula terangsang. Kerana tidak memakai pakaian dalam, mudah saja jari A mencapai puting susuku. A memeluk aku dr belakang, mencium rambutku dan telingaku. Aku semakin berahi bila A menggentel lembut puting susuku dan mencium pipi aku.
A tiba-tiba bangun dan menarik tangan aku, lalu mendukung aku terus masuk ke bilik meninggalkan B keseorangan di ruang tamu. Kucupan demi kucupan bermain di bibir dan silih berkulum dan bertikam. A baringkan aku di katil dan melucutkan kesemua pakaiannya. Faham dengan arahan mata A, aku juga turut membuka pakaian tidur ku yang bertali halus diperbuat dari satin berwarna maroon. A terus menerpa dan mendakap aku lalu di cium seluruh tubuh aku.
"ohh bee… sedap bee… eesssss… sedap…" rengekkan mula kedengaran bila A memainkan lidahnya di cipap aku. Dijilat, dihisap dan dijolok lidahnya sedalam mungkin ke lubang cipap. Sedapnya memang sukar dinyatakan. A memang pandai melakukan oral sex sambil jari hantunya pasti dijolokkan bersama ke lubang cipap yang sedia basah ditambah air berahi yang keluar akibat tindakan A.
A bangun setelah aku mencapai klimax 2 kali dengan oral sexnya. Dihulurkan batang penisnya yang keras tegang ke mulut aku. Sambil duduk di hujung katil dan A berdiri aku mengulum penis A dengan berahi. Aku mainkan hujung lidahku di lubang batang penis A. Aku jilat dan belai buah zakar A. Kemudian aku nyonyot dan hisap seluruh batang penis A dengan ghairah sekali sehingga A mendesah dan tangannya terus mengarahkan aku sorong tarik batangnya dengan mulutku.
"Fuck me please bee… I want yur dick… please bee……" aku hentikan oral sex ku dan merayu A memasukkan batang penisnya kedalam lubang cipap yang sedang gatal basah berahi. Dengan mengangkat kedua kaki ku ke atas dan di letakkan ke atau bahu kirinya, A mulakan tusukan.
"Ahhhh… honeyyy" A mendesah sebaik batang penisnya yang tegang mencicah dan melalui lubang cipap yang masih tergolong dalam kategori ketat. Aku sedikit mengerang kerana merasakan nikmat bila lubang cipap ku di tusukkan dengan lembut oleh batang A yang besar dan tegang dan keras.
"Ooouuughhhhh… bee… sedapnya bee…. push it harder bee… pull it slowly… ahhhh…… ahhh… ahhh…" erangan demi erangan keluar dan mainan terus berlangsung dengan begitu nikmat sekali. Setelah puas bermain dengan kaki terangkat ke atas, kami lakukan cara duduk dengan A bersila dan aku merangkul punggungnya dengan kedua belah kaki ku. Sambil punggung aku ayak turun naik, kami saling berkucupan dan mengerang lagi kesedapan sehingga aku klimax beberapa kali. A kemudian berbaring dan aku di atasnya sekarang. A meramas buah dada ku dan menarik tubuhku mendakapnya lalu kami berkulum lidah sambil punggung tetap mengayak mengatur rentak kesedapan.
Aku seolah berada di awangan bila terasa punggungku diuli dan dikuak dan lubang anal ku seperti dijilat dan di jolok-jolok perlahan dengan sesuatu yang lembut dan panas. A terus mengucup bibirku tanpa memberi peluang aku melihat apa sebenarnya yang sedang berlaku. Dari cermin almari dapat aku lihat B sedang asyik mengerjakan lubang anal aku. Agak lama lubang anal ku di perlakukan sedemikian dan aku semakin seronok dan kesedapan. Lubang anal yang belum diteroka dalam games kali ini kembang kincup dan ku buka tanda bersedia untuk menerima apa juga tindakan B seterusnya. A terus mengulum lidahku. Punggungku terus di kuak dan dengan perlahan, terasa sesuatu yang besar dan keras sedang menerokai lubang anal ku.
Aku terpejam seketika menahan sedikit rasa sakit. A menghentikan asakannya di lubang cipap ku memberi laluan kepada lubang anal ku di tusuki B. A memelukku erat penuh kasih. Sedang B terus berusaha memasukkan keseluruhan batangnya ke lubang anal ku. Hanya setengah saja yg berjaya dan B teruskan juga menyorong keluar masuk batangnya dalam lubang anal aku. B menarik belakang badanku merapati dadanya dan di ciuminya aku dari belakang. A meramas buah dadaku. Kerana kenikmatan yang tidak terhingga, kami mengatur rentak penuh sensasi dan sesekali badan kami seperti roti sandwich di mana aku di tengah-tengah menjadi rencah penyedap roti yang menghimpit atas bawah.
"Ahhhhgggghhrrrrhhhhhh…… bee… ahhh… ahhh…… sedapnya bee…… aauughhhhh bee… harder bee…" entah apa saja erangan yang keluar dari mulut aku melahirkan rasa nikmat yang sungguh luar biasa. A dan B sama-sama mengayak dan menyorong tarik batang mereka. B melajukan hentakkannya dan tiba-tiba kedengaran erangannya yang begitu kuat diiringi air panas memancut di dalam lubang anal dan mengalir keluar kerana tidak mampu menampung pancutannya yang begitu banyak. B menarik keluar perlahan batangnya dari lubang anal aku, dia mendapatkan aku lalu menciumi pipi ku dan berlalu ke bilik air.
A kembali membaringkan aku dan dimasukkan batangnya yang masih keras ke lubang cipap aku. Kedua kaki ku diangkat naik ke bahunya. Sorong tariknya semakin laju dan laju dan tak lama kemudian A memancutkan air maninya ke dalam lubang nikmat kepunyaanku. Banyak dan hangat hingga meleleh keluar membasahi bantal yang mengalas punggungku.
"Sedap bee…" aku berkata jujur kepada A. Aku kelemahan tidak berdaya Dibelainya rambutku dan dikucup mesra bibirku.
"Hmmmm…… you want somemore honey?" aku menggeleng lemah. A tersenyum dan mencuit manja hidungku.
A menggendong aku ke bilik air. Ambil shower sekali lagi untuk menyegarkan badan. Setelah berpakaian kami ke ruang tamu, makan pizza dan minum kopi yang sudah kesejukan. B ku lihat selamba berbaring di sofa tanpa berpakaian. Aku sedar B memerhatikan aku sejak aku keluar dari bilik dan A pulak tiba-tiba minta permission untuk keluar beli rokok.
Bila tinggal berdua saja dengan B, aku rasa you all pun boleh menduga apa yang terjadi seterusnya. Bukan saja sandwich, segala rojak mamak, nasi kerabu semua ada. Tapi nantilah aku cerita di episod yang lain.
-- 
Cikgu Miah dengan Bomoh

Namaku Salmiah. Aku seorang guru. Di kampung aku lebih dikenali dengan panggilan Cikgu Miah. Aku ingin menceritakan satu pengalaman hitam yang berlaku ke atas diriku sejak enam bulan yang lalu dan berterusan hingga kini. Ianya berlaku kerana kesilapanku sendiri. Kisahnya begini: Kira-kira enam bulan yang lalu aku mendengar cerita yang suamiku ada menjalinkan hubungan dengan seorang guru di sekolahnya. Suamiku seorang guru di sekolah menengah di kampungku. Dia berkelulusan ijazah dari universiti tempatan sedangkan aku cuma guru maktab sahaja. Aku tanpa usul periksa terus mempercayai cerita tersebut. Aku cuma terbayangkan nasib dua anakku yang masih kecil itu. Akupun boleh tahan juga dari segi rupa dan bentuk badan kerana kedua-dua anakku menyusu botol. Cuma biasalah lelaki walau secantik manapun isterinya, tetap akan terpikat dengan orang lain, fikir hatiku.
Diam-diam aku telah pergi kerumah seorang bomoh yang pernah aku dengar ceritanya dari rakan-rakanku di sekolah. Aku pergi tanpa pengetahuan sesiapa walaupun teman karibku. Pak Itam adalah seorang bomoh yang tinggal di kampung seberang, jadi tentulah orang-orang kampungku tidak akan tahu rahsia aku berjumpa dengannya. Di situlah bermulanya titk hitam dalam hidupku hingga ke hari ini. Aku masih ingat lagi apabila Pak Itam mengatakan bahawa suamiku telah terkena buatan orang dan menyuruh aku meminum air penawar untuk mengelakkan dari terkena sihir wanita tersebut. Selepas kira-kira lima minit meminum air penawar tersebut kepala aku menjadi ringan dan perasaan ghairah yang tidak dapat dibendung melanda secara tiba-tiba.
Pak Itam kemudian mengarahkan aku berbaring menelentang di atas tikar mengkuang di ruang tamu rumahnya dan mula membacakan sesuatu yang tidak aku fahami dan menghembus berulang kali ke seluruh badanku. Saat itu aku masih lengkap berpakaian baju kebarung untuk ke sekolah pada petangnya. Selepas aku berasa agak khayal dan antara lena dan terjaga aku merasakan tangan Pak Itam bermain-main di butang baju kebarungku. Aku tidak berdaya berbuat apa-apa melainkan berasa ghairah yang amat sangat dan amat memerlukan belaian lelaki. Kedua-dua buah dadaku terasa amat tegang di bawah baju dalamku. Putingku terasa menonjol, dan celah kemaluanku terasa hangat dan mula becak. Aku dapat merasakan Pak Itam mengangkat kepalaku perlahan-lahan ke atas bantal sambil membetulkan tudungku dan seterusnya mula menanggalkan pakaianku satu persatu, bermula dari kebarung, kain sarung, coliku yang berukuran 36 dan akhir sekali melurutkan seluar dalamku ke bawah. Setelah itu aku berbaring tanpa sebarang pakaian kecuali tudungku. Antara sedar dengan tidak, ku lihat Pak Itam mengambil tempat di hadapan tubuhku, berlutut seraya menguakkan kedua-dua belah kakiku melebar. Kusedari Pak Itam mula merangkul sekujur tubuhku. Lidahnya mula menjalar di bahagian dadaku seterusnya mengulum dan melumat bonjolan di dadaku dengan rakus. Ketika itu aku terasa amat berat untuk membuka mata.
Setelah aku mendapat sedikit tenaga semula aku berasa sangat ghairah dan kemaluanku terasa bagaikan dielus-elus sesuatu yang kesat memberikan aku kenikmatan yang tiada taranya. Barulah aku dapati yang mulut Pak Itam sedang melumat kemaluanku. Aku berdaya menggerakkan tanganku dan terus mencapai kepala Pak Itam yang sedang berada dicelah kelangkangku. Aku menekan-nekan kepala Pak Itam dengan agak kuat supaya jilatannya lidahnya dapat menjolok masuk dengan lebih dalam lagi. Aku mengerang sambil membuka mataku yang lama terpejam. Alangkah terkejutnya aku apabila aku membuka mata aku terlihat dalam samar-samar itu dua lembaga lain sedang duduk bersila menghadap aku dan memandangku dengan mata yang tidak berkedip. "Cikgu" tegur seorang lelaki yang masih belum aku kenali duduk di sebelah kanan badanku yang telanjang bulat. Setelah aku amat-amati barulah aku kenal, "Leman" detik hatiku. Leman adalah anak Pak Semail tukang kebun sekolahku yang baru sahaja habis peperiksaan SPMnya. Aku agak kelam-kabut dan malu. Aku cuba meronta untuk melepaskan diri dari genggaman Pak Itam. Menyedari yang aku telah sedarkan diri Pak Itam mengangkat kepalanya dari celah kelangkangku dan bersuara. "Tak apa Cikgu, diorang berdua ni anak murid saya" ujarnya sambil jari telunjuk dan ibu jari kirinya mengulit-ulit sambil menggosok-gosok alur kemaluanku yang basah becak.
Sebelah lagi tangannya digunakan untuk menolak semula kepalaku ke bantal. Aku seperti orang yang sudah kena pukau terus baring semula dan membesarkan kangkanganku tanpa disuruh. Aku memejamkan mata semula. Pak Itam mengangkat kedua-dua kakiku dan diletakkannya ke atas bahunya. Apabila dia menegakkan bahunya punggungku juga ternaik sekali. Pak Itam mula menjilat semula bibir cipapku dengan rakus dan terus dijilat sehingga ke ruang antara cipap dan duburku. Apabila lidahnya yang basah itu tiba di bibir cipapku terasa sesuatu yang hangat dan menggelikan berlegar-legar di situ. Aku merasa kegelian serta nikmat yang amat sangat. "Leman, Kau pergi ambil minyak putih di hujung katil, kau Ramli, ambil kemenyan dan bekasnya sekali di hujung tu." Arah Pak Itam kepada kedua-dua anak muridnya. Aku tersentak dan terus membuka mata. "Cikgu ni rawatan pertama, jangan takut, bangun dulu. Duduk baik-baik ya." Arah Pak Itam kepada aku. Aku seperti lembu dicucuk hidung terus mengikut arahan Pak Itam. Aku duduk sambil sebelah tangan menutup buah dadaku yang tegang dan sebelah lagi ku capai pakaianku yang berterabur untuk menutup bahagian kemaluanku yang terdedah. Setelah mencapai kain kebarungku ku tutupi bahagian pinggang ke bawah dan kemudian membetulkan tudungku untuk menutupi buah dada.
Setelah barang-barang yang diminta tersedia dihadapan Pak Itam beliau menerangkan kaedah rawatan sambil kedua-dua muridnya malu-malu mencuri pandang kearah dadaku yang dilitupi tudung tetapi berbalam-balam kelihatan di bawah tudung tersebut." Ni saya nak bagitahu ada sihir yang dah terkena bahagian-bahagian tertentu dibadan Cikgu, punggung Cikgu dah terkena penutup nafsu dan perlu dibuang." Aku cuma angguk.
"Sekarang Cikgu sila berbaring" Aku memandang tepat kearah Pak Itam dan kemudian pandanganku beralih kepada Leman dan Ramli." Tak apa, diorang ni belajar, kenalah tengok" balas Pak Itam seakan-akan mengerti perasaanku. Akupun terus berbaring menelentang di atas tikar mengkuang itu. Pak Itam menarik kain baju kebarung yang kupegang lalu dilempar semula ke sisi. Tubuhku kini terdedah sepenuhnya untuk sentuhan dan santapan Pak Itam. Pelahan-lahan dia mengurut pehaku yang pejal putih berisi dengan minyak yang diambil Leman. Aku berasa khayal semula, punggungku terkemut-kemut menahan kesedapan lumuran minyak Pak Itam. Kemudian ku rasakan tangan Pak Itam menggosok-gosokkan telapak tangannya hingga ke bukit tundunku yang gemuk menantang ke atas, berputar-putar di situ. Aku memandang ke arah Pak itam yang duduk disebelah kiriku. " Ha angkat punggung sikit" jelasnya seakan memahami. Aku menurut kemahuannya. Sekarang aku berada dalam posisi menelentang. Pak Itam menolak kedua-dua kakiku agar lebih berjauhan dan mula melumurkan minyak ke celah-celah bahagian rekahan pehaku yang terbuka. Jari tengahnya sedikit-sedikit menguit biji mutiara yang terserlah dan lembab di situ. Tanpa dapat dikawal satu erangan kesedapan terkeluar dari mulutku. Pak Itam menambahkan lagi minyak di tangannya dan mula bermain di bibir cipapku. Aku meramas bantal kesedapan. Sambil itu jarinya cuba menyucuk lubang cipapku yang telah lama berair. "Jangan kemut biarkan sahaja" terdengar suara Pak Itam yang terlekat di rongga. Mungkin Pak Itam terasa cipapku mengemut jarinya. Aku cuba merilekskan otot cipapku dan menakjubkan jari Pak Itam yang licin berminyak dengan mudah masuk sehingga ke pangkal. Setelah berjaya memasukkan jarinya Pak Itam mula menggerakkan jarinya keluar masuk lubang cipapku. Aku cuba membuka mataku yang kuyu kerana kesedapan untuk melihat Leman dan Ramli yang sedang membetulkan sesuatu di dalam seluar mereka. Aku berasa satu macam keseronokan pula melihat mereka sedang memerhatikan aku berubat.
Setelah perjalanan jari Pak Itam lancar keluar masuk cipapku dia mula melutut di hadapanku setelah melipatkan kedua-dua kakiku ke atas dan membukanya supaya lebar. Sambil jarinya masih terbenam kemas dalam cipapku. Aku memandang Pak Itam yang sekarang menyingkap kain pelikatnya ke atas dan terhunuslah tombaknya yang panjang dan bengkok ke atas itu.
"Bbbbuat apani Pak cik"
"Jangan risau ni nak buang sihir" katanya sambil melumur minyak ke tombaknya yang agak besar bagi seorang yang kurus dan agak rendah. Selesai berkata-kata Pak Itam menarik jarinya keluar dan terus menghalakan tombaknya tepat ke lubang cipapku. Dapat kurasakan kepala tombak Pak Itam yang tumpul dan gempal bagaikan topi Jerman itu menempel di antara dua bibir cipapku. Hangat dan mengghairahkan. Aku hanya mampu membiarkan saja lantaran dipengaruhi kenikmatan daripada perlakuannya tadi. Dan Pak Itam mula menekan masuk kepala tombaknya perlahan-lahan tapi pasti.
"ARRrgggghhggh" Aku terjerit kengiluan sambil mengangkat kepala dan dadaku keatas. "Jangan kemut, biar dia masuk dulu" arah Pak Itam yang sedang merenggangkan daging bibir cipapku dengan telunjuk dan ibu jari kanannya. Setelah aku meneran sedikit hampir separuh tombak Pak Itam telah terbenam kemas ke dalam cipapku. Aku melihat Leman dan Ramli sedang meramas sesuatu di dalam seluar masing-masing. Setelah berjaya memasukkan setengah zakarnya Pak Itam menariknya keluar semula dan menekan masuk kembali sehingga keseluruhan senjatanya tenggelam kedalam liang cipapku. Pak Itam menekan begitu rapat hinggakan bulu-bulu kami bertemu. Dia berhenti disitu. " Cikgu dok diam-diam, ini tak ada apa-apa" ujarnya sambil zakarnya terbenam kemas dalam cipapku. Aku sekarang dapat merasakan yang zakar Pak Itam sedang tertanam kemas dan padat dalam cipapku. Pak Itam mula mengenyut-ngenyut perlahan sambil memegang pinggangku. Kedua-dua murid Pak Itam telah mengeluarkan zakar masing-masing sambil melancap. Aku berasa sangat malu tetapi terlalu nikmat. Zakar Pak Itam terasa berdenyut-denyut dalam cipapku. Aku juga mula mengemut-ngemut zakar Pak Itam yang besar itu. Di saat ini, aku terbayang wajah suamiku seakan-akan sedang memerhatikan tingkah lakuku bersama Pak Itam ini.
Aku hanya mendiamkan diri sambil menikmati perlakuan Pak Itam. Matanya terpejam rapat sambil mulutnya terkumat-kamit seperti sedang membaca sesuatu. Sesekali Pak Itam menarik senjatanya keluar secara perlahan-lahan dan menujah semula dengan ganas. Setiap kali menerima tujahan Pak Itam setiap kali itulah aku mengerang kesedapan. Setelah hampir 20 minit, Pak Itam mula melakukan pergerakan tujahan dengan laju. Sebelah tangan memegang pinggang dan sebelah lagi memeluk pahaku yang terangkat ke atas. Aku menurut gerakan Pak Itam sambil menggayak-ayakkan punggungku ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba Pak Itam menekankan tombaknya rapat-rapat dan hayunannya terhenti. Dan aku rasakan sesuatu benda cair yang hangat memancut deras ke dalam rongga cipapku yang paling dalam. Banyak sekali ku rasakan cecair tersebut. Aku memainkan kelentitku dengan jariku sendiri sambil Tok Itam menindihkan badannya memeluk aku. Tiba-tiba sisi sebelah kiri pinggangku pula terasa panas dan basah, Leman rupanya terpancut. Ramli merapatkan zakarnya yang berwarna unggu ke sisi buah dadaku dan terpancut membasahi hujung putingku. Aku terus mengemut-ngemut zakar Pak Itam dan bekerja keras untuk mencapai klimaks. Pak Itam hanya mendiamkan diri mungkin memahamiku situasiku. Dan, "Arghhhhhhhrgh" aku klimaks dalam pelukan Pak Itam. Tubuhku bergetar-getar halus. Melihat itu, Pak Itam segera mencabut zakarnya dan melumurkan cairan yang melekat dizakarnya ke atas bukit tundunku.
"Jangan basuh ni sampailah waktu Maghrib' Katanya sambil melondehkan kain pelikatnya. Aku masih lagi menelentang dengan tudung kepalaku sudah terlondeh hingga ke leher. Aku merasakan bibir cipapku sudah longgar dan berusaha mengemut untuk meneutralkannya semula. Setelah itu aku bangun dan mencapai pakaianku yang bersepah satu persatu. Setelah mengenakan pakaian dan bersedia untuk pulang setelah dimalukan begitu rupa, Pak Itam berpesan. " Pagi besok datang lagi, bawa sedikit beras bakar". Aku seperti orang bodoh mencapai beg sekolahku dan terus menuruni tangga rumah Pak itam.

KEMBARA PAKUDA 13


Dalam pada itu, Jagjit menunaikan janjinya memberiPak Uda merasa pantat dan lubang bontot isterinya Sukinder . Biarpun batang Pak Uda tak sebesar Jagjit, namun kekerasan dan ketahanannya membuatkan Sukinder selalu menghubungi PakUda untuk bersetubuh dari semasa ke semasa.

Sukinder Kaur, isteri Jagjit yang baru berumur 28 tahun itu memang seksi orangnya. Ukuran badannya 36-26-38 dengan ketinggian 5’ 7” selalu menjadi siulan anak muda bila dia lalu di tempat mereka melepak. Tambahan pula Sukinder agak moden sedikit dan selalu berpakaian moden seperti seluar jean dan t-shirt ketat yang menonjolkan bentuk badannya itu. Pemikirannya pun agak moden mengikut aliran masa kini. Tinggal berjiran selang 5 pintu dari rumahPak Udamenyebabkan hubungan mereka sekeluarga rapat sekali. Sukinder selalu menumpang tidur di rumah PakUda apabila Jagjit mendapat tugasan luar daerah selama berhari-hari.

Setelah Jagjit dapat merasa lubang pantat dan bontot Mak Uda, Jagjit makin tak kisah kalau Sukinder menginap di rumahPak Uda malah menggalakkannya lagi. Sukinder juga amat rapat dengan Mak Uda dan anak-anaknya. Dari MakUda, Sukinder belajar masakan Melayu dan dia juga mengajar Mak Udamasakan sikh. Kadang-kadang MakUda dan anak-anak selalu juga tidur di rumah Jagjit apabila ketiadaan Pak Udakecualilah bila Ramli datang ke rumahnya, maka anak-anaknya sengaja di hantar ke rumah Jagjit.

Hubungannya dengan Jagjit memang baik terutamanya dari segi seks kerana dia juga tergolong sebagai bernafsu tinggi malah mereka kerap mengadakan hubungan seks tak kira masa dan tempat. Tambahan pula makanan yang dimakannya yang berempah dan susu lembu menambahkan tahap keinginan seksnya dan Jagjit memang mampu memenuhi nafsunya. Cuma kadangkala ketika Jagjit ke luar daerah agak lama, dia terpaksa memuaskan nafsunya dengan menggunakan tangannya sendiri untuk memuaskan nafsu yang membuak.

Minggu itu Jagjit sengaja menerima tugasan luar daerah untuk tempoh seminggu. Dalam masa yang sama juga dia sengaja tidak memberi layanan seks kepada Sukinder dengan alasan sibuk dengan persiapan mengikut pegawainya keluar daerah. Tujuannya supaya nafsu Sukinder membuak-buak kerana biasanya dalam seminggu tidak kurang dari 5 kali mereka bersetubuh. Memang niat Jagjit supaya Pak Udadapat merasa layanan isterinya sebagai memenuhi janjinya kepada PakUda. Dalam pada itu Mak Uda pula meminta izin untuk pulang ke kampung bersama-anak-anak selama seminggu memandangkan cuti sekolah untuk majlis kenduri anak saudaranya.

Malam itu kira-kira jam 9.30 malam Sukinder ke rumahPak Uda untuk menumpang bermalam setelah Jagjit pergi bertugas. Dia tidak tahu yang Mak Udadan anak-anak tiada di rumah. Memandangkan pintu depan rumahPak Uda memang tidak berkunci sebelum tidur dan seperti biasa, dia terus masuk ke dalam bilik Salbiah untuk menyimpan pakaiannya dan menukar ke baju tidur fesyen baju kelawar. Hairan juga dia kerana rumah terang benderang tapi agak sunyi. Sangkanya mereka semua ada di dapur sedang makan malam. Selesai menyimpan pakaian, dia terus ke dapur dan mendapati dapur itu sunyi sahaja. Sukinder hairan dan terus ke ruang tamu. Di situ dia terserempak dengan Pak Udayang baru lepas mandi dan hanya berkain pelikat dan T-Shirt Pagoda. PakUda sengaja tak pakai seluar dalampun untuk menggoda Sukinder kerana siang tadi Jagjit telah memberitahunya segala rancangannya untuk membalas budi PakUda.

“Eh, Bang Uda, sunyi jer rumah, Kak Jah ke mana, tak nampak pun?” tanya Sukinder bertalu-talu.

“ Laa.. kau tak tahu ker, Kak Jah balik kampung pagi tadi dengan anak-anak, ada kenduri!” jawabPak Uda.

“ Habis tu rumah ni tak ade sesiapalah kecuali Bang Udaajer ker?”

“Apa pulak tak ade, kau tu kan ade!” gurau Pak Uda.

“Alaaa... Bang Uda, saya cakap dia gurau pulak!” Muka Sukinder sedikit merah.

“ Habis tu macam mana, takkan saya nak tidur kat sini, nanti apa kata MakUda, atau orang lain pulak!” sambung Sukinder.

“ Alah buat macam biasalah, kau tidur kat bilik Sal tu, aku tidur bilik aku, tapi kalau kau nak tidur kat bilik akupun aku tak kisah, hehehehe.. nak balikpun dah dekat tengah malam ni!” Gurau Pak Udasambil tersenyum.

“Bang Uda ni, saya cakap betul-betul, dia main-main pulak. Tak apalah, saya nak balik rumah sayalah!”

“Alah, tak payahlah Sukinder. Besok jer kau balik. Kang orang tengok tengah malam kau bawak beg kain, lagi orang cakap kau lari dari rumah lak… keh...keh... keh... , tak pasal-pasal satu taman cerita, hahahahaha. Lagipun, malam ni malam Jumaat, hantu banyak, he..he..he..he...”

Pak Uda terus mengusik Sukinder yang memang agak penakut sedikit. Kalau Jagjit tugas malam selalunya dia memasang semua lampu dalam rumah bila tidur.

“Errmmm.. kalau macam tu, saya tidur sinilah, besok saya balik rumah, Bang Uda jangan takutkan saya macam tu… tak syoklah..” jawab Sukinder setelah berfikir seketika.

“Bang Uda dah makan? kalau belum, saya boleh tolong masakkan,” pelawa Sukinder.

“Ermmm, belum lagi, ingatkan nak makan kat kedai tadi, kau dah ade, tolonglah masak apa yang patut. Barang mentah semua ada kat dapur nun, buatlah macam biasa tu.”

“Baiklah Bang Uda, tapi jangan kata tak sedaplah, tak bestlah, saya mana boleh lawan Kak Jah yang handal masak tu.”

“Alah, tak kisahlah asal perut berisi. Kalau rajin kau buatkan aku kopi pekat satu. Boleh?”

“Boleh Bang Uda.” Sukinder terus masuk ke dapur untuk menyediakan makan malam. PakUda terus ke ruang tamu untuk menonton tv.

Setelah siap memasak, Sukinder mengajak Pak Udauntuk makan dan dia juga turut makan bersama. Semasa makan, PakUda mula menjalankan jarumnya dengan memuji-muji keenakan masakan Sukinder sehingga Sukinder tersipu-sipu. Malah dalam pujian tentang kesedapan makanan itu, Pak Udasempat memuji kecantikan Sukinder dan kepandaian Sukinder menjaga tubuh badannya. Kembang kempis hidung Sukinder bila di puji begitu. Memang adat perempuan suka dipuji. Malah Jagjit tak pernahpun memujinya sepertimana PakUda lakukan.

Selesai makan, PakUda ke depan untuk terus menonton tv. Sukinder membersihkan dapur dan dia datang ke ruang tamu membawa dua cawan kopi untukPak Uda dan dirinya. Dia duduk di bangku bersebelahan PakUda. Memandangkan cerita malam itu kurang menarik, PakUda mencadangkan supaya mereka menonton VCD sahaja. Sukinder tak kisah. Pak Udamasuk ke bilik dan mengambil sekeping VCD cerita hantu yang sebenarnya lebih kepada VCD separuh lucah yang penuh dengan adegan seks. PakUda memasang VCD itu.

“ Ehhh, Bang Uda, kenapa pasang VCD cerita hantu tu, saya takutlah… nanti malam tak boleh tidur lak..” ujar Sukinder sambil memalingkan mukanya ke arah lain setiap kali skrin tv menayangkan wajah hantu itu.

“ Eh.. ini VCD cerita baru nih, alah apa nak takut, AbangUda kan ada. Kalau takut meh duduk sebelah abang Uda. Kalau nak tidur takut, pasang jer lampu, takpun meh tidur bilik abangUda…” gurau PakUda sambil menggoda.

“ Bang Uda ni…!” Sukinder mencubit lengan Pak Udayang kekar itu. Dia terasa sesuatu di dalam dirinya bila bulu romanya bergeser dengan kulit Pak Uda.

“Mari duduk kat sini” ajak Pak Uda sambil menepuk bantal bangku di sisi nya.

Sukinder bangun dan beralih duduk di sisi Pak Uda. Pada masa itu juga, skrin tv menayangkan wajah hantu dengan jeritan yang menyeramkan menyebabkan Sukinder terkejut, memeluk Pak Udasambil menyembamkan mukanya ke dadaPak Uda seperti mana yang biasa dilakukan bersama Jagjit. Pak Udatersenyum sambil memeluk Sukinder dan menggosok-gosok belakangnya untuk menenangkannya. Sukinder dah tak peduli, ketakutannya mengatasi rasa malu. Tiba-tiba telinganya menangkap bunyi erangan yang semakin kuat dari tv seolah-olah bunyi semasa dia sedang bersetubuh dengan Jagjit. Dia hairan dan perlahan-lahan mengangkat mukanya. Namun matanya terpandang kepada sebatang tongkat yang separuh keras menongkat kain pelikat Pak Uda.

Matanya tertumpu ke skrin tv yang menayangkan pelakon lelaki utama sedang menjilat alur pantat pelakon wanita manakala pelakon wanita itu sedang menghisap batang keras pelakon lelaki dengan kedudukan 69. Erangan wanita itu semakin kuat. Mata Sukinder menjadi besar. Nafsunya yang sudah seminggu tidak dapat dilepaskan mula membuak. Dia merasakan darahnya mula panas. Pantatnya mula berair bila menyaksikan adegan seks yang mulai rancak dengan bunyi keluhan dan erangan pelakon yang makin kuat. Sukinder keluh kesah. Ingin saja jarinya mengosok-gosok pantat tembamnya dan menjolok-jolok lubang yang berdenyut-denyut itu. Tangan PakUda yang masih memeluk bahunya dan menggesel tengkuknya menambahkan keghairahannya. Dia mennjeling ke mukaPak Uda yang selamba itu dan turun ke arah bawah dan melihat tongkat kayu itu tegak mencacak di dalam kain pelikat itu. Pelakon lelaki itu mula melakukan tujahan padu ke atas wanita berulangkali dan erangan wanita itu kian kuat dan nafas Sukinder menjadi keras dan pendek. Jarinya tanpa sedar mengosok-gosok peha Pak Uda dan sesekali menyentuh batang tegang yang masih berbalut kain itu. Dia dah tak tahan. Air hangat keluar membasahi seluar dalam dan kedua pehanya yang terkepit-kepit itu. Pak Udaperasan yang Sukinder dah naik nafsu tapi dia buat tak tahu supaya Sukinder sendiri yang berusaha untuk menaikkan nafsu Pak Udayang sememangnya dah bergelora itu.

Aksi seks di tv makin rancak, lelaki itu mendoggie pelakon wanita sampai tergoyang-goyang buah dada yang putih melepak itu. Mata Sukinder tak lepas dari Skrin tv. Tangannya makin berani menggosok-gosok keliling pangkal peha dan sesekali meramas-ramas lembut batang PakUda yang sememangnya keras macam kayu itu.Matanya semakin kuyu. Tangan PakUda perlahan-lahan menjalar ke sisi dan menyeluk di lubang lengan baju kelawar itu dan menyentuh tetek Sukinder yang besar dan masih berbalut dengan coli satin yang nipis. Serta-merta puting tetek itu menegang dan tetek itu mengeras biarpun masih berbalut. PakUda membuat lingkaran jari sekeliling puting tetek dan meramas perlahan tetek yang masih pejal itu. Sukinder mengeliat kesedapan. Jarinya mula mengenggam batang Pak Udayang masih berbalut kain itu.

Ramasan Pak Udake atas tetek Sukinder menyebabkannya hilang kewarasan tambahan pula air mazi yang licin terus keluar membasahi pehanya itu menyebabkan rasa geli gatal terus meningkat di dalam lubang pantat berdenyut minta di isi segera. Tangan Sukinder meraba-raba dada bidangPak Uda dan mengentel-gentel puting Pak Uda.Pak Udamenundukkan muka dan mulutnya bercantum dengan mulut Sukinder yang separuh terbuka.Pak Uda menghisap lidah Sukinder sambil tangan kanannya terus meramas dan memilin puting keras tetek Sukinder. Tangan kirinya mengosok-gosok tundun Sukinder yang masih berlapik itu sehingga terangkat-angkat bontot Sukinder. Tangan Sukinder menyelak kain pelikat Pak Udasehingga pangkal paha menyerlahkan batang keras tegakPak Uda itu. Mata Sukinder bulat, dia tak sangka batang Melayu walaupun tak sepanjang lakinya Jagjit tapi keras, pejal dan tegap berdiri berbanding dengan batang bangsanya yang agak kendur sedikit walaupun besar dan panjang.

Sukinder yang keghairahan itu terus meramas kepala takuk batang itu dan mendekatkan mulutnya sambil lidahnya mencecah lubang kencing kepala itu menyebabkan ianya semakin kembang. Dia perasan kepala batang Pak Udatiada kulit kulup sepertimana batang suaminya. Baru sekarang dia perasaan yang orang melayu bersunat kerana itu kepala bulat itu tiada kulit penutup. Pelahan-lahan mulutnya mengulum batang Pak Udasambil lidahnya menjilat sekeliling batang tersebut. Ramasan tanganPak Uda keatas tetek Sukinder dan tundun Sukinder sedikit terganggu bila Sukinder baring di atas peha PakUda untuk mengulum batang yang keras itu. PakUda menarik baju kelawar Sukinder ke atas sehingga Sukinder terpaksa melepaskan kuluman ke atas batang PakUda untuk membuka bajunya.

Kecekapan tanganPak Udamenyebabkan coli sukinder terbuka sehingga terdedah tetek yang pejal dengan puting yang agak pink kehitaman serta keras itu. Tanganya satu lagi menyeluk seluar dalam Sukinder dari belakang dan menjolok-jolok sedikit lubang pantat yang basah dan berdenyut-denyut itu sehingga Sukinder terpaksa menonggeng untuk membolehkan jariPak Uda memasuki lubang pantatnya yang berdenyut-denyut itu. PakUda mengambil kesempatan menarik seluar dalam Sukinder sampai ke pangkal kakinya dan melemparkannya ke tepi. Sukinder kini telah bogel sepenuhnya. Tapi dia tak peduli. Yang penting nafsunya yang tersimpan lama itu dapat dipuaskan. Dia geramkan batang Pak Udayang keras itu. Tangannya cekap merungkai kain pelikat Pak Uda dan menarik ke bawah.

Batang Pak Udayang terpampang tegak segera di kulumnya. Memang dia suka menghisap dan mengulum batang. Batang Jagjit walaupun tak berapa tegang selalu dikulumnya biarpun bukan semasa mengadakan hubungan seks. Malah semasa Jagjit sedang memandupun, dia selalu mengulum sampai terkeluar air mani dan dia akan menelannya. Biarpun kenderaan yang berselisih membunyikan hon, tapi dia tak peduli. Tambahan pula cermin sisi kereta itu agak gelap.

Sukinder mengemam kepala takuk sambil mengigit kecil. Lidahnya tak henti-henti menjilat batang dan kepala takuk batang keras itu. Pantatnya terkemut-kemut menerima tujahan jari Pak Uda. Tangan Pak Udayang kekar meramas teteknya yang keras. Adegan seks di TV sudah tak dipedulikan lagi. Adegan sebenar akan bermula. Sukinder tenggelam dalam keghairahan yang menggebu.Pak Uda menarik Sukinder berdiri dan menciumnya. Dia mencempung badan Sukinder untuk dibawa ke biliknya dan membaringkannya ke atas tilam empuk bilik tidur. Sukinder terkapar terkangkang. Nafasnya pendek dan kasar. Bulu ari-arinya di trim rapi berbentuk segitiga. Lubang pantatnya kemerah-merahan, berkilat, basah berair. TV di ruang tamu masih terpasang, tapi tiada siapapun yang menonton.

Pak Uda celapak ke atas badan Sukinder yang putih bersih dan menjilat tengkuknya menambahkan kegelian dan keghairahan Sukinder. Mulutnnya mencium mulut Sukinder sambil menghisap lidah Sukinder. Sukinder merasakan lubang pantatnya bertambah kuat berdenyut bila lidahnya di nyonyotPak Uda.

“Urghhh… Bang… sedapnya bang.” Ujar Sukinder sambir mengosok tundunnya ke batang Pak Udayang tegang dan dibasahi oleh air mazi yang membasahi peha Sukinder.

Sukinder cuba memasukkan batangPak Uda ke dalam lubang pantat yang lama kehausan itu menggunakan tangan tapi PakUda segera memegang dan mendepangkan ke dua tangan itu supaya kenikmatan itu dapat dinikmati lebih lama lagi. Mulut Pak Udamenjalar ke puting pink kehitaman yang sememangnya tegang itu dan lidahnya membuat putaran keliling puting itu sambil mulutnya mencecap puting menyebabkan Sukinder tak tertahan dan menekan kepala PakUda ke teteknya meminta dinyonyot segera. Pak Udatahu dan terus menyonyot dengan kuat dan agak rakus sambil tangannya yang satu lagi meramas-ramas tetek sambil memicit-micit putingnya. Batangnya yang tegang sengaja digosok di alur pantat yang basah itu sambil kepala takuknya mencucuk kelentit Sukinder yang agak panjang itu menyebabkan Sukinder tidak tertahan dan badannya melentik kesedapan. Biarpun dia merasa agak sakit bila nyonyotan di teteknya kuat sangat, tapi rasa kenikmatan yang mengalir dari tetek terus ke lubang pantat yang tambah kuat berdenyut menyebabkan dia merelakan segalanya.

“Ahhhh… ughhh… kuat lagi bang… kuat lagi hisap tuhh… sedap sangat nih!”

Sukinder mendayu-dayu sambil tangannya meramas kepala Pak Udasambil menekannya seolah-olah cuba memasukkan keseluruhan teteknya kedalam mulut Pak Udauntuk dinyonyot. Badannya melenting-lenting bila nyonyotan sedikit kuat dan ganas menambahkan kenikmatanya itu. Punggungnya terangkat-angkat, pantatnya berdenyut bertambah kuat. Badannya mengeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Mulutnya berdesis-desis. Nafasnya makin laju seperti kuda yang dipacu. Dia dapat merasakan lubang pantatnya akan memancutkan air. Dia dah tak tahan.

“Arghhh… bang… arghh bang kuat lagi bang… kuat lagi!... Argggghhhhhhhh!!!!”

Bontot Sukinder terangkat tinggi mengesek-gesek batang keras yang masih tegap dialur pantat itu sambil memancutkan air hangat sehingga terkeluar membasahi batang yang sedia basah itu. Sukinder telah mencapai klimaks yang pertama setelah sekian lama tidak mendapatnya walaupun kehendak lubang pantatnya untuk diisi masih belum dipenuhi. Sebelum ini semasa bersetubuh dengan Jagjit, klimaks hanya akan dirasai bila berlaku tujahan batang Jagjit samada di lubang pantat atau lubang bontotnya, dia tak sangka dengan PakUda, tanpa batang keras Pak Uda yang dikagumi itu menujah pantatnya dia boleh klimaks. Betullah kata kawannya, bersetubuh dengan orang lebih tua ni lebih nikmatnya kerana banyak pengalamannya. Sukinder terkapar keletihan. Namun lubang pantatnya masih berdenyut-denyut minta di isi.

Pak Uda tak berhenti di situ sahaja. Walaupun dia tahu Sukinder telah mengalami orgasme, dia akan pastikan Sukinder mendapat kepuasan sepenuhnya supaya di masa hadapan Sukinder akan terus mencarinya. Mulutnya turun ke arah pusat dan lidahnya mencecah lubang pusat menimbulkan kegelian kepada Sukinder. TanganPak Uda menarik bucu kain cadar tilam dan mengesat alur pantat Sukinder yang terlalu basah itu. Tujuan Pak Udauntuk mengeringkan sedikit bagi menambah nikmat bila jilatan di lakukan di situ nanti.

“Ermmm.. gelilah Bang Uda… jangan arrr..” manja bunyi Sukinder yang masih termengah-mengah.

Tangan Pak Udaterus meramas-ramas kedua tetek Sukinder yang sedikit kendur selepas klimaks tadi untuk mengeraskannya kembali. Lidah PakUda menjilat sekali lalu dari arah lubang dubur terus ke kelentit Sukinder yang terjulur itu menyebabkan bontot Sukinder terangakat sedikit.

“ermmm… arrrrr…” hanya bunyi manja itu keluar dari mulut Sukinder.

Jilatan sama dilakukan berulangkali sambil tangan Pak Udaterus meramas tetek yang tegang kembali itu. Alur pantat Sukinder mula lecah dengan air ludah dan air mazi yang terbit kembali bersama bau air mani Sukinder yang agak hamis itu. Mungkin sebab banyak makan minyak sapi agaknya. NamunPak Uda tak peduli. Jilatan makin laju, sesekali hujung lidahnya menjulur masuk kedalam lubang pantat yang berdenyut-denyut. Bontot Sukinder terangkat-angkat terutamanya bila lubang pantatnya di tujah dengan lidahPak Uda. Nafsunya kembali membuak-buak. Tangannya menekan kepala PakUda di celah kelangkangnya. Bontotnya terayak-ayak menerima jilatan padu PakUda. Lubang pantatnya geli gatal amat sangat menanti tujahan batang keras PakUda. Ramasan tangan Pak Udasemakin kuat ke atas tetek yang keras itu. Sukinder dah tak tahan lagi… lubang pantatnya mesti diisi, ditujah, di henjut dengan segera…

“Bang… masuk cepat bang batang abang tu… saya teringin sangat nak rasa.. ahhhh...” Sukinder merayu sambil tangannya terus meramas rambut Pak Udasambil menekan kepala yang menjilat alur pantatnya yang basah lecah itu. Berlecap-lecah.

“Urghhhh… ahhhhh… ahhhh... cepatlah bang… tak tahan ni…” Tak pernah Sukinder merayu sebegini apabila bersama Jagjit.

Pak Uda terus memainkan nafsu Sukinder. Dia celapak atas Sukinder tapi tidak membenamkan batang kerasnya ke dalam lubang pantat Sukinder yang basah berdenyut-denyut itu. Dia hanya menggesel berulang-kali batangnya ke atas alur basah dan menujah kelentit yang tegang itu. Sukinder keluh kesah. Dia dah tak tahan. Lubang pantatnya semakin berdenyut dan terkemut-kemut. Lubang pantatnya meraung minta diisi, ditujah segera. Dia tak peduli, dia mesti memenuhi keinginannya. Biarlah Pak Udananti kata dia kemaruk batang, dia tak peduli. Yang penting batang keras Pak Udamesti masuk dalam lubang pantatnya. Dia memeluk badanPak Uda kuat-kuat. Bontotnya terangkat menggesel batangPak Uda. Dia membalikkan dirinya sehingga Pak Udapula terlentang dan Sukinder celapak di atas pinggang PakUdaPak Udatersenyum. Jeratnya mengena. Tentu lepas ni Sukinder akan cari dia lagi. Dalam posisi Sukinder di atas peha Pak Uda, dia dapat merasakan kepala takuk batang keras Pak Udamencucuk kelentitnya menambahkan keghairahannya.

Perlahan-lahan dia mengangkat bontotnya tinggi-tinggi sambil tangannya memegang batang keras itu dan mengacu kepala takuk ke arah lubang pantat yang terkemut-kemut itu. Dia merendahkan bontotnya sehingga kepala takuk itu tenggelam masuk ke dalam lubang itu. Satu keluhan kesedapan terkeluar dari mulutnya. Biarpun tak sebesar suaminya namun kepadatan dan kekerasannya meningkatkan kenikmatannya. Yang amat disukainya kerana kepala batang PakUda lebih besar daripada batangnya. Dinding lubang pantatnya mengemut-gemut batang tegap itu. Dia menurunkan lagi bontotnya sehingga keseluruhan batang itu tenggelam ke dalam lubang nikmatnya yang sentiasa mengemut-gemut mencengkam batang keras PakUda. Satu keluhan kepuasan keluar dari mulut Pak Uda dan Sukinder apabila lubang pantatnya padat penuh dengan batang keras itu.

“Urggghhhh… ahhhhhhh… kerasnya batang abang, tak pernah saya rasa macam ni keras, sedapnya,” Puji Sukinder kepadaPak UdaPak Udatersenyum. Dalam pada itu dia mendenyut-denyutkan batangnya serta mengembangkan kepala takuk menambahkan kenikmatan Sukinder.

“Ehh… takkan batang Jagjit tak keras macam abang? Saja aje Suki nak perli abang ni…” goda Pak Udasambil terus mengembangkan batangnya di dalam lubang pantat Sukinder yang berdenyut itu.

“Tak bang… memang betul.. urghhh… kalau boleh saya nak macam ni selalu.” Jawab Sukinder sambil menikmati kesedapan di dalam batang keras PakUda. Dia perlahan-lahan mengangkat bontotnya sehingga tinggal kepala batang Pak Uda, mengemutnya dan menurunkan kembali sehingga ke pangkal batang secara perlahan berulang kali.

“Urghhh… pandai sungguh Suki main macam ni… Abang nak selalu main dengan Sukilah, Suki memang hebat..” puji Pak Udamenyebabkan Sukinder bangga.

Sukinder seronok bila dipuji Pak Uda. Dia melajukan aksi henjutannya ke atas batang keras PakUda. Teteknya yang putih itu tergoyang-goyang di depan muka PakUda. Nafas Sukinder makin kencang bersama dengan henjutan yang makin padu dan kuat sehingga berlepap bunyi peha mereka bertemu.Pak Uda tak melepas peluang meramas dan menghisap tetek Sukinder yang terbuai-buai mengikut irama henjutan dan ayakan bontot Sukinder itu.

“Hunhs... hunsh... hahhahah... huhhuhhuh...”

Hanya bunyi keluhan yang keluar dari mulut Sukinder dengan ayakan bontotnya makin laju dan hentakannya makin kuat. Lubang pantatnya terkemut-kemut. Air mazi membasahi paha Pak Udameleleh ke atas cadar yang sedia basah itu. Dia tahu, air maninya akan keluar pada bila-bila masa saja. Pak Udamembantu mengangkat bontotnya ke atas bila Sukinder menghentak ke bawah sehingga kepala takuknya terasa mencecah batu meriyan Sukinder menyebabkan kepala Sukinder tergeleng-geleng dan terdongak ke belakang dek kesedapan yang tak terhingga.

“Arghhh… urghhhh… arggggh… sedapnya bang, sedapnya bang...” Jerit Sukinder sambil melajukan hentakannya.

Sukinder akan mencapai klimaks lagi. Pak Uda juga merasakan air maninya telah terkumpul di pangkal batangnya. Tujahan dari bawah makin kuat begitu jua hentakan lubang pantat makin ganas seolah-olah ingin menelan kesemua batang dan buahnya sekali.

“Unghh... ugnhhh... ahhhh... ahhhh... urghhh...” keluhan dan nafas Sukinder makin kencang sambil lubang pantatnya mengemut-gemut kuat batang PakUda..

“Arghhhh….!” Jerit Sukinder sambil mengigit bahu PakUda dan menghentakkan bontotnya ke pangkal peha PakUda sambil mengayak-gayak. Terasa pancutan air mani hangat membasahi batangPak Uda yang berdenyut-denyut itu. Pak Uda tak mengalah. Dia menujah batang kerasnya ke atas sehingga mencecah batu meriyan Sukinder menyebabkan Sukider yang mencapai klimaksnya mengigil-gigil kesedapan, mata Sukinder terpejam, nafasnya termengah-mengah.

Sukinder lega kerana dapat melampiaskan nafsu dan ghairahnya. Dia terjelapuk atas dadaPak Uda. Dadanya yang separuh tegang itu menekan dada Pak Uda. Namun dia masih dapat merasakan kekerasan batang yang terendam di dalam lubang pantatnya yang terkemut-kemut memerah sisa-sisa titisan airmaninya keluar. Batang itu terus berdenyut-denyut. Sebenarnya Sukinder rasa amat penat sekali. Tak pernah dia rasa penat sebegini bila bersetubuh dengan Jagjit. Seolah-olah semua sendinya telah tercabut. Badannya berpeluh. Mukanya kemerahan di dalam cahaya lampu bilik tidur itu.

Sukinder rasa teramat penat tapi juga teramat nikmat. Namun dia tahu Pak Udabelum pancut lagi. Dia kagum diatas kehandalan lawannya. Pak Udamasih tidak beraksi apa-apa hanya sekadar memeluk badan Sukinder sambil tangannya menggosok-gosok belakang dan rambut Sukinder. Dia memberi peluang Sukinder mengambil nafas dahulu. Dalam pada itu, batangnya tetap teguh dan keras, berdenyut-denyut mengembangkan kepala cendawannya di dalam lubang hangat yang lencun itu. Dia tidak mahu Sukinder terus lemas sebelum PakUda mencapai kemuncaknya pula.

Perlahan-lahan PakUda mengangkat muka Sukinder yang jelas penat tapi penuh dengan kepuasan dan mengucup bibirnya serta menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Sukinder. Sukinder menyambut dan menghisap-hisap lidah itu seolah seperti sedang menghidap batang keras Pak Uda. Perlahan-lahan PakUda membaringkan Sukinder mengiring kesisinya. Namun batangnya tetap terendam dalam lubang pantat yang mulai kering itu. PakUda mengangkat sebelah kaki Sukinder tegak berlandaskan badannya dan perlahan-lahan menyorong tarik batangnya secara berirama sementara sebelah tangannya berganti-ganti meramas tetek Sukinder untuk menaikkan kembali nafsu Sukinder yang telah kendur setelah mencapai klimaks tadi. Sesekali tangannya mengosok tundun dan kelentit Sukinder dan memicitnya menyebabkan Sukinder yang hampir terlena itu mengeliat.

Memang Sukinder penat, tapi rasa geli gatal di dalam lubang pantatnya datang kembali hasil gesekan batang keras Pak Uda yang berulang kali itu ke atas dinding faraj Sukinder. Nafas Sukinder mulai pantas kembali. Dia dapat merasakan lubang pantatnya kembali berair licin menerima tujahan batang Pak Uda. Dia cuma menikmati keenakan yang menjalar semula ke seluruh tubuhnya. Badannya tergoyang-goyang menerima tujahan padu batang PakUda. Sesekali bontotnya menunjal mencari kemuncak batang Pak Udauntuk menyentuh langit farajnya. Air mazinya makin banyak keluar. Nafsunya telah naik. Matanya terbuka sedikit. Keluhan kesedapan mula keluar dari mulutnya. Makin lama makin kuat bunyinya diiringi dengan dengus nafasnya yang makin laju. TujahanPak Uda makin laju dan padu seolah-olah macam nak mematahkan peha Sukinder yang licin gebu itu.

Sukinder memberi reaksi kesedapan bila tujahan batangPak Uda memasuki dalam lubang pantat sambil buah zakarnya memukul alur pantatnya yang lencun itu. Tiba-tibaPak Uda mengubah posisi dengan menurunkan kaki Sukinder kembali dan menarik bontotnya ke atas sehingga dalam keadaan menonggeng. Satu posisi yang menjadi kegemaran Sukinder setiap kali bersetubuh. Sukinder menaikkan bontotnya sehingga jelas kelihatan lubang pantatnya yang terbuka berkilat dan lubang bontotnya yang terkemut-kemut.Pak Uda jadi geram. Dia segera membenamkan batangnya kembali ke dalam lubang pantat yang hangat, berair dan berdenyut-denyut itu. Hentakannya disambut dengan ayakan bontot Sukinder. Malah Sukinder menunjalkan bontotnya ke belakang setiap kaliPak Udamenghunjamkan batangnya ke depan seolah-olah lubang pantatnya mahu menelan keseluruhan batangPak Uda termasuk sekali buah zakarnya.

Seiring dengan tujahan doggie PakUda mencucuk ibu jarinya ke dalam lubang bontot yang terkemut-kemut itu. Agak mudah saja masuknya kerana lubang itu telah selalu menerima tujahan batang besar dan panjang Jagjit. Tujahan jari dan batangnya berulang-kali bergilir-gilir. Keluhan kesedapan keluar dari mulut Sukinder makin kerap. Dia berdesis-desis seolah kepedasan. Lubang Pantatnya terkemut-kemut meramas batang keras Pak Udamanakala lubang bontotnya mengemut dua batang jari Pak Udayang berulang-kali menujah ke dalam untuk membuka ruang. Tujahan batang Pak Udamakin laju bersama lajunya dengusan nafas dan keluhan Sukinder.

Tibe-tiba Pak Udaterus mencabut jarinya dan menggantikannya dengan batangnya yang keras kedalam lubang bontot yang terkemut-kemut itu.

“Arghhhh…. ketat juga lubang bontot kau ni Suki, Abang sukaaa!!!” Puji PakUda untuk menjerat Sukinder supaya tidak menolak tujahannya.

“Ermmm… Urgh… batang abangpun keras sungguhhh!!! Senak saya bang… haah... huh...” Galak Sukinder sambil menerima tujahan dalam lubang bontotnya. Badannya bergoyang-goyang sambil teteknya terayun-ayun ke dapan dan belakang mengikut irama bontot yang menerima hentakan padu batang PakUda yamg memang masih keras lagi.

“Hargh... hargh... sedapnyanya BangUda… sedapnya… kuat lagi bang, laju lagi bang.”

Sukinder mengayak-ayak bontotnya sambil sebelah tangannya mengosok-gosok kelentitnya dan jarinya mencucuk lubang pantatnya yang kedahagaan itu. Pak Udamerubah taktiknya dengan menggilirkan tujahan ke dalam lubang pantat dan juga lubang bontot bergilir menyebabkan rasa sensasi dan kenikmatan yang amat Sukinder rasakan di kedua lubang keramat itu.

“urghhh.. sedapnya bang, sedapnya... hah, huh, hah, hah… laju lagi bang.. air saya nak keluar lagi nih, kuat lagi bang!!!”

Rayu Sukinder yang ingin mencapai klimaksnya lagi. Badan Pak Udaberpeluh-peluh, namun dia tak kisah, dia tahu hasil senaman rimau dan ubatan tradisional tok batin kawannya sentiasa membuatkan dia terus bertenaga. Hentakannya makin kuat di kedua lubang itu sehingga menyebabkan Sukinder meraung-raung kesedapan, kepalanya terdongak ke belakang setiap kali batang keras PakUda menerjah masuk ke dalam lubang pantat dan bontotnya itu.

“Urghhh… ahhhh. .aruggghh... bang… laju lagi bang... laju lagi air saya nak keluarnihhhhh!!!!” Raung Sukinder mengayak-ayak bontotnya. PakUda pun tahu dia tak dapat bertahan lagi. Tujahan yang bergilir-gilir ke dalam dua lubang itu menyebabkan kepala takuk batangnya menjadi geli kerana selalu bergesel dengan alur basah itu. Dia menarik nafas panjang, memegang pinggang Sukinder sehinggar Sukinder tak dapat bergerak, menghentak-hentak batangnya sedalam-dalamnya ke lubang pantat Sukinder.

“ARGHHHH…ARGHHH..Abang nak pancut ni…abang nak pancut ni...”

Sambil terus menghentak bontot Sukinder sambil dia melepaskan berdas-das air mani yang terkumpul itu menyentuh batu meriyan Sukinder sehingga badan Sukinder menggigil-gigil kenikmatan yang amat sangat seiringan dengan air maninya memancut keluar bercampur dengan air mani PakUda yang sememangnya pekat itu. Mukanya tersembam ke dalam bantal. Nafasnya termengah-mengah. Sukinder yang mendapat kenikmatan yang amat sangat itu terus tertiarap dengan Pak Udaterdampar atas belakangnya dengan nafas tercungap-cungap. Kemutan kecil di dalam lubang pantatnya dapat merasakan batangPak Uda yang masih keras walaupun sudah terpancut air mani tadi.

Wanita benggali itu kagum. Jagjitpun tak mampu bertahan macam Pak Uda. Dia dah tiada rasa malu lagi. Kepenatannya yang mencapai klimaks tiga kali menyebabkan dia terlena di dada PakUda. Dia dah lupa untuk tidur di bilik Salbiah. Pak Udatersenyum. Dia tahu Sukinder akan terus mencarinya lagi. TV di ruang tamu masih terbuka walaupun cerita di VCD telah tamat. Pak Udamengerling ke arah jam dinding. Rupa-rupanya dah hampir sejam setengah dia bertarung dengan Sukinder. Dia puas. Sukinder juga puas tertidur dalam senyuman. Nafsunya telah dipenuhi dan dia tahu dia akan dapat merasai nikmat yang sama di masa hadapan selagi PakUda mahu.

Hampir subuh Sukinder terbangun. Dia rasa nak terkencing dan terus ke bilik air. Sekembali dari bilik air, dalam keadaan bogel, dia ke ruang tamu mengumpul pakaiannya. Menutup tv dan masuk semula ke bilik Pak Uda dan berbaring di sisinya. Matanya merayap memandang tubuh kekar Pak Uda yang telah memberi kepuasan kepadanya. Dia tak sangka Pak Udabegitu handal. Tangannya memegang dan meramas lembut batang Pak Udayang layu bergelumang dengan air mani. Sedikitpun dia tak jijik. Tiba-tiba batang tersebut menjadi separuh keras hasil belaian tangan Sukinder. Pak Udamasih lena.

Sukinder menjadi geram. Batang yang separuh keras itu di kulumnya. Dijilat keseluruhan batang itu. Dia ingin merasa air mani Pak Udamemenuhi perutnya. Batang itu semakin keras dan kepalanya semakin kembang. Kuluman dan jilatannya menjadi makin pantas. PakUda terjaga da membiarkan Sukinder terus melakukan jilatan dan kuluman ke atas batangnya. Sesekali lidah Sukinder menyapu dan menjilat lubang bontot Pak Udaterus naik ke buah zakar dan terus menjilat batang PakUda serta mulutnya mengemam kepala takuk batang PakUda yang baru sebentar tadi berjasa memuaskannya.

Kulumannya makin menjadi-jadi, dia cuba mengulum keseluruhan batangPak Uda termasuk buah zakar sekali namun tak berjaya kerana batang PakUda telah keras sepenuhnya dan tidak dapat dibengkokkan seperti batang Jagjit. Kepalanya turun naik sambil lidahnya terus menjilat batang PakUda. Tangannya menggosok-gosok pantatnya yang berair sambil jarinya mencucuk lubang pantatnya yang licin itu hingga meningkatkan nafsunya kembali. Hisapan dan nyoyotan makin kuat. Ramasan ke atas buah zakar menyebabkan PakUda dah tak tertahan lagi. Dia bangun dan memegang kepala Sukinder mengikut irama hisapan dan kuluman itu. Berdecap-decap bunyinya. Pak Udadah tak tahan.

“Arghhh… arghhh... sedapnya Suki hisap… sedapnya.”

Pak Uda tak tertahan. Dia cuba mengemut pangkal zakarnya tapi tak berjaya kerana tangan Sukinder terus meramas dan menggosok batangnya seiringan dengan hisapan dan kuluman serta jilatan lidah ke atas lubang kecil di kepala takuk itu.

“Harghhhh!!!!!” Batang Pak Udamelepaskan berdas-das pancutan pekat padu sehingga ke tengorrokan Sukinder dan terus masuk ke dalam perut Sukinder. Malah sedikitpun tidak tertumpah keluar. Semuanya ditelan Sukinder. Tangannya makin laju menjolok-jolok lubang pantatnya itu. Pak Uda faham. Walaupun batangnya telah memuntahkan air mani, namun masih keras lagi dan PakUda segera celapak celah kangkang Sukinder dan menghentak sekuat-kuatnya batangnya ke dalam lubang pantat Sukinder yang berdenyut-denyut terkemut-kemut itu.

“Argh... Abang Uda, Arghh... sedapnya bang!” hanya keluhan kesedapan yang keluar dari mulut Sukinder yang berbau air mani itu.

Hentakan kasar PakUda menyebabkan dia makin mendekati klimaksnya. Hentakan batangPak Uda makin kuat dan laju dan…. aaahhhh... Sukinder melentingkan badannya setinggi yang mampu dan memancutkan air maninya sehingga terkeluar dari lubang pantatnya seperti adegan VCD blue yang selalu ditengoknya. Badannya kembali terdampar di atas tilam. Matanya terpejam, mulutnya menganga mencari nafas yang hilang. Sendinya semua lemah. Perlahan-lahan ianya menjadi dengkuran halus. Sukinder tertidur kepenatan dalam kepuasan. Pak Udamenyambung tidurnya sambil memeluk Sukinder dalam keadaan sama-sama berbogel. Bilik tidur itu penuh dengan bau air mani. Kain cadar tilam lenjun dan tersepuk di penjuru. Bantal telah lama jatuh ke bawah. Pak Udapuas kerana janji Jagjit telah tertunai.

Esoknya keduanya bangkit agak lewat sehingga hampir tengah hari. PakUda bingkas bangun dan menuju bilik mandi untuk kencing. Sukinder juga turut sama kencing sambil mencangkung. Mereka mandi bersama untuk menyegarkan diri dan dalam pada itu mereka sempat main secara doggie sehingga puas. Selesai bersetubuh dan mandi, Pak Udakeluar membeli sarapan. Dia tahu Sukinder penat kerana melayan nafsunya. Sukinder hanya memakai kain batik Mak Udadengan T–shirt tanpa pakaian dalam. Pak Udatahu kerana sempat meraba sebelum keluar. Malah meja dapur tempat mereka makan juga menjadi saksi persetubuhan yang hebat. Sukinder sudah lupa untuk pulang menjenguk rumahnya sehingga sampai tempoh MakUda balik ke rumah itu. Namun hubungan seks dengan Pak Udamasih berterusan.


Nama saya Ramli, berumur 37 tahun, bekerja sebagai Jurutera Perunding di sebuah firma pembinaan. Isteri saya Noridah, berumur 31 tahun, bekerja sebagai pegawai di sebuah bank.

Kami telah lama mendirikan rumah tangga, atas dasar suka sama suka. Tapi sehingga kini, belum ada anak. Ramai saudara mara, kenalan, termasuk ibu bapa kami bertanya kenapa kami tidak ada anak. Nak kata tak mampu berkeluarga, kami berdua bergaji besar. Jadi, persoalan ini sering ditanya atau dipersoalkan bila kami berjumpa mereka sama ada di kampung atau di mana saja.

Jawapan kami pada mereka, adalah sama, tunggu dulu, atau belum sampai masanya. Ramai juga yang menasihat agar kami jumpa doktor atau sebagainya, tapi bagi kami, bukan itu masaalahnya. Bukan kami tak mahu anak, kami mahu, tapi ada sebabnya yang kami berdua merahsiakan pada semua orang tua kami, saudara mara dan kenalan kami. Jika mereka tahu sebab mengapa kami tidak ada anak, mungkin ada yang pitam, pengsan atau menjauhkan diri dari kami.

Tiada siapa yang tahu apakah aktiviti kami berdua sehinggakan Idah tidak boleh beranak. Sebenarnya kami berdua terlibat dalam aktiviti yang dalam bahasa Inggerisnya ‘wife swapping’ atau bahasa Malaysianya bertukar isteri. Kami masih aktif dalam aktiviti ini, dan tak mungkin saya izinkan Idah mengandung, kerana saya khuatir, anak itu anak siapa, kerana Idah ditiduri oleh ramai lelaki. Lagi pun, jika Idah mengandung, ini akan menghalang kami dari melakukan aktiviti ini. Boleh dikatakan, dua kali sebulan kami akan bertemu dan melakukan aktiviti ini bersama kenalan kami atau rakan rakan kenalan kami.

Perkara ini bermula ketika saya berada di luar negara, sewaktu menuntut dahulu. Sebelum saya pergi, orang tua kami berdua meminta kami berdua bernikah. Waktu itu kami sudah bekerja dan sudah pun bertunang. Jadi bila saya mendapat tawaran untuk melanjutkan pelajaran keluar negara, orang tua kami rasakan ada baiknya kami menikah dahulu dan minta saya bawa Idah ikut sama. Bagaimanapun, setelah kami menikah, Idah tidak terus dapat cuti. Jadi saya pergi bersendirian dahulu, dan meminta Idah datang selepas cutinya diluluskan.

Waktu di luar negara, banyak godaan yang berlaku. Antaranya berkaitan dengan seks. Soal seks ini, disana terlalu bebas. Bukan saja negaranya yang mengamalkan ciri ciri kebebasan, mereka yang datang dari luar negera pun mengambil kesempatan kerana jauh dari keluarga dan kenalan untuk melakukan tanpa batasan. Termasuklah saya. Bukan sekadar mempunyai teman wanita atau lelaki keliling pinggang, tapi ramai juga yang melakukan seks bebas, bebas dari segalanya. Dan boleh bertukar ganti dengan siapa saja.

Pada mulanya, saya tidak terlibat sama dalam hal ini, tapi sekadar ada teman wanita tu, untuk mengisi masa sunyi tu, adalah. Yang serius tak ada, kerana saya tahu Idah akan datang tak lama lagi.

Setelah beberapa bulan saya berada di sana, saya berusaha untuk mencari rumah, kerana untuk membuat persiapan Idah untuk datang. Waktu di peringkat awalnya, saya menyewa bilik dengan pelajar pelajar lain. Sedang saya tercari cari, saya telah berbual dengan salah seorang professor tempat saya belajar, namanya Jake dan dia pelawa saya tinggal di rumahnya saja. Kebetulan Jake dan isterinya ada seorang anak saja yang dah dewasa dan waktu itu tinggal diasrama.

Rumahnya besar, jadi dia tidak keberatan untuk memberi saya satu bilik, bersama Idah. Jake berumur dalam awal 50’an, manakala isterinya Linda pertengahan 40’an. Walaupun umurnya sudah lebih 40an, tapi mat salleh ini, masih kelihatan tegap.

Setelah saya fikirkan dengan mendalam, saya setuju. Apakan lagi tinggal di rumah professor, senang juga untuk saya mendapat rujukan dan sebagainya. Isteri professor ini tidak kerja, jadi saya fikir bagus jugalah kerana bila Idah datang, ada teman mereka berdua. Saya memberitahu Idah dan keluarga, dan semuanya setuju.

Setelah saya tinggal di rumah Jake, pergaulan kami bertiga rapat dan ke mana juga hujung minggu jika saya tidak ada kelas atau belajar, kami akan bermain tennis bersama atau melawat ke tempat-tempat lain bersama. Oleh kerana agak rapat, maka kami bercakap pun tidak ada segan silunya.

Satu hari, sewaktu kedua dua mereka tidak ada di rumah, saya telah membelek belek VCD yang banyak tersusun didalam almari. Antaranya banyak cerita wayang dan cerita-cerita yang saya tak pernah dengar. Begitu juga dengan ada tajuk seperti ‘With Love’, ‘To You’ dan berbagai lagi. Sekadar ingin tahu cerita apa, saya pun mainkan ke tv.

Terperanjat saya apabila melihat ceritanya permainan seks antara isteri professor tersebut dengan lelaki lain, dan ada juga gambar Jake dengan perempuan lain, dan juga pasangan pasangan lain. Saya terlalu asyik melihat cerita cerita tersebut, hinggakan tidak sedar Jake dan isteri masuk ke dalam rumah.

Bila saya sedar, mereka sudah berdiri dibelakang kerusi saya duduk. Tersentak saya, tapi mereka hanya tersenyum dan bertanya seronok? Saya hilang kata kata. Saya tutup tv, dan terus duduk memandang mereka berdua.

Mereka dengan tenang memberitahu saya apa yang saya lihat itu adalah mereka, dan mereka anggap itu sebagai sebahagian dari hidup mereka. Saya pula, walaupun tersentak di’tangkap’ melihat VCD mereka dan rasa malu, tapi terangsang.

Tanpa saya menduga, saya rasa bernafsu bila isteri professor itu sambil mereka bercakap, dia duduk rapat pada saya, dan bertanya berbagai pertanyaan. Entah macam mana, saya terus tergoda, dan akhirnya, hari itu saya melakukan seks dengan isteri professor itu Linda di depan suaminya, malah professor itu pun bersama mengerjakan isterinya.

Sejak hari itu, boleh dikatakan saya sering tidur dengan Linda dan pada setiap hujung minggu, kami keluar dan berkumpul sama ada di rumah kenalan mereka atau di hotel untuk berpesta seks, dengan teman-teman mereka yang lain. Ada juga aktiviti itu dibuat di rumah professor itu sendiri.

Kenalan kenalan professor ini terdiri dari berbagai bangsa. Ada yang bekerja di sana, dan ada juga penuntut macam saya. Bila kami bertemu, ada yang membawa isteri atau suami, dan ada yang membawa teman wanita atau lelaki masing masing. Dimestikan setiap yang datang ke pertemuan itu, mesti membawa pasangan.

Sampai di sana, hak saya kamu punya, dan hak kamu, saya punya. Tapi ramai yang datang adalah suami isteri. Jadi, setiap minggu saya dapat menikmati sama ada tubuh isteri orang lain atau teman wanita mereka. Sebagai balasan, saya juga membawa teman wanita saya untuk mereka semua.

Bila Noridah datang, kami semua berhati-hati untuk tidak mencurigakan Idah. Semua aktiviti dibuat di luar rumah, supaya Idah tidak tahu. Sejak Idah datang, saya kurang sedikit keluar, kerana, Idah dah ada. Saya lepaskan rindu saya pada Idah. Macam berhoneymoon. Tapi tak lama.

Minat dengan wanita lain pun, sudah tertanam dalam hati saya. Saya curi -curi keluar untuk bersama Jake dan Linda untuk menghadiri pesta-pesta seks ini. Alasan yang saya berikan adalah menghadiri kuliah. Apakan pula pergi dengan professor tersebut.

Satu hari, sewaktu pulang dari salah satu aktiviti tersebut, Jake dengan selamba mengatakan yang dia minat dengan Noridah. Saya kata, pasti Noridah tak mahu. Tapi Jake masih berkeras mahu. Katanya, oleh kerana saya dah nikmati isterinya, tak salah dia dapat isteri saya.

Saya serba salah dibuatnya. Nak beritahu Noridah, pasti dia menengking dan marah. Setelah membuat berbagai perbincangan, andaian dan bercerita panjang, akhirnya, setelah persetujuan saya, kami serahkan kepada Linda untuk memujuk Noridah. Oleh kerana Linda tidak bekerja dan selalu ada di rumah, bolehlah dia meyakinkan Noridah.

Saya, serba salah, setuju, tapi risau dan sebagainya, tapi saya diamkan saja. Cuma saya beritahu mereka agar jangan sebut saya lakukan.

Saya lihat makan masa juga untuk Linda memujuk Noridah. Kerana setiap kali bila ada waktu terluang, sama ada Linda, atau Jake sendiri kata pada saya tidak berjaya. Kami semua ketawa saja.

Bagi saya, tak berjaya lagi bagus. Setidak-tidaknya Noridah hanya untuk saya. Tapi saya buat tak kisah dan perhubungan saya dengan Noridah seperti biasa saja, tanpa saya bertanya atau menyentuh hal hal tersebut. Dalam pada itu, saya masih melakukan hubungan dengan isteri professor atau wanita wanita lain, di luar pengetahuan Noridah.

Pada satu petang, bila saya balik dari kuliah, saya lihat Noridah ada di bilik, termenung. Saya tanya kenapa, dia kata tak sedap badan. Kelihatannya gelisah. Saya ingat dia demam, tapi katanya tidak. Saya suruh dia berehat, mungkin mahu demam dan nanti saya berikan ubat.

Sewaktu saya ke dapur untuk ambil air, tiba-tiba Linda datang dan berbisik yang dia berjaya pujuk Noridah. Saya antara percaya dan tak percaya. Tapi bila saya fikirkan Noridah gelisah dalam bilik, saya yakin juga. Kemudian Linda berlari dalam biliknya, dan kemudian memberi saya vcd. Dia suruh saya tengok.

Dalam bilik, bila saya dah berikan Noridah pil, dia baring di katil. Saya pergi ke meja tulis, dan buka lap top saya. Saya masukkan vcd dan melihat pada skrin.

Skrin menunjukkan gambar bilik Jake dan Linda. Saya tahu bilik itu telah dipasang oleh mereka kamera yang boleh ambil gambar. Ada tiga kamera yang tersembunyi didalam bilik itu, satu diletakkan di lampu siling, satu lagi di atas kain tingkap, tersorok dengan kain jendela dan saru lagi disorok di gambar hujung katil.

Bagi yang tidak tahu, pasti tidak akan ketahui yang ada kamera di dalam bilik itu. Skrin itu boleh dikawal melalui ‘hand free’ di mana kontrolnya macam talipon bimbit.

Sewaktu gambar itu bermula, bilik itu kosong. Kemudian, terdengar suara dan lepas itu, kelihatan gambar Linda memegang tangan Noridah, menariknya masuk ke dalam bilik dan minta Noridah duduk atas katil. Noridah kelihatan takut, melihat sekeliling bilik serta malu malu. Tapi terdengar suara Linda, ”It’s okay, don’t be afraid”.

Noridah mengangguk dan mereka berdua tersenyum. Lepas itu, kelihatan Jake berada dalam skrin, hanya memakai tuala mandi. Mungkin dia baru keluar dari bilik air. Linda bangun, dan terus menepuk bahu Noridah, ”don’t be afraid, Jake will take care of you”.

Noridah kelihatan memandang muka Linda dan senyum sedikit, tapi lepas itu tundukkan mukanya. Linda mencium pipi Jake dan berlalu, tak nampak lagi dalam skrin.

Sambil saya melihat pada lap top saya, saya lihat juga Idah yang sedang baring atas katil. Bila saya lihat Idah agak tidur nyenyak, saya melihat kembali pada skrin lap top saya.

Saya lihat Jake sudah naik atas katil, dan berbaring di hujung katil. Kemudian dia memanggil Noridah agar datang padanya sambil menepuk di ruang sebelahnya atas katil.

Noridah kelihatan berundur atas katil, tanpa memandang muka Jake. Bila dia dah sampai sebelah Jake, Jake terus menarik badan Noridah, sambil memeluk tubuh Noridah. Dengan perlahan Jake menolak tubuh Noridah atas badannya dan terus mencium pipi Noridah. Sambil itu kelihatan tangan Jake merayap di belakang tubuh Noridah.

Saya rasa terangsang serta bernafsu pula. Padahal yang dalam skrin itu isteri saya, tapi saya terasa berlainan. Sepatutnya marah, tapi macam terasa seronok pula.

Tangan Jake terus merayap dari pinggang Noridah dan sampai pada punggung Noridah. Ditariknya kain sarung Noridah sampai ke pinggang, dan kelihatan seluar dalam Noridah yang berwarna unggu.

Selepas itu, kelihatan tangannya merayap dalam seluar dalam Noridah. Digosok dan ditekannya punggung Noridah. Kaki Noridah kelihatan terbuka sedikit demi sedikit hingga terbuka luas.

Lepas itu, Jake merebahkan tubuh Noridah atas katil dan kali ini, Jake pula di atas Noridah. Sambil mulutnya masih di mulut Noridah, tangannya merayap pada tetek Noridah. Perlahan-lahan dia buka baju Noridah dan bila dah terbuka baju dalam Noridah, dia terus menjilat dan mengigit tetek Noridah. Noridah kelihatan sudah terlalu ghairah dan bernafsu.

Kemudian, kelihatan Jake bangun dan menanggalkan tuala mandinya. Dipegangnya kemaluannya itu dan disorongnya pada pipi Noridah. Noridah terus menarik dan mengulum. Agak lama juga mereka begitu, dan selepas itu, kelihatan Jake terbaring, sambil Noridah bangun melutut. Sahelai demi sahelai Noridah membuka pakaiannya dan bila dah terbuka semuanya, Jake membaringkan Noridah semula, dan dia terus menuju kekemaluan Noridah. Terdengar sekali sekala renggekkan dan jeritan Noridah keseronokkan.

Agaknya Jake dah tak tertahan, terus memegang kemaluannya, dan meletakkan atas kemaluan Noridah. Kelihatan dia tolak tarik dan tolak tarik. Agaknya bila dah masuk semuanya, Jake terus melakukan persetubuhan pada Noridah.

Cukup kuat jeritan dan rengekan Noridah, mengerang kesedapan. Lama mereka bertarung. Ada ketikanya Jake di bawah, dan ada ketikanya Noridah di bawah. Mereka peluk memeluk antara satu sama lain.

Akhirnya kelihatan Jake menekan badan Noridah dan Noridah memeluk tubuh Jake, pasti waktu itu Jake sudah mahu pancutkan air maninya ke dalam kemaluan Noridah. Lama juga Jake menekan kemaluan Noridah. Selepas itu, Jake tertiarap atas katil sebelah Noridah. Noridah juga terkangkang sebelah Jake.

Jake menoleh dan memberikan ciuman pada Noridah. Kelihatan Noridah dengan perlahan bangun, mengambil pakaiannya dan terus tidak kelihatan dari skrin. Yang tinggal Jake.

Tak tahu saya kenapa saya jadi begitu terangsang melihat gambar Noridah disetubuhi oleh Jake. Tapi itulah perasaan saya waktu itu. Saya tutup laptop saya, dan ingin mengganggu Noridah atas katil untuk bercengkerama dengannya. Tapi saya kasihan melihatnya yang sedang tidur.

Lalu saya keluar dan terlihat Jake menonton tv, manakala Linda sedang minum di dapur. Saya pergi jumpa Linda dan terus memeluknya.

Perkara ini sudah biasa dan pernah dilakukan sebelum Noridah datang. Tapi bila Noridah datang, kami tidak lakukan demikian di rumah. Tapi hari itu saya terus memeluknya dan menciumnya. Saya tarik tangannya dan kami menuju ke biliknya. Jake hanya melihat dan tersenyum.

Sampai dalam bilik, saya terus terkam Linda dan seperti biasa cium-mencium, raba meraba dan sebagainya. Saya benar benar seperti singa lapar pada Linda.

Akhirnya saya setubuhi Linda dan selepas air mani saya terpancut, saya tertiarap atas katil. Linda beritahu saya begitu ganas hari itu. Kami berdua tersenyum dan selepas itu saya bertanya bagaimana dia boleh pujuk Noridah.

Linda beritahu segala pada saya. Bermula dari pujukannya, dari hari ke hari, dan dia tunjukkan vcd yang mereka ambil dan pujukkan demi pujukkan. Selalunya Noridah akan jawab tidak mahu. Tapi hari itu dia diam saja, jadi saya talipon Jake minta dia pulang.

Bila Jake balik, saya beritahu Jake dan Noridah masih tidak kata apa apa. Jadi saya kira dia setujulah.

Setelah habis cerita Linda, saya pun bangun untuk ke bilik saya. Saya mengenakan pakaian dan keluar. Bila saya keluar, saya dapati Jake tidak ada menonton tv. Saya terus menuju ke bilik saya. Kerana khuatir mengganggu Noridah, saya buka pintu dengan perlahan.

Bila terbuka, terperanjat saya bila saya lihat atas katil, Jake sedang menyetubuhi Noridah. Kaki Noridah berselimpang atas punggung Jake. Tangan Noridah memeluk dengan kuatnya atas belakang Jake. Jake menarik dan menyorong kemaluannya dalam kemaluan Noridah.

Jika tadi saya cuma melihat pada skrin, sekarang saya lihat dengan mata saya sendiri bagaimana Jake menyetubuhi Noridah. Jake menghentak dan menjunamkan kemaluannya dalam kemaluan Noridah dengan begitu kuat sekali. Terjerit suara Noridah terkeluar dalam nada bernafsu.

Saya terpegun di belakang pintu melihat Noridah disetubuhi. Oleh kerana belakang Jake menghala ke pintu, mereka tidak nampak saya. Nafsu saya kembali bergelora.

Saya kembali ke bilik Linda dan terus menerkamnya sekali lagi. Sambil itu saya beritahu yang Jake sedang setubuhi Noridah. Kami sekali lagi bersetubuh dan lepas itu saya terbaring keletihan sebelah Linda.

Sedang saya terbaring tanpa berpakaian, begitu juga dengan Linda, yang sedang mengurut kemaluan saya, tiba tiba pintu dibuka, dan terdiri Jake, sedang memeluk pinggang Noridah. Waktu itu, Noridah hanya berseluar dalam dan Jake juga berseluar dalam. Kedua duanya tersenyum melihat kami atas katil.

Sejak hari itu, kami berempat sudah sealiran. Ada ketikanya kami buat berempat, ada ketikanya kami bertukar pasangan dalam bilik dan tidur dengan ‘isteri’ yang lain. Begitu juga, kami bertiga telah memperkenalkan Noridah pada aktiviti aktiviti dengan pasangan yang lain.

Bila kami balik ke Malaysia, kami berusaha mencari pasangan di sini. Tak susah untuk mendapatkannya. Oleh kerana aktiviti inilah, kami berdua tidak boleh ada anak. Tapi, tidak siapa yang tahu.

Kali ini Noridah pula yang akan menceritakan pengalamannya.

Setelah saya menyerahkan diri saya pada Jake, Linda dan suami saya jarang keluar untuk bertemu teman-teman lain dalam aktiviti seks mereka. Jika dahulu, mengikut pengakuan suami saya, mereka sering keluar, berparti di sini dan berparti di sana. Tapi kini, kami berempat menghabiskan masa dalam rumah membuat pertukaran sesama sendiri, di mana ada ketikanya Jake akan datang bilik saya untuk tidur dengan saya, manakala Ramli akan berpindah ke bilik Jake dan tidur bersama Linda. Atau ada ketikanya kami tidur berempat dalam bilik Jake. Kami tidak ada rasa takut atau segan silu sesama sendiri.

Yang paling gembira adalah Jake. Kerana sejak dapat menikmati tubuh saya, Jake tidak henti-henti ingin merasainya setiap waktu. Katanya, selain dari saya berlainan bangsa darinya, tetapi juga kerana tubuh saya ini masih lagi solid.

Mana tidaknya, saya pun belum lama berkahwin dengan Ramli, dan sebelum ini, hanya Ramli saja yang dapat merasai tubuh saya ini. Atas persetujuan bersama dengan Ramli, saya tiada halangan asalkan Ramli setuju.

Bagi Ramli pula, jelas terlihat itu keinginannya, kerana dia tidak mempunyai sebarang masaalah. Dia pun, sesuka hatinya juga sering mendampingi Linda dalam bilik tidur.

Setiap kali bila diajak oleh Jake masuk bilik bersama atau dipeluk oleh Jake, saya tidak ada bantahan. Boleh dikatakan selalu juga saya disetubuhi oleh Jake di depan mata suami saya atau saya melihat Ramli menyetubuhi Linda di depan mata saya. Sudah menjadi hal biasa untuk kami.

Pendekkata, wanita yang ada dalam rumah ini, adalah kepunyaan kedua-dua lelaki ini, Jake dan Ramli. Mereka boleh pilih siapa saja yang mereka ingin setubuhi, tak kira siang atau malam. Atau di mana saja, dalam bilik, ruang tamu, dalam bilik air atau di dapur.

Ada ketikanya, terasa juga di hati saya, atas kertas, saya adalah isteri kepada Ramli. Saya dinikahkan kepada Ramli dan saya hanya boleh menyerah kepadanya seorang diri. Tapi di sini, boleh dikatakan setiap hari bila saya tidak uzur, saya dicumbui dengan secukupnya oleh Jake, dengan pengetahuan suami saya.

Jika dihitung dengan jari, Jake yang selalu memancutkan air maninya dalam kemaluan saya dari Ramli. Tidur pun saya selalu tidur dengan Jake, bukan Ramli.

Satu hari, Jake dijemput oleh temannya untuk menghadiri satu parti di rumah mereka. Jake menerangkan pada kami apakah jenis parti ini. Bagi Ramli dan Linda, mereka dah biasa ke parti parti begini. Sudah begitu lama mereka tidak pergi k eparti setelah mereka ‘jumpa’ saya. Saya agak risau sedikit, tapi Ramli beritahu tidak ada apa yang takut. Setelah berbincang, kami semua setuju untuk pergi.

Pada malam yang telah ditetapkan, kami berempat pun pergi ke parti tersebut. Kami disambut oleh tuan rumah yang begitu periang dan begitu mesra. Saya pada mulanya gementar, hilang perasaan takut saya. Antara yang hadir terdapat beberapa orang kulit putih seperti Jake dan Linda dan ada juga orang kulit hitam.

Banyak makanan berbagai masakan disediakan dan begitu juga minuman. Setelah semuanya makan dan minum, ramai yang duduk di bilik tamu menonton tv, berbual atau menari dengan musik yang perlahan.

Kemudian tuan rumah menjemput semua yang hadir, jika mahu mandi, boleh terjun dalam kolam renang. Terdapat satu pasangan kulit hitam negro yang bernama David dan Harriet, terus membuka baju mereka untuk mandi dalam kolam bertelanjang.

Saya cukup terperanjat bila lelaki berkenaan membuka seluar dalamnya. Saya lihat kemaluannya agak besar dan panjang. Waktu itu masih lembik, tapi panjang. Saya lihat Jake dan Linda juga dan beberapa yang lain terus bertelanjang bulat dan terjun dalam air.

Ramli dan terutama saya, terpinga pinga dan melihat antara satu sama lain. Jake menjerit agar kami masuk sama. Tuan rumah pun minta kami semua ikut mereka.

Akhirnya, kami pun ikut sama, bertelanjang bulat dan terjun dalam kolam. Bayangkan, pertama kali bagi saya bertelanjang bulat didepan orang ramai, dan mandi beramai ramai bertelanjang.

Sambil mandi manda, saya lihat ramai juga yang telah berpasangan, tidak kira sama ada dengan suami atau isteri masing-masing, atau dengan pasangan lain. Ada yang telah berpeluk, bercium atau hisap menghisap tetek wanita wanita yang ada, dan ada yang kejar mengejar dalam air.

Sedang saya memerhatikan keliling saya, Ramli meninggalkan saya. Sambil saya berenang, saya melihat ke sana ke mari untuknya. Akhirnya saya ternampak Ramli yang sedang duduk di tepi kolam dengan kedua-dua kakinya terbuka luas, dengan hujung kakinya berada dalam air. Sambil itu salah seorang wanita yang masih berada dalam kolam berada di tengah-tengah kaki Ramli.

Kelihatannya wanita itu sedang menghisap kemaluan Ramli. Ramli kelihatan khayal dibuat begitu oleh wanita tersebut. Begitu juga saya lihat Jake ditemani oleh seorang wanita, manakala Linda sedang menghisap kemaluan seorang lelaki di atas bangku tepi kolam.

Waktu itu saya berada didalam air sehingga pinggang saya, bila tiba tiba saya terasa ada tangan yang memegang tetek saya dari belakang. Digosoknya tetek saya sambil mencium tengkok saya. Bila saya menoleh ke belakang, saya terperanjat kerana berdepan dengan lelaki yang berkulit hitam tadi, David.

“Saya lihat awak tidak sibuk, jadi saya datang untuk bertanya jika awak sudi?” Dia berkata.

Saya kata padanya yang saya tak pernah buat dengan lelaki kulit hitam dan sambil melihat kemaluannya, saya rasa takut tak boleh masuk dan melayannya. Tapi dia ketawa dan berkata selalunya wanita akan kata begitu, tapi kemudian bila dah dapat, terus mahu lagi. Kami berdua ketawa.

Dia perkenalkan namanya David dan saya perkenalkan nama saya Noridah. Dia bilang dia pun belum pernah jumpa, apakan rasa tubuh orang Asia.

Sambil berkata dia tarik tangan saya dan saya terus mengikut, lalu kami keluar dari kolam menuju ke satu bilik. Dibaringkannya saya atas tilam dan dia terus menghisap leher saya dan puting tetek saya, sambil jarinya masuk dalam kemaluan saya. Jarinya saja dah besar dan panjang dan terasa macam ada kemaluan dalam kemaluan saya tapi dia begitu lembut dan bertimbang rasa.

Lepas itu dia cium saya sambil tangannya jika tidak ada di kemaluan saya, akan melekat ditetek saya. Kemudian, dengan perlahan dia minta saya hisap kemaluannya.

Dia duduk atas tilam itu dan saya membongkok di depannya. Waktu itu kemaluannya dah membengkak dan besar. Tak cukup pergelangan saya bila saya pegang kemaluannya. Ibu jari saya tidak boleh bertemu dengan jari telunjuk saya bila saya pegang kemaluannya.

Saya gosok kemaluannya itu kedepan dan belakang, sambil saya tanya berapa besar dan panjang. Katanya dalam sekitar 10.5” dan jika betul betul tegang, boleh sampai 11”.

Saya tanya, bolehkah dia masuk dalam kemaluan saya yang setakat ini menerima kemaluan Ramli atau Jake, yang tidak sebesarnya. Dia ketawa saja.

Lepas itu saya terus masukkan dalam mulut saya dan setiap kali saya hisap, setiap kali menaikkan perangsangnya. Bagaimana pun tak termasuk semuanya dalam mulut saya.

Setelah 10 minit saya menghisapnya, dia tarik saya sambil dia tidur. Dimintanya saya naik atas badannya sambil dia menghunuskan kemaluannya kekemaluan saya.

Saya cuba duduk perlahan atas kemaluannya di mana kemaluan saya cuba ditembusi oleh kemaluannya. Pada mulanya ada sedikit kesakitan, tapi dia pandai memainkan kemaluannya. Cukup pandai dia melakukan hinggakan saya sudah benar benar bernafsu. Ditolak kemaluannya dalam kemaluan saya sambil tangannya menggosok tetek saya.

Akhirnya semua kemaluannya masuk dalam kemaluan saya. Cukup padat saya rasa dan saya terduduk diam sebentar dalam beberapa saat dan lepas itu baru saya bergerak menunggang kemaluannya. Saya naik turun atas kemaluannya. Walaupun pada mulanya tadi sakit, tapi sekarang rasa cukup seronok menunggang batang besar ini.

Kemudian dia menolak dengan perlahan tubuh saya hingga saya pula terlentang atas tilam dan dia di atas. Dia terus menyetubuhi saya. Ditarik dan disorongnya kemaluannya itu dengan begitu lembut. Saya terjerit sambil kepala saya berpusing. Cukup hebat dia setubuhi saya. Saya benar benar lupa terus segala galanya.

Saya benar benar hilang perasaan saya waktu itu. Orang kulit hitam ini benar benar meratah tubuh saya dengan begitu hebat sekali. Saya hanya menyerah longlai diperlakukan dengan cara apa sekali pun. Saya serah sepenuhnya.

Entah berapa kali saya sampai pada malam itu, tak terkira. Begitu juga entah berapa banyak air mani yang dicurahkannya dalam kemaluan saya malam itu, saya tak tahu. Nak kata saya pengsan, tidak, tapi saya hanyut dibuainya. Berbagai cara dilakukan oleh David pada tubuh saya pada malam itu.

Sedang saya menghisap kemaluannya, tiba tiba pintu diketuk, dan berdiri Ramli disitu. Dia hanya bertanya saya okay ke? Saya kata ya. Rupanya saya telah berjam-jam berada dalam bilik itu bersama orang kulit hitam ini. Dan sejak kami masuk sampai diganggu oleh suami saya, kami tidak renggang dari bersetubuh atau hisap menghisap antara satu sama lain.

Bila suami saya lihat saya tidak apa-apa, dia pun keluar dari bilik itu. Kami terbaring berpelukan dan lepas itu dia naik semula atas tubuh saya dan memberi saya persetubuhan yang terakhir untuk malam itu. Saya terbaring terlentang sambil saya palang kaki saya pada punggungnya serta tangan saya memegang punggungnya saolah olah itu menekankan kemaluannya agar terus tersumbat dalam kemaluan saya. Saya terus menyerah.

Inilah kali pertama saya ditiduri oleh lelaki kulit hitam dan mungkin bukan yang terakhir.

Episod 3

Setelah agak lama kami ‘menumpang’ rumah Jake dan Linda, Noridah mencadangkan pada saya agar kami berpindah untuk cari rumah lain, walaupun rumah satu bilik. Bukan kerana kami bergaduh atau tidak puas hati dengan layanan Jake atau Linda, tetapi anak Jake telah kembali tinggal di rumah setelah tamat kursusnya.

Lagi pun, setelah Noridah dah lama sikit di sini, ramailah kawan kawan atau saudara mara juga yang tinggal di sini datang menziarahi kami. Agak sulit juga untuk kami melayan mereka dirumah orang. Lagi pun, kami sudah tidak lama lagi tinggal di sini, kerana pengajian saya hampir tamat.

Saya bersetuju dengan pandangan Noridah. Kami berbincang dengan Jake dan Linda. Mereka tiada halangan dalam hal ini. Sebaliknya, mereka pun sama sama membantu untuk mencari rumah. Akhirnya, kami dapat sebuah rumah diapartmen yang mempunyai dua bilik.

Bila sudah berpindah, selalu juga Jake dan Linda datang menemui kami, kerana kami tidak putuskan hubungan kami dengan mereka. Lagipun, bila saya ke kuliah, Noridah tinggal sendirian. Jadi bila Linda datang, bertemanlah dia. Ada ketikanya kami sekali sekala ke rumah mereka.

Aktiviti seks kami, berjalan terus, tiada halangan atau terputus. Jika dahulu berlaku di rumah Jake dan Linda, tapi kini, banyak berlaku di rumah kami. Bila Jake dan Linda datang, samaada Noridah berpindah bilik atau saya, atau kami tidur ramai ramai di ruang tamu. Tiada perubahan yang berlaku antara kami berempat.

Satu hari, saya rasa agak bosan sedikit di rumah, dan kebetulan Jake dan Linda ada hal lain dengan saudara mereka, Saya telah mengajak Noridah pergi ke sebuah kelab yang sering saya dan Jake pergi dahulu sebelum Noridah datang.

Noridah pun, ingin juga melihat lihat keadaan di sana. Noridah sekarang dah tak sama macam dia baru sampai. Pemikirannya dah sama macam saya. Atau dah sedikit lebih dari saya!!

Kami sampai di kelab tersebut agak awal, kerana tidak ramai orang yang ada di situ. Kami duduk dengan minta air, dan makanan, sambil dengar muzik. Sedikit demi sedikit orang datang, ada yang sendiri dan ada yang berpasangan. Ada ketikanya, saya dan Noridah keluar menari mengikut alunan muzik.

Setelah agak lama kami di tempat menari, kami datang semula ke tempat kami duduk. Terdapat seorang lelaki yang ada di tempat kami. Bila dia tahu itu tempat kami, dia bangun untuk berpindah, tapi kami kata tak perlulah. Boleh duduk bersama kami. Dia pun duduk semula. Katanya isterinya pergi ke bilik air.

Kami semua duduk dan berkenalan. Dia perkenalkan dirinya Derrick. Bila kami sebut nama kami Ramli dan Noridah, dia bertanya, dari Malaysia? Kami agak terperanjat, kerana saolah-olah dia tahu Malaysia atau kami. Tapi rupanya, isterinya orang Malaysia.

Tidak lama kemudian, datang seorang wanita di meja kami. Derrick perkenalkan isterinya, Zan. Zan ini orang Melayu, seperti kami. Nama penuhnya Norizan.

Pertama kali saya berjumpa orang Malaysia dalam kelab tersebut. Begitu juga dengan Derrick dan Zan. Kali pertama juga mereka jumpa pasangan Melayu disini. Kami terus berbual dengan mereka. Mereka berdua ini sedang bercuti di tempat Derrick dan akan balik ke Malaysia dalam sebulan lagi.

Dalam perbualan kami itu, kami tidak sentuh hal seks, kerana saya dan Noridah agak malu untuk menyentuhnya. Tapi mereka yang mula dahulu, dan tambahan pula tempat yang kami duduk ini adalah bermaksud untuk itu. Cara mereka bercakap, sangat menyenangkan kami. Kami tidak takut takut untuk berbual dengan mereka dan seolah-olah kami sudah kenal lama. Mengikut kata mereka, di Malaysia mereka ada bertemu beberapa pasangan lain, dan mereka telah lama berkecimpung dalam aktiviti ini.

Oleh kerana kami rasa senang dengan mereka, kami bercadang untuk bertukar pasangan dengan mereka, dan untuk kesenangan kami juga, kami jemput mereka datang ke rumah kami.

Sampai di rumah, kami duduk berbual di ruang tamu, sambil Noridah buat air. Bila Noridah datang, kami minum, dan makan sedikit kuih. Noridah duduk di sebelah saya, masih bertertib adat kita. Kemudian kami minum dari berbual. Banyaklah perkara diceritakan, maklumlah, jarang kami bertemu orang Malaysia.

Setelah minum, Derrick datang duduk sebelah Noridah, dan Ramli terpaksa bangun untuk pergi duduk sebelah Zan. Derrick terus berpeluk dengan Noridah, dengan Noridah membiarkan apa yang dibuat oleh Derrick.

Suami Noridah Ramli cuma memerhatikan saja apa yang berlaku didepannya. Siapa yang akan sangka, wanita yang pendiam, sekarang ini sedang bergomol dengan lelaki lain didepan suaminya.

Ramli pula, tidak mahu terbiar begitu saja. Dia pun terus memeluk Zan, isteri Derrick. Tak pernah bagi Ramli dapat wanita Melayu, selain dari isterinya Noridah, dan inilah kali pertama. Jika dahulu, asyik dengan mat salleh saja.

Kemudian, kelihatan Noridah memimpin Derrick menuju ke biliknya. Sambil melihat pada Ramli, dengan senyuman, dia terus membawa Derrick ke biliknya. Sambil Ramli sedang memeluk dan mencium Zan, Noridah akan bersama Derrick.

Masing-masing dengan pasangan masing. Derrick dan Zan balik ke rumah mereka, keesokkan harinya. Mereka berjanji akan berjumpa di Malaysia nanti.

Reply

Forward

garfield is not available to

Sarimah adalah rakan sekolahku sejak tingkatan 4 di Muar. Anak campuran mamak dengan jawa itu memang cantik macam artis Bollywood. Kulit hitam manis berambut panjang mengurai. Hidung mancung dan bibir menguntum mekar. Dadanya bidang dan menggunung dua bukit yang tegang. Punggungnya pula alahai gebunya dan sedikit tongget yang kata pakar seksual itulah tandanya betina kuat kongket.. kongket tu orang cina bilang main pukilah. Kat sekolah dulu dia aktif main bola jaring, bila pakai skirt alamak bebudak jantan duduk kumpul tepi padang sedang seluang celah kangkang naik tegang.

Bila lepas SPM, dia menghilang ke Kuala Lumpur dan dengar-dengar dah kahwin dengan anak orang kenamaan yang punya gedong perniagaan di negeri Antah Berantah.

Kaya beb… bila sesekali balik kampung menjalar kereta hitam tengah laman. Laki dia memang bergaya maklumlah anak orang kaya. Minum pagi kat KL dan malam pulak kat London. Orang cakap dia uruskan bisnes bapak dia. Pastinya banyaklah pelabuhan yang dia singgah untuk melabuh punggung dan membilang jalang eksklusif.

Sarimah tau itu tapi dia kena jaga imej orang berada untuk tumpang semangkok harta melimpah ruah mertua. Dia pun akhirnya turut bersikap liberal dalam pergaulan. Bila ikut keluar negara atau majlis ekslusif, bab arak dan pergaulan bebas bukan kepalang. Cuma dia masih mengunci cipapnya dengan cawat besi dari disentuh lelaki jalang yang sengaja mencari peluang. Laki-bini orang boleh bergaul macam sekawan kambing dalam reban.

Ada suatu hari dalam pesta menyambut Aidilfitri di luar negeri, ada Pak Arab dah mencuri pandangan kat Sarimah yang sedang menari di ruang galeri. Bila alunan muzik sentimental dibunyikan maka setiap pasangan meliuk-liuk di bawah sinar lampu kelam. Suaminya melepaskan pegangan untuk bertukar pasangan dan semua pasangan pun turut melilau cari regu gantian. Itulah budaya gila di malam bahagia kononnya sambutan aidilfitri.

Pak Arab itu akhirnya meluru menyambut tangan Sarimah dan terus mengatur langkah menari bagai terbangnya kupu-kupu malam di bawah neon yang berkelipan. Pak Arab memegang erat dan merapatkan tubuhnya besar ke dada Sarimah. Sarimah rasa gementar dalam rangkulan lelaki besar lagi asing itu. Dia rasa seperti kembali di zaman kanak-kanak dipeluk arwah bapanya.

Bukan begitu, lewat beberapa ketika Arab dah mula menggatai bila berani meramas pinggul gebu Sarimah. Sarimah cuba menepis tetapi dia perasan semua pasangan dah tenggelam timbul dalam arus muzik sentimental dan dalam kemalapan ruang geleri itu ada yang kelihatan macam bersatu.

Ekor matanya cuba mengesan di mana lakinya dalam puing-puing sampah yang hanyut dibuai asmara dana sumbang itu. Dia cuba menyanggah kebiadapan yang dipaksakan walaupun suasana semasa bagai diserasikan. Sarimah terfikir ke mana penghujungnya sendiwara gila yang sedang diaksikan di pentas ganas.

Adakah dia terpaksa merelakannya dan turut meraikan kelainan yang dicari-cari oleh pemburu nafsu? Inikah yang dikatakan ‘bertukar rasa’ oleh isteri-isteri orang kenamaan lainya?

Yaa.. dia mulai merasai bayu yang lemah gemalai bertiup di bawah aras kesedaran. Jauh di bawa terbang melintasi bukit bukau serta belentara hitam di tengah malam. Kesejukan malam di negara antah berantah itu tidak menyentuh kulit gebunya lantaran kepanasan rangkulan Pak Arab yang semakin miang.

Jari jemari kasar besar itu terus meramas, Sarimah terasa dibuai dan tidak berpijak di bumi nyata. Dia pasrah dalam kawalan pejantan asing itu. Babak lakunan salih berganti dalam vcd lucah yang pernah ditontonnya terus tertayang dalam benak kepalanya sedang high.. dia menyaksikan lelaki berbalak besar sedang menyondol lubang puki yang kebanjiran. Sorong tarik ganas sehingga menjuih kulit labia minora memang mengasyikkan.

Mungkinkah aksi itu bakal ia rasai.. itulah dalam kepala Sarimah kini. Dia terus membiarkan Pak Arab menjalari alur punggungnya dan bila jari kasar itu berlabuh ke bukit kembarnya, Sarimah menjarakkan rengangan untuk membuka laluan.

Ohhh.. nikmatnya dipelaku begitu dan dia benar-benar pasrah untuk merasai kelainan. Syahwatnya telah memuncak dan alur cipap tembamnya mulai dirempuh arus tsunami. Basah dan merimaskan.

Lepas satu-satu pasangan menghilangkan diri keluar dari medan basah itu. Kemana mereka? Fikir Sarimah sedang Pak Arab asyik memainkan punting teteknya setelah bra yang menutup gunungan emas itu dilondehkan. Setiap kali digintil atau payu daranya diramas maka ketika itu jugalah dia merasakan lendirnya membuak keluar. Basah lecun seluar dalamnya.

Pak Arab semakin galak dan mula mencari bibirnya, dia tewas bila lidahnya dihisap dan Sarimah memberi respon. Lidah jantan asing itu pula ia kulum hampir terjengket-jengket kakinya kerana ketidak samaan tinggi mereka. Arab itu hampir 6 kaki tinggi sedangkan Sarimah sekadar 5’ 4’’ sahaja. Dia memikirkan bagaimana boleh menahan bebanan gergasi itu atas ranjangan.

Sarimah tidak pasti samada suaminya masih di gelenggang itu atau turut lesap bersama pasangannya, siapa geranggan betina yang akan disula oleh suaminya.. adakah dia turut merestui atau mengetahui isterinya juga sedang diperjinakkan oleh jantan bak gergasi?

Kemalapan lampu di ruang legar geleri itu menyukarkan matanya melihat kelibat suaminya. Yang pasti pemburu-pemburu telah memasang badik atau untuk melepaskan panah dari busarnya. Sarimah persetan itu semua kerana masing-masing hanyut di persada keghairahan. Dia juga ingin merasai kelainan yang tidak pernah dimimpikan akan berlaku seperti itu.

Sarimah membayangkan radakan ganas batang Pak Arab menerobosi terowong farajnya yang terkemut-kemut untuk melulur mangsa. Biar sebesar mana kambing pun, ular sawa kacukan jawa-mamak itu memastikan mangsa akan bisa disedut semahunya. Dia ingin merasai lelubang basah itu dipadati oleh henyakkan paluan belantan Arab. Biar karam dan senak hingga ke pusatnya.

Kemudian, muzik mula sampai penghujungnya. Sarimah melepaskan dadanya dari rangkulan pejantan. Dia mundur dan Pak Arab tidak melepaskan pegangan. Pak Arab membisikkan sesuatu ke cuping telinga Sarimah. Sarimah faham dan di sudut hatinya masih rasa gementar.

Suaminya bagaimana? Dia terlupa Tuhan yang tidak pernah melupainya setiap saat. Dia dipimpin keluar dan di tepi-tepi jambangan bunga serta di beberapa sudut kelihatan dua sejoli bagai bersatu rapat. Paling mengejutkan ada yang sudahpun melayari bahtera sarat dalam gelombang samudera. Tindih menindih dan tidak kurang berposisi doggie. Renggekan sang buana lagak keldai kepayahan memunggang bebanan di padang pasir.

Dia terpimpin ke tempat letak kereta yang agak jauh dari banjingan mabuk itu. Namun kelihatan juga beberapa pasangan sudahpun terperangkap dalam kereta. Pak Arab membuka pintu Merc hitam yang bercermin gelap. Sarimah bagai dipukau hingga tanpa dipelawa terus membongkok tubuhnya masuk ke dalam kereta mewah itu. Dia terasa tangan Pak Arab meramas pinggulnya.

Pak Arab membuntutinya dari belakang. Tanpa berlengah terus menutup pintu kereta dan menerkam Sarimah. Nah, dia benar-benar menjadi gergasi kelahapan. Sarimah rebah disondol dan bibirnya dilumati oleh kucupan padu. Sarimah lemas dan terkangkang menahan asakan ganas.

Satu persatu pakaianya terlucut sehinggalah mereka benar-benar bertelanjangan. Sedikit cahaya dari lampu jalan raya berjaya menyusup masuk. Astagaaaa… hampir berpinau mata Sarimah apabila terpandang kote Pak Arab yang terlalu excellent… mampukah dia… 1001 teka teki mula meracuni otaknya. Belum pun berfikir untuk menjawab, kakinya mula dilipatkan ke dada oleh Pak Arab.. atas kerusi empuk kereta mewah itu punggungnya terbenam. Puki tembamnya merekah dan becak dilumuri lendir. Pak Arab mula menyondol ke farajnya.

Aahhhhhhh… begitu ganas dia menyondol bak babi tunggal membungkas batasan sawah. Dia menyedut baki-baki lendir di alur-alur basah. Lidah tebal menusuk ke lubang puki hingga terangkat punggung Sarimah. Lepas itu kelentitnya di mamah dan disedut hingga terasa nak tercabut dari pasaknya. Air seninya membuak-buak keluar hingga meleleh ke celah buritan.

Kemudian, sampailah saat dan ketikanya.. Pak Arab memasang kekuda dan melipatkan peha Sarimah kemas. Bibir puki tembamnya terselah dan membonjol. Sarimah sempat memegang kepala bana Pak Arab yang macam kepala sawa batik, runcing dan kembang di pangkal. Hampir sebesar penumbuknya.. Sarimah mendapati lilitan balak matang itu bukan mainan. Panjang dan membengkak. Kalau bibir farajnya membengkak maka lesung yang akan menghentak lubangnya bukan lawanan.

Nah… dia mula rapat dan Sarimah membetulkan posisi serta membantu sasaran torpedo. Bila terjamah… sarimah menutup matanya dan mengetip bibir… uhhhhhh…. Kemasukkan bak disula dan hampir mengoyak rabik kiri-kanan alur sungai di huluan. Percikan air dan lendir berkocak membasahi tebing yang dirimbuni rerumput. Padat dan penuh.

Sarimah merasakan kepuasan dan kenikmatan tak terhingga. Tak rugi dia turut merasai kelainan dan ubah rasa. Benarlah kata orang, kote Melayu sampai bila pun tidak dapat menandingi balak Arab, Negro atau Mat Salleh. Apa akan terjadi jika dia masih dara untuk dipasak begitu tentulah pecah sagu dek ruyung.

Sorong tarik mula diperlajukan.. bunyi kocak sungguh syahdu. Sarimah merasakan tahap nikmat melepasi alam maya. Kulit pukinya seolah-olah terikut keluar setiap kali ditarik. Pasakan kote panjang itu memang dalam dan menyenakkan. Sarimah terpaksa menahan asakan perut besar Pak Arab dari terus rapat bagi mengelakkan balak besar itu terbenam semua ke dalam farajnya.

Sarimah mengemut-ngemutkan pukinya apabila Pak Arab mula berhenti membetulkan kedudukan. Apabila terasa nikmat kemutan padu Sarimah lalu dia menerjah kembali dengan kuat hingga Sarimah terjerit. Hentakan badan besar itu semakin berat dan dia kelemasan. Puting tetek Sarimah terus dihisap dan tanda-tanda ‘love bite’ mula berkesan di celah-celah gunung tetek.

Sarimah mengetip bibir dan punggungnya bagai terlambung-lambung. Dadanya bagai pecah menahan gelora degupan jantung. Pukinya terkemut-kemut dan dia mula merasakan kemuncak klimaks yang terlalu getir…

Aaahhhaaaaaaaaaaaaa…. Dia terasa isi perutnya turut terbarai bersama klimaksnya. Pejantan biang itu terus menyondol ganas dan membalikkan tubuh Sarimah.

Kini Sarimah dalam posisi doggie dalam kereta mewah itu. Pantatnya disondol dari belakang pula, senak dan menggetarkan. Peluh sejuk meleleh keluar bersamaan lendir bercampur mani klimaks.. basah dan melumuri celah-celah punggungnya. Lubang pantatnya terbuka luas dan umpama terowong keretapi kini. Sorong tarik dan hentakan terus tanpa henti..

Hampir 20 minit dia terbongkok dihenyak begitu. Kemudian lagi sekali Sarimah mencapai klimaks… dia mula keletihan. Pak Arab masih meneruskan dayungan, pantatnya terasa lunyai dipalu sebegitu rupa. Tenaga Arab itu mengalahkan Kerbau jantan.. menghentak tanpa henti hampir sejam dan Sarimah terasa otot-otot longgar. Dia macam terlipat bila kemasukan balak sampai ke pangkal.. hampir terasa mencecah isi perutnya.

Proses memantat itu umpama piston sebuah lori yang keluar masuk. Semakin dipress laju semakin kuat kocakan. Bergoyang-goyang kereta mewah hitam. Tak lama kemudian, meletus tempikan gergasi itu,

Ahhhhhhhh…….. dia bingkas mencabutkan balaknya dari cipap Sarimah yang hampir lunyai… dia memulas kotenya dan menarik rambut Sarimah, Sarimah tersentah dari menonggeng dan mengadap senjata yang dihunus depan mukanya.

Pruttttt…. Ledakan bertih memutih ditabur ke mukannya.. bertompok-tompok dan meleleh ke bibir mungilnya.. payau dan panas. Dia menggenggam kepala balak itu dan cuba mengulumnya.. air seni yang banyak itu disedutnya.. kepala itu agak besar untuk dikulum.. sekadar menjilat-jilat kepala yang padat kental. Masih keluar membuak-buak sama seperti lendir di pantatnya.

Pak Arab duduk di sebelah Sarimah dan Sarimah masih membongkok menjilat kepala bana itu. Sarimah terasa sangat puas dan terasa sayang untuk melepaskannya.

Pak Arab pun menyarung semula pakaian dan sempat mengucup dahi Sarimah. Kote nya masih mengeras tetapi tidak segagah tadi. Sarimah membersih mukanya dengan tisu paper dan mengelap pukinya yang basah dengan seluar dalamnya. Dia juga menyarung semula pakaian. Kemudian mereka keluar kembali menuju dewan geleri.

Suaminya masih tiada. Sarimah duduk di kerusi sambil memerhatikan beberapa pasangan sedang menari mengikut muzik perlahan. Dia letih dan terasa ngilu di ari-arinya. Air mazinya masih keluar dan terasa membasahi seluar dalam.

Selang beberapa minit kemudian, dia terasa bahunya disentuh. Suaminya memberi isyarat untuk pulang. Jam di tangan sudah hampir 11 malam. Suhu malam semakin mendingin menggigit hingga ke tulang hitam. Dia bangun longlai sambil peluk suaminya. Dia terbau sesuatu dari baju suaminya yang lembab basah.. seperti bau air mani. Sarimah tidak berani bertanya dan kerana dia tau suaminya juga turut dalam pesta ubah rasa itu.

Dalam kereta, suaminya mengerling dan tersenyum…. Sarimah kaget dan membalas senyuman…

“Ok ke?” Keluar pertanyaan suaminya.

Sarimah kelu untuk berkata dan dia tak tau bagaimana nak menjawab pertanyaan itu.

“Kerja gila…” jawabnya perlahan.

“Abang tau, you puas kan?” balas suaminya selamba.

“Abang buat dengan siapa?” Giliran Sarimah pula bertanya.

“You jangan terkejut… abang dengan Robert… “

“Aa…? Abang main dengan gay ke?” Sarimah hampir tak terpercaya.

“Tak lah.. abang joint dia main dengan anak.. cantik.”

Sarimah terkelu… dan terlopong.

“Aabangggg…” dia terus melentuk ke bahu suaminya.
--

3 comments:

  1. Tentang “Pernikahan, Pria & Wanita”

    1. Orang yang membujang adalah orang yang belum menemukan penghibur duka dan dia baru memperolehnya dengan perkawinan.

    2. Suami adalah orang yang mencari kebahagiaan hidup dengan menghilangkan sebagian kemerdekaannya.

    3. Wanita menghadapi banyak permasalahan; sebagian teratasi dengan kawin dan sebagian yang lain teratasi setelah ia masuk liang kubur.

    4. Mata yang paling indah tetapi juga harus diwaspadai adalah mata kaum wanita.

    5. Jangan menyalahkan perasaan istri anda karena perasaannya yang terbaik ialah ketika ia menerima anda sebagai suami.

    6. Perawan tua ialah wanita yang kehilangan kesempatan menyusahkan seorang pria.

    7. Yang diinginkan seorang gadis dari dunia ini hanyalah seorang suami, dan apabila ia sudah memperolehnya, ia menginginkan segala-galanya.

    8. Wanita bisa memaafkan suatu pengkhianatan suaminya, tetapi dia tidak bisa melupakannya.

    9. Kecantikan wanita tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kemuliaan akhlak dan
    perilakunya.

    10. Sebelum kawin, wanita hafal seluruh jawaban dan sesudah kawin, ia hafal seluruh
    pertanyaan.

    11. Barangsiapa mengawini wanita karena hartanya, maka dia telah menjual kemerdekaannya.

    12. Wanita adalah bintang dan pelita bagi pria. Tanpa pelita, pria bermalam dalam kegelapan.

    13. Wanita lebih cepat daripada pria dalam menangis dan dalam mengingat peristiwa yang menyebabkan dia menangis.

    14. Wanita tertawa bila ia mampu dan menangis apabila ia menginginkansesuatu.

    15. Sirnalah kebahagiaan seorang wanita jika ia tidak mampu menjadikansuaminya kawan yang termulia.

    16. Wanita sangat berlebihan dalam mencintai dan membenci, dan tidakmengenal
    pertengahannya.

    17. Wanita selalu tergolong manusia halus dan lembut sampai saat diakawin.

    18. Tidak mungkin seorang pria hidup berbahagia tanpa didampingi olehistri yang mulia.

    19. Wanita hidup untuk berbahagia dengan cinta, sementara pria mencintai untuk hidup berbahagia.

    20. Kejeniusan wanita terletak di dalam hatinya.

    21. Seorang wanita yang bijaksana menambahkan gula pada kalimatnya setiap kali berbicara dengan suaminya, dan mengurangi garam pada ucapan suaminya.

    22. Cincin kawin adalah cincin termahal di dunia, sebab mengharuskan pemberinya mencicil harganya setiap bulan tanpa henti.

    23. Sesungguhnya tidak ada wanita yang sangat cantik, yang ada ialah kaum pria yang sangat lemah bila berhadapan dengan kecantikan.

    24. Bagi pria, yang terakhir kali mati ialah jantungnya dan bagi wanita adalah lidahnya.

    25. Wanita tidak diciptakan untuk dikagumi semua pria tetapi sebagai sumber kebahagiaan seorang suami.

    26. Pada waktu bertunangan, lelaki banyak berbicara dan perempuan mendengarkan. Pada saat perkawinan, perempuan berbicara dan pengantin lelaki mendengarkan.
    Sesudah perkawinan, suami dan istri banyak berbicara dan para tetangga mendengarkan.

    27. Setiap wanita mempunyai dua mata. Adapun wanita yang cemburu berlebihan mempunyai tiga mata. Satu di sebelah kanan, satu di sebelah kiri dan yang ketiga diarahkan kepada suami.

    28. Wanita pada umumnya takut akan tiga hal : tikus, munculnya uban dan wanita-wanita cantik yang menjadi saingannya.

    29. Istri yang bersikap jujur dan setia kepada suami meringankan setengah beban kehidupan suaminya.

    30. Seorang wanita menghadapi kesulitan apabila ia berada diantara pria yang dicintainya dan yang mencintainya.

    ReplyDelete
    Replies